Berobat Tanpa Rasa Malu dan Layanan Kesehatan Lengkap: RS Jiwa Menur Surabaya Kini Bertransformasi Jadi RSD Prof. dr. Moeljono
Selasa, 30 Jun 2026, 00:00 WIBSURABAYA â Pemerintah Provinsi Jawa Timur resmi melakukan transformasi besar terhadap RS Menur dengan meluncurkan identitas baru sebagai RSD Prof. dr. Moeljono. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghapus stigma yang selama puluhan tahun melekat di masyarakat bahwa rumah sakit tersebut hanya melayani pasien dengan gangguan kejiwaan.
Peresmian dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026 dan dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Khofifah menegaskan, pergantian nama bukan sekadar perubahan identitas, melainkan penegasan bahwa rumah sakit tersebut kini telah berkembang menjadi rumah sakit dengan layanan kesehatan yang lengkap.
"Selama ini masih banyak masyarakat yang mengidentikkan Menur sebagai rumah sakit jiwa. Padahal saat ini layanan yang tersedia sudah sangat komprehensif, mulai dari kesehatan mental hingga berbagai layanan medis umum," ujar Khofifah, Senin (29/6).
Menurutnya, berbagai fasilitas kesehatan terus diperbarui, termasuk ruang perawatan VIP dan sejumlah layanan spesialistik yang telah dimanfaatkan masyarakat luas. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak lagi ragu menjadikan rumah sakit tersebut sebagai pilihan untuk memperoleh layanan kesehatan.
Bersamaan dengan rebranding rumah sakit, Pemprov Jatim juga meluncurkan Pelita ASN, sebuah layanan konsultasi dan pendampingan keluarga bagi aparatur sipil negara. Program ini dirancang untuk membantu ASN menyelesaikan persoalan keluarga sejak dini sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar, termasuk perceraian.
"Kalau persoalan masih bisa diselesaikan melalui konsultasi yang tepat, tentu akan lebih baik. Kami ingin membantu agar ketahanan keluarga tetap terjaga," kata Khofifah.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengapresiasi langkah Pemprov Jatim yang menggabungkan penguatan layanan kesehatan dengan upaya memperkuat ketahanan keluarga. Menurutnya, tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak menunjukkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam membangun keluarga yang sehat secara fisik maupun mental.
Direktur RSD Prof. dr. Moeljono, Vitria Dewi, mengatakan perubahan identitas rumah sakit merupakan bagian dari strategi untuk menghilangkan rasa takut maupun malu masyarakat saat ingin berobat.
Menurutnya, stigma sebagai rumah sakit jiwa selama ini membuat sebagian masyarakat enggan datang, padahal rumah sakit telah memiliki banyak layanan spesialis di luar kesehatan mental.
"Harapan kami, masyarakat semakin nyaman mengakses seluruh layanan kesehatan yang tersedia tanpa dibayangi stigma yang selama ini melekat," ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental pada anak dan remaja yang banyak dipicu konflik keluarga, kurangnya perhatian orang tua, hingga perceraian. Karena itu, dukungan keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam proses pemulihan pasien.
Melalui transformasi identitas rumah sakit dan penguatan layanan keluarga melalui Pelita ASN, Pemprov Jawa Timur berharap akses layanan kesehatan semakin inklusif, bebas stigma, serta mampu mendukung terwujudnya masyarakat yang sehat jasmani dan rohani menuju Indonesia Emas 2045.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Iran Ogah Berunding Dibawah Blokade
-
Ratusan Eks Karyawan Situbondo Belum Terima Hak, Perusahaan Janji Bayar Dicicil
-
Dibangun dari Tuban Sampai Gresik, Khofifah dan Wamen KP Bahas Percepatan Pembangunan Giant Sea Wall
-
Barasuara Tampil di Nipah Park Makassar, Pengunjung Melonjak 21 Persen Tembus 11 Ribu
-
Wang Uji Ketangguhan Alexandra Eala
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.