Rupiah Tertekan dan Suku Bunga Tinggi, Defisit APBN 2026 Jadi Penopang Kepercayaan Pasar

Jumat, 19 Jun 2026, 18:40 WIB

Jakarta – Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan masih tingginya suku bunga global, target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dijaga pada level 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan defisit yang tetap berada di bawah batas maksimal 3 persen menunjukkan komitmen pemerintah terhadap disiplin fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ket. Foto: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6). — Sumber: Antara

“Target defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB, yang masih di bawah batas 3 persen, menjadi modal penting untuk menjaga persepsi positif pasar,” kata Rizal di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurut Rizal, kepercayaan pasar saat ini sangat ditentukan oleh kredibilitas kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah. Dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan, investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana, sehingga biaya pembiayaan pemerintah berpotensi meningkat.

Ia menjelaskan sejumlah faktor masih membayangi sentimen pasar, antara lain BI-Rate yang berada di level 5,75 persen, nilai tukar rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.900 per dolar AS, serta suku bunga global yang relatif tinggi.

Kondisi tersebut membuat investor semakin selektif dalam menanamkan modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika persepsi risiko meningkat, biaya pendanaan pemerintah melalui penerbitan surat utang juga berpotensi ikut naik.

Dalam situasi seperti itu, disiplin fiskal menjadi faktor kunci untuk menjaga kepercayaan investor. Target defisit APBN yang tetap berada di bawah ambang batas 3 persen dinilai memberikan sinyal positif bagi pasar.

“Asalkan diikuti konsistensi kebijakan fiskal dan reformasi struktural,” ujar Rizal.

Ia menambahkan, pemenuhan kebutuhan pembiayaan negara tidak cukup hanya mengandalkan penerbitan utang baru. Pemerintah juga perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, pendalaman pasar keuangan domestik, serta peningkatan efektivitas belanja negara.

Langkah tersebut dinilai semakin penting mengingat beban bunga utang dalam APBN 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp600 triliun. Dengan beban bunga yang besar, kenaikan imbal hasil (yield) surat utang berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai berbagai program prioritas.

Optimalkan Penerimaan Negara

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan desain defisit APBN Tahun Anggaran 2027 berada pada kisaran 1,8 persen hingga 2,4 persen terhadap PDB.

"Postur makro fiskal tahun 2027 didesain secara kolaboratif, terarah, dan terukur dengan defisit 1,8 persen sampai dengan 2,4 persen PDB," kata Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI di Jakarta.

Rentang defisit tersebut ditopang oleh target pendapatan negara sebesar 11,82 persen hingga 12,40 persen PDB dan belanja negara sebesar 13,62 persen hingga 14,80 persen PDB.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan penerimaan negara melalui perluasan basis pajak dan peningkatan nilai tambah pengelolaan sumber daya alam. Penguatan sistem perpajakan yang adaptif terhadap perubahan struktur ekonomi juga terus dilakukan.

Pemerintah juga memanfaatkan teknologi dan analisis big data untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak, memperkuat pengawasan, memperluas basis perpajakan, serta mengoptimalkan potensi penerimaan negara secara berkelanjutan.

Di sisi lain, insentif fiskal tetap akan diberikan secara terarah, selektif, dan terukur kepada sektor-sektor strategis yang memiliki nilai tambah tinggi bagi perekonomian nasional.

Dari sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), optimalisasi dilakukan melalui penguatan penerimaan berbasis sumber daya alam, peningkatan tata kelola yang transparan dan akuntabel, inovasi layanan publik, serta penguatan pengawasan dan penegakan hukum.

  • defisit APBN

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.