Perwakilan 16 Negara Manggut-manggut Dengarkan Paparan Pertanian Banyuwangi

Jumat, 26 Jun 2026, 11:54 WIB

BANYUWANGI – Wakil-wakil dari 16 negara mendengarkan dengan serius paparan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, terkait kondisi pertanian dan perkebunan. Perwakilan mencapai 36 orang yang mengikuti Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs) di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kegiatan ini digelar hasil kerja sama antara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University.  Mereka mempelajari berbagai praktik pengelolaan pertanian dan perkebunan, terutama industri kayu di Banyuwangi, selama empat hari (24–27 Juni 2026).

Ket. Foto: pertanian — Sumber: ist

"Banyuwangi dikelilingi tiga taman nasional, yakni Alas Purwo, Meru Betiri dan Baluran dan kawasan konservasi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program, termasuk perhutanan sosial," kata Bupati Ipuk saat menerima kunjungan puluhan perwakilan dari 16 negara itu di Pendopo Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis (25/6) malam.

Dalam kesempatan itu, Ipuk menyampaikan bahwa pemerintah setempat tidak hanya berupaya mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan, akan tetapi juga terus berupaya melibatkan masyarakat setempat untuk tumbuh bersama.

"Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini kita bisa saling berbagi praktik-praktik baik dan tentunya membuka peluang kerja sama yang lebih luas," kata Bupati Ipuk.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri, Erma Rheindrayani menjelaskan bahwa peserta berasal dari unsur pemerintah, akademisi, diplomat, hingga pelaku usaha yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian dan perkebunan berkelanjutan, khususnya industri pengolahan kayu.

"Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya, pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao," katanya.

Kepala CTSS IPB University, Prof Damayanti Buchori menambahkan program peningkatan kapasitas ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan mengenai pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan dan berdaya saing.

Selain itu, lanjut dia, kegiatan ini juga bertujuan untuk mendorong pertukaran pengalaman, memperkuat jaringan kerja sama, serta mengembangkan kolaborasi antarnegara dalam menghadapi tantangan keberlanjutan di sektor kehutanan dan perdagangan kayu global.

"Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia," kata Prof Damayanti Buchori.

  • Bangun Pertanian

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.