Harga BBM Pertamax Diperkirakan Turun Bulan Juli, Merespons Turunnya Harga Minyak Dunia
Selasa, 23 Jun 2026, 15:32 WIBJAKARTA - Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi memperkirakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti pertamax akan turun pada Juli, merespons turunnya harga minyak dunia.
âMestinya, awal Juli ini pertamax akan diturunkan harganya,â ujar Fahmy ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.
Fahmy menyampaikan harga minyak dunia sekarang berada pada kisaran level 80 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, jauh lebih rendah setelah sempat melampaui level 100 dolar AS per barel pada puncak ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Saat itu, kata dia lagi, Iran menutup Selat Hormuz yang mengakibatkan kelangkaan minyak dunia. Setelah meredanya ketegangan antara Iran dengan AS, berikut dengan dibukanya Selat Hormuz, Fahmy menyampaikan harga minyak dunia mulai turun karena masalah kelangkaan minyak mulai teratasi.
Meskipun demikian, Fahmy menilai perundingan antara Iran dengan AS masih bersifat dinamis, sebab hasil dari perundingan tersebut belum menjamin adanya perdamaian.
âJadi, masih fluktuasi entah sampai kapan. Tetapi, khusus untuk Indonesia, kalau harga pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya,â ujar Fahmy lagi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpendapat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax berpotensi menurun seiring dengan pergerakan harga minyak dunia.
Purbaya menjelaskan perekonomian global mendapat harapan dari terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran.
Bila perdamaian itu terwujud, kata Purbaya, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan dapat membaik, biaya dana atau cost of fund makin kompetitif, dan investasi terus menguat.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan pemerintah tetap mengamankan alternatif sumber energi di tengah berlangsungnya perundingan antara AS dan Iran.
Meskipun perundingan tersebut memberi sinyal positif untuk bisa meredakan tensi di Timur Tengah dan membuka kestabilan harga minyak dunia, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menilai hubungan Iran dan AS masih dinamis.
Menurut dia, Indonesia tetap harus mengantisipasi berbagai kemungkinan.
âOptimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan,â ujar Anggia
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sekolah di Samasuru Terancam Terdampak Polemik? Ini Sikap Tegas Pemprov Maluku
-
Peluang Investasi EBT Terbuka, Aturan Jangan Menghambat
-
Isak Tangis Sambut Jenazah CPNS Korban Penembakan KKB di Jayawijaya
-
Gubernur DKI Minta Warga Terapkan 5M Setelah Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke Jakarta
-
Kapal Feri Terbakar di Lepas Pantai Filipina, 5 Orang tewas, 87 Hilang
-
Disdikbud Aceh Barat Pertimbangkan Libur Sekolah Dampak Karhutla
-
Dampak Abu Vulkanik Krakatau, 49 Penerbangan di Bandara Kualanamu Dibatalkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.