Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

B50 Punya Potensi Besar, Ekonom Ingatkan Disiplin Fiskal

📅 Sabtu, 04 Jul 2026, 07:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
B50 Punya Potensi Besar, Ekonom Ingatkan Disiplin Fiskal Doc: ANTARA/ Putu Indah Savitri.
Ket. Tangki penyimpanan B40, B50, dan B100 di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 Lembang, Jawa Barat.

JAKARTA – Implementasi B50 menjadi langkah penting dalam upaya Indonesia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat pemanfaatan energi berbasis sumber daya lokal.

Dengan meningkatkan campuran biodiesel hingga 50 persen, pemerintah tidak hanya berupaya menekan impor solar, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi industri kelapa sawit dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Di sisi lain, keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan pasokan biodiesel, tetapi juga kesiapan infrastruktur distribusi, kualitas bahan bakar, serta kemampuan industri otomotif untuk menyesuaikan teknologi mesin.

Jika implementasinya berjalan konsisten, B50 berpotensi menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman berpendapat implementasi B50 terbilang strategis, namun tetap harus memperhatikan disiplin fiskal.

“B50 layak secara strategis untuk ketahanan energi, tetapi secara fiskal harus dijalankan dengan disiplin,” kata Rizal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Dalam konteks makro, kata dia, kebijakan B50 berpotensi memberi manfaat devisa yang besar karena dapat menekan impor solar.

Pemerintah memperkirakan penghematan impor dari B50 pada 2026 mencapai sekitar Rp157,28 triliun, lebih tinggi dibanding skenario B40 sekitar Rp139,8 triliun.

Namun, Rizal menilai angka tersebut tak bisa serta merta dianggap sebagai penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pasalnya, penghematan terjadi pada devisa dan impor energi, sementara biaya program muncul melalui insentif biodiesel, dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), potensi kompensasi energi, serta risiko selisih harga antara minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan solar fosil.

“Perhitungan gross, secara manfaat devisa B50 kemungkinan lebih besar dibanding biaya langsung program. Tetapi secara fiskal, manfaatnya tidak otomatis lebih besar bagi APBN,” jelasnya.

Dia menyebut kunci keuntungan B50 terletak pada selisih harga CPO dengan diesel atau gasoil.

Jika harga minyak dunia tinggi dan harga CPO relatif terkendali, B50 akan lebih ekonomis karena impor turun, tekanan neraca transaksi berjalan berkurang, dan kebutuhan subsidi atau kompensasi BBM bisa ditekan.

Namun jika harga minyak turun sementara CPO tetap mahal, maka selisih harga harus ditutup melalui insentif biodiesel.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
Nasional
Ketua DPD RI Ungkap RUU Kad...
Megapolitan
Cuaca Jakarta Hari Ini, Jum...

Sudan Nyatakan Patuh pada Larangan Senjata Kimia

45 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Sudan Nyatakan Patuh pada L...
Luar Negeri
Raja Malaysia Titahkan Seko...
Luar Negeri
Ekonomi Jepang Tancap Gas, ...
Advertisement
Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

08 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.