- Home
-
- Luar Negeri
-
- The Fed Diprediksi Tahan S...
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga Meski Inflasi Masih Tinggi
Kamis, 18 Jun 2026, 00:18 WIBKebijakan Moneter
WASHINGTON DC â Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan yang berakhir Rabu (17/6), di tengah lonjakan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi akibat gejolak geopolitik.
Dilansir dari AFP, Pertemuan tersebut menjadi yang pertama dipimpin Kevin Warsh sebagai kepala The Fed.
Warsh memimpin rapat dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), dengan keputusan suku bunga dijadwalkan diumumkan pukul 14.00 waktu setempat.
Inflasi AS pada April mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kenaikan harga dipicu oleh dampak perang yang dipimpin Presiden AS Donald Trump terhadap Iran, yang mendorong lonjakan harga energi dan memicu efek berantai ke berbagai sektor ekonomi.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja yang semakin kuat membuat para pembuat kebijakan The Fed semakin khawatir terhadap tekanan inflasi.
Kondisi tersebut membuka peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan-pertemuan berikutnya guna meredam laju kenaikan harga.
Langkah itu berpotensi memicu ketegangan baru dengan Presiden Trump yang selama beberapa bulan terakhir secara terbuka mendesak The Fed memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meski sebelumnya Warsh dikenal mendukung pemotongan suku bunga, para analis memperkirakan ia akan mengambil pendekatan lebih hati-hati pada pertemuan perdananya sebagai pimpinan bank sentral.
âSaya rasa dia akan berada di kubu yang menunggu dan melihat,â kata Dan North dari Allianz Trade.
âSangat sulit untuk membenarkan pemotongan suku bunga ketika inflasi sudah di depan mata.â Meskipun pasar hampir yakin suku bunga akan dipertahankan pada kisaran 3,50â3,75 persen, perhatian investor tertuju pada bahasa yang digunakan The Fed dalam pernyataan resminya.
Sedikitnya empat dari 12 anggota FOMC yang memiliki hak suara dikabarkan mendukung perubahan komunikasi untuk memberi sinyal bahwa langkah berikutnya bisa berupa kenaikan maupun penurunan suku bunga, tergantung perkembangan ekonomi.
Warsh sendiri sebelumnya mengkritik praktik panduan kebijakan jangka depan (forward guidance) karena dinilai membatasi fleksibilitas bank sentral dalam merespons perubahan kondisi ekonomi.
Namun, para ekonom memperkirakan perubahan besar belum akan dilakukan dalam waktu dekat.
âLingkungannya mungkin akan lebih terpecah-pecah,â kata Kepala Ekonom EY-Parthenon Greg Daco kepada AFP.
âPada tahap awal ini, ia mungkin akan menyarankan beberapa perubahan pada komunikasi, dan kita mungkin berada di tahap awal pergeseran menuju keputusan yang lebih diskresioner dalam hal kebijakan moneter.â Selain keputusan suku bunga, The Fed juga akan merilis proyeksi ekonomi triwulanan yang memuat perkiraan inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta arah suku bunga ke depan.
Warsh sebelumnya juga mengusulkan penghentian publikasi âdot plotâ, yakni proyeksi anonim para pejabat The Fed mengenai arah suku bunga.
Namun analis menilai langkah tersebut belum akan diambil dalam waktu dekat.
Risiko Inflasi
Profesor ekonomi Universitas George Washington, Pao- Lin Tien, menilai berkurangnya transparansi kebijakan moneter dapat memicu ketidakpastian di pasar.
âSaya rasa kekhawatiran kami adalah bahwa tanpa panduan ke depan, ekspektasi inflasi mungkin akan menjadi sedikit lebih fluktuatif,â ujarnya.
Sementara itu, Trump diperkirakan tetap akan mendorong penurunan suku bunga meski inflasi masih tinggi.
Namun menurut Tien, tekanan politik yang dilakukan secara terbuka justru dapat mempersulit posisi The Fed.
âPresiden Trump tidak membantu posisinya sendiri dengan mengajukan tuntutan ini secara terbuka, hal itu mempersulit siapa pun yang ia tunjuk untuk benar-benar melakukan hal tersebut,â kata Tien.
âDia melakukan kebalikan dari apa yang seharusnya dia lakukan untuk memastikan suku bunga turun,â tambahnya, merujuk pada kebijakan perang terhadap Iran yang turut memicu tekanan inflasi.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
AS Membentuk Komando Pasukan Khusus Penjaga Pantai untuk Mendukung Kebutuhan Penyitaan Kapal Musuh
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Amerika Serikat dan Vietnam Bersatu, Dominasi Tiongkok di Industri Chip Terancam Runtuh
-
AS Cabut Larangan, Rajungan Gillnet RI Bebas Masuk Pasar AS Lagi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.