Fantastis! Belanja Iklim Pemerintah Tembus Rp73,5 Triliun Setiap Tahun, Mampukah Redam Ancaman Krisis Lingkungan?
Selasa, 30 Jun 2026, 17:50 WIBJAKARTA â Belanja pemerintah untuk mengatasi permasalahan iklim semakin dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran fiskal.
Alokasi anggaran yang tepat sasaran dapat memperkuat ketahanan terhadap bencana, mempercepat transisi energi, mendukung pembangunan rendah karbon, serta mengurangi potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim.
Tantangannya terletak pada efektivitas implementasi, koordinasi antarlembaga, dan kemampuan memastikan setiap rupiah anggaran menghasilkan dampak nyata bagi pengurangan emisi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Plt Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Herman Saheruddin mengungkapkan rata-rata pengeluaran pemerintah untuk mengatasi permasalahan iklim mencapai Rp73,5 triliun per tahun selama periode 2018-2024.
âBelanja terkait iklim mencapai sekitar 3 persen dari APBN, dengan rata-rata pengeluaran tahunan lebih dari Rp70 triliun,â ujar Herman Saheruddin dalam Maybank Indonesia Sustainable Finance Forum 2026 di Jakarta, Selasa (30/6).
Ia menuturkan nominal tersebut mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk mengatasi permasalahan iklim. Namun, hal tersebut juga menunjukkan masih besarnya kesenjangan pembiayaan terkait iklim.
Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia membutuhkan Rp794 triliun hingga Rp800 triliun per tahun untuk mencapai target nol emisi (Net Zero Emission/NZE) pada 2060.
âOleh karena itu, belanja publik tidak boleh dipandang sebagai solusi akhir, melainkan sebagai katalis yang mendorong partisipasi lebih besar dari sektor swasta,â katanya.
Herman menyatakan pemerintah memposisikan APBN bukan sebagai sumber utama pembiayaan iklim, tapi sebagai katalis yang mengurangi risiko investasi, memperkuat kepercayaan investor, dan mendorong partisipasi yang jauh lebih besar dari sektor swasta.
Pihaknya pun meyakini bahwa pembangunan berkelanjutan hanya akan berhasil apabila pemerintah dan para pelaku pasar mampu membangun kerja sama yang solid untuk mengatasi permasalahan iklim.
Hal tersebut karena diperlukan ekosistem pembiayaan yang komprehensif, terdiversifikasi, dan kolaboratif untuk merealisasikan target iklim Indonesia.
âKarena itu, Indonesia telah mengembangkan arsitektur pembiayaan iklim yang menggabungkan sumber daya dari sektor publik dan swasta, serta dari mitra domestik maupun internasional,â ucap Herman.
Ia menuturkan dari sisi pembiayaan publik, pembiayaan iklim didukung melalui APBN, belanja pemerintah daerah, insentif fiskal, dan instrumen pembiayaan inovatif seperti Green Sukuk (sukuk hijau), SDG Bonds, Blue Bonds (obligasi biru), serta Disaster Pooling Fund (dana bersama penanggulangan bencana).
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong peningkatan dukungan dari sektor perbankan, pasar modal, pasar karbon, filantropi, investasi korporasi, blended finance (bauran pembiayaan), serta kerja sama internasional melalui bank pembangunan multilateral, mitra bilateral, dan lembaga keuangan internasional.
âSetiap sumber pembiayaan harus saling melengkapi agar aksi iklim dapat dilaksanakan pada skala kecepatan yang dibutuhkan,â tutur Herman.
- APBN
- Pengelolaan Anggaran
- belanja iklim
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pertemuan Paus Leo XIV dan Menlu AS Marco Rubio di Vatikan
-
Pemkot Tasikmalaya Terapkan Uji Coba CFD dan WFH untuk ASN
-
Polres OKU Distribusikan Makan Bergizi Gratis untuk 2.400 Penerima
-
Pemerintah Genjot Bedah 400 Ribu Rumah untuk Masyarakat
-
Menaker: BLK Kini Tak Sekadar Tempat Pelatihan, tapi Juga Inkubator Bisnis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.