Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

12 Provinsi Masuk Zona Rawan Longsor, Ini Daftar Wilayahnya

28 Kamis, 08 Okt 2026, 16:50 WIB | Oleh:
12 Provinsi Masuk Zona Rawan Longsor, Ini Daftar Wilayahnya 12 Provinsi Masuk Zona Rawan Longsor, Ini Daftar Wilayahnya Doc: BMKG
Ket. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan ribuan wilayah di Indonesia yang berpotensi mengalami pergerakan tanah selama Oktober 2026. Sebanyak 4.850 kecamatan yang tersebar di 443 kabupaten/kota dari 38 provinsi masuk dalam pemetaan potensi pergerakan tanah kategori menengah hingga tinggi.

JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan ribuan wilayah di Indonesia yang berpotensi mengalami pergerakan tanah selama Oktober 2026. Sebanyak 4.850 kecamatan yang tersebar di 443 kabupaten/kota dari 38 provinsi masuk dalam pemetaan potensi pergerakan tanah kategori menengah hingga tinggi.

Berdasarkan klasifikasi Badan Geologi, sebanyak 2.058 kecamatan berada dalam kategori kerawanan menengah. Sementara itu, 2.751 kecamatan masuk kategori menengah-tinggi dan 41 kecamatan lainnya berada dalam kategori kerentanan tinggi.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan hasil tumpang susun atau overlay peta kerentanan menunjukkan terdapat 12 provinsi yang memiliki wilayah dengan potensi longsor kategori tinggi pada Oktober ini. Pemetaan tersebut menjadi bagian dari peringatan dini agar pemerintah daerah dapat menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi bencana.

Berikut 12 provinsi yang memiliki wilayah dengan potensi longsor kategori tinggi:

  1. Aceh
  2. Bengkulu
  3. Sumatra Utara
  4. Jawa Tengah
  5. DI Yogyakarta
  6. Gorontalo
  7. Sulawesi Tenggara
  8. Sulawesi Utara
  9. Nusa Tenggara Timur (NTT)
  10. Papua Barat Daya
  11. Papua Tengah
  12. Papua Pegunungan

Selain potensi longsor, Badan Geologi juga mendeteksi 405 kecamatan di 18 provinsi yang berpotensi mengalami banjir bandang atau aliran bahan rombakan. Wilayah dengan sebaran potensi tersebut paling banyak berada di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Di sisi lain, kondisi iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena El Niño Sangat Kuat dengan nilai indeks ENSO mencapai +2,20 yang diprediksi bertahan hingga awal 2027.

Kondisi tersebut berdampak pada mundurnya awal musim hujan di sebagian wilayah Indonesia. BMKG memproyeksikan sebanyak 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen wilayah daratan Indonesia, mengalami kemunduran awal musim hujan dibandingkan kondisi normal.

Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan baru memasuki musim penghujan secara bertahap pada November dan Desember. Perubahan tersebut diperkirakan dimulai dari wilayah Sumatra bagian utara.

Meski musim hujan diprediksi berlangsung lebih singkat, BMKG memperingatkan curah hujan bulanan tetap berada pada kategori normal atau mendekati rata-rata klimatologis. Kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena hujan dengan intensitas sangat tinggi dapat terjadi dalam waktu singkat.

Risiko tersebut terutama perlu diperhatikan ketika memasuki periode puncak musim penghujan pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Akumulasi air dalam jumlah besar pada lereng terjal dan wilayah vulkanik yang belum terkonsolidasi dengan baik dapat meningkatkan potensi terjadinya gerakan tanah.

Kondisi tersebut juga dapat memicu bencana susulan berupa banjir lahar dingin. Salah satu wilayah yang disebut perlu mendapat perhatian adalah sistem aliran sungai di lereng Gunung Talang.

Kombinasi peta kerentanan Badan Geologi dan prediksi iklim BMKG dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah mitigasi. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan memperhatikan jalur aliran sungai serta titik-titik yang memiliki potensi bahaya.

Faktor geomorfologi juga menjadi salah satu hal yang menentukan tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap gerakan tanah. Kondisi lereng dapat menjadi faktor pengontrol sebelum hujan ekstrem bertindak sebagai pemicu terjadinya pergerakan massa tanah.

Karena itu, pemasangan sistem peringatan dini atau early warning system menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan di wilayah rawan. Pembangunan struktur pengendali seperti sabo dam juga diperlukan pada titik tertentu untuk membantu mengurangi risiko bencana dan dampaknya terhadap masyarakat.

Pemetaan potensi pergerakan tanah tersebut diharapkan dapat menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama di wilayah yang masuk kategori kerentanan tinggi dan berpotensi mengalami longsor maupun bencana ikutan saat curah hujan tinggi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Satgas BGC TNI Konga XXXIX-...

Persib Bandung Unggul 2-0 Atas Melbourne Victory

55 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Persib Bandung Unggul 2-0 A...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.