Gelombang Panas Kembali Ancam Wimbledon, Panitia Siapkan Langkah Khusus untuk Pemain dan Penonton
Sabtu, 04 Jul 2026, 00:06 WIBLONDON â Panitia Wimbledon kembali bersiap menghadapi lonjakan suhu di London pada pekan kedua turnamen setelah prakiraan cuaca menunjukkan temperatur akan kembali menembus 30 derajat Celsius. Kondisi tersebut memaksa penyelenggara meningkatkan berbagai langkah antisipasi demi menjaga kenyamanan dan keselamatan pemain maupun penonton.
Gelombang panas yang melanda Inggris pada pekan lalu bahkan mencatatkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni, yakni sekitar 37 derajat Celsius, jauh di atas suhu normal saat Wimbledon dimulai yang berkisar di pertengahan 20 derajat Celsius.
Dengan banyak tribun yang sepanjang hari terpapar sinar matahari langsung, All England Club meningkatkan sosialisasi kepada penonton mengenai cara menghadapi cuaca ekstrem. Pengunjung diimbau lebih sering berteduh, menggunakan topi, mengoleskan tabir surya, serta menjaga asupan cairan selama berada di area pertandingan.
Panitia juga menambah jumlah titik pengisian air minum gratis di berbagai sudut kompleks Wimbledon agar penonton dapat tetap terhidrasi selama menyaksikan pertandingan.
Tak hanya penonton, para pemain juga mendapat perlindungan melalui aturan cuaca panas (Heat Rule) yang diterapkan dalam turnamen.
Sesuai regulasi Wimbledon, pemain dapat meminta jeda pertandingan selama 10 menit, atau 15 menit untuk nomor kursi roda, apabila Heat Stress Index (HSI) mencapai 30,1 derajat Celsius atau lebih. Aturan ini dirancang untuk mengurangi risiko dehidrasi maupun gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem.
Dengan jadwal pertandingan yang semakin padat memasuki pekan kedua, kemungkinan penerapan aturan tersebut kembali terbuka jika suhu terus meningkat.
Gelombang panas juga berdampak pada kehidupan para pemain di luar lapangan.
Joanna Doniger, pendiri Tennis London, agen penyedia akomodasi mewah bagi petenis Wimbledon selama lebih dari tiga dekade, mengungkapkan bahwa lonjakan suhu memicu permintaan mendadak terhadap unit pendingin ruangan (air conditioner/AC).
Menurutnya, banyak pemain yang menyewa rumah pribadi di sekitar Wimbledon baru menyadari perlunya AC ketika suhu melonjak drastis beberapa hari sebelum turnamen dimulai.
"Hal itu sering terjadi pekan lalu. Para pemain menghubungi saya pada Selasa dan meminta unit AC. Sayangnya, perusahaan penyewaan sudah kehabisan stok. Sedikitnya 20 pemain tidak mendapatkannya dan akhirnya hanya menggunakan kipas angin," ujar Doniger.
Namun, ia memperkirakan masalah tersebut tidak akan terlalu terasa pada pekan kedua karena sebagian besar pemain yang masih bertahan kini sudah memiliki perlengkapan yang memadai untuk menghadapi cuaca panas.
Tennis London mengelola sekitar 250 properti di kawasan Wimbledon yang berjarak maksimal 20 menit berjalan kaki dari kompleks All England Club. Perusahaan tersebut melayani sejumlah petenis papan atas dunia, media internasional, hingga sponsor resmi turnamen.
Harga sewanya pun tidak murah. Untuk rumah berukuran besar, biaya sewa selama Wimbledon bisa mencapai 25.000 poundsterling atau sekitar 560 juta rupiah per pekan.
Meski demikian, menurut Doniger, pendingin ruangan bukan satu-satunya fasilitas yang dicari para pemain.
"Properti harus memiliki WiFi yang cepat, televisi layar besar, dan tempat tidur berukuran besar yang benar-benar nyaman," katanya.
Di luar faktor kenyamanan, Doniger juga mengungkapkan adanya kebiasaan unik di kalangan petenis profesional.
Banyak pemain percaya bahwa rumah yang pernah membawa keberuntungan sebaiknya digunakan kembali pada tahun berikutnya.
Sebaliknya, jika mengalami hasil buruk saat menginap di suatu tempat, mereka cenderung enggan kembali ke rumah tersebut.
"Kalau mereka tampil bagus saat tinggal di sebuah rumah, biasanya mereka ingin menyewa rumah yang sama lagi. Tetapi kalau hasilnya buruk, mereka tidak ingin melihat keempat sudut rumah itu lagi," ujar Doniger sambil tersenyum.
Dengan suhu yang diperkirakan kembali meningkat pada pekan kedua, Wimbledon kembali menghadapi tantangan di luar pertandingan. Di tengah persaingan menuju gelar Grand Slam, menjaga kondisi fisik akibat cuaca ekstrem kini menjadi faktor penting yang bisa memengaruhi performa para pemain di lapangan.
- Grand Slam Wimbledon
- Cuaca Panas ekstrem
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Kejar Target 0 Persen Kemiskinan Ekstrem, Pemerintah Petakan 88 Kabupaten/Kota
-
PSBS Biak Tak Lolos Lisensi
-
Kemnaker Uji 2.100 Calon Ahli K3 Umum Batch 2 untuk Perkuat Budaya Keselamatan Kerja.
-
Swiatek Mulai Bangkit di Tanah Liat
-
Digambarkan Seolah Membunuh Istri, Gugatan Penyelam Kuba Atas Film Netflix Ditolak Pengadilan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.