Tiga Aspek Ketahanan Bangunan dalam Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Minggu, 05 Jul 2026, 23:17 WIB

Kota Padang - Pakar dari Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar) Prof Mas Mera menekankan pentingnya memperhatikan tiga aspek terkait ketahanan bangunan dalam memitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir.

"Pertama, identifikasi gaya dominan," kata dia di Padang, Minggu.

Ket. Foto: Pakar dari Fakultas Teknik, Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat (Sumbar) Prof Mas Mera. — Sumber: Antara

Identifikasi gaya dominan ini bertujuan untuk memahami apakah masalah utama energi gelombang tegak lurus atau transpor sedimen sejajar pantai. Kedua, kesesuaian tipologi yakni tidak memaksakan satu jenis struktur (seperti groin) jika karakteristik alam membutuhkan struktur lain seperti pemecah gelombang (breakwater).

Aspek ketiga yang mesti diperhatikan dalam membangun serta memitigasi bencana hidrometeorologi di bibir pantai ialah sinkronisasi kinerja di mana perlunya memastikan posisi struktur bangunan mampu memicu akresi atau penambahan lahan secara alami.

Dalam penelitian dan studi komparatifnya, Prof Mas Mera mengatakan jika sebuah pantai memiliki masalah abrasi akibat gelombang tegak lurus yang kemudian dipaksakan membangun groin namun tipologinya salah, selain tak efektif menahan abrasi juga membahayakan keselamatan masyarakat karena memicu timbulnya rip current buatan di sepanjang sisi struktur.

"Pantai tersebut akan sangat berbahaya bagi masyarakat dan wisatawan yang berenang," ujar guru besar bidang ilmu mekanika fluida dan hidrolika, Unand tersebut.

Ia mengatakan permasalahan utama kegagalan fungsional infrastruktur pelindung bukan karena kualitas material, melainkan ketidaktepatan pemilihan tipologi bangunan akibat kurangnya pemahaman terhadap mekanisme kerja fisik struktur dalam merespons energi hidraulika lokal.

Ia mencontohkan kegagalan fungsional akibat ketidaktepatan tipologi ini terbukti berhasil diatasi melalui rekayasa berbasis karakteristik alam. Di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam bangunan groin konvensional yang tidak efektif menahan gelombang tegak lurus dimodifikasi menjadi T-Head Groin.

Penambahan kepala groin ini berhasil mengonversi fungsi struktur menjadi pemecah gelombang yang menciptakan zona tenang dan memicu sedimentasi masif, ucap dia.

Secara teori, katanya, bangunan groin hanya cocok untuk arus sejajar pantai. Sedangkan untuk gelombang yang datang tegak lurus terhadap pantai, pemecah gelombang merupakan pilihan yang cocok sebagai struktur pelindung. Di belakang pemecah gelombang akan terbentuk tombolo sehingga area tersebut bisa ditanami pohon.

"Selain itu, pantai di belakangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermain wisatawan termasuk anak-anak," ujar dia.

  • bencana hidrometeorologi

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.