Malam 1 Suro, Simak Sejarah dan Filosofinya dalam Kalender Jawa-Islam

Minggu, 14 Jun 2026, 21:03 WIB

JAKARTA - Tradisi peringatan malam 1 Suro berkembang sebagai hasil akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang telah berlangsung sejak abad ke-17 Masehi.

Malam Satu Suro memiliki posisi istimewa dalam kebudayaan masyarakat Jawa. Bukan sekadar malam pergantian tahun dalam penanggalan Jawa-Islam, malam ini diyakini sebagai waktu sakral yang sarat makna spiritual dan mistik.

Ket. Foto: Abdi dalem membawa kerbau bule, peranakan kerbau pusaka Keraton Kyai Slamet, untuk mengikuti kirab peringatan Satu Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Solo, Jawa Tengah). — Sumber: ANTARA/MOHAMMAD AYUDHA

Pada tahun 2026, malam 1 Suro jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Namun, karena tradisi Jawa menghitung pergantian hari dimulai sejak malam sebelumnya, maka malam 1 Suro akan dimulai pada Senin malam mulai pukul 18.00 WIB atau selepas waktu Maghrib 15 Juni 2026.

Tanggal itu juga bertepatan dengan 1 Muharam 1448 Hijriah atau Tahun Baru Islam. Selain itu, 1 Muharam termasuk hari libur nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, sehingga masyarakat dapat menikmati libur pada momen tersebut.

Nama "Suro" berasal dari kata Asyura, yang dalam bahasa Arab berarti “sepuluh”, merujuk pada hari ke-10 dalam bulan Muharram yang memiliki keutamaan tersendiri dalam ajaran Islam. Namun dalam perkembangannya, pelafalan kata ini mengalami perubahan oleh masyarakat Jawa, hingga melekat menjadi “Suro” sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa.

Perayaan malam Satu Suro berakar dari kebijakan politik dan budaya Raja Mataram Islam, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pada Jumat Legi, bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi, Sultan Agung meresmikan kalender Jawa-Islam, sebuah sistem penanggalan baru yang menggabungkan unsur kalender Saka (berbasis Hindu) dengan kalender Hijriah (berbasis Islam).

Langkah ini bukan sekadar administrasi waktu, melainkan sebuah strategi budaya untuk menyatukan masyarakat Jawa yang saat itu terdiri dari dua kelompok besar: santri dan abangan. Kalender ini memungkinkan penggabungan antara nilai-nilai kejawen yang telah mengakar, dengan prinsip-prinsip Islam yang tengah berkembang di tanah Jawa.

Nilai spiritual dan budaya dalam malam satu suro

Dalam pandangan masyarakat Jawa, malam 1 Suro dipercaya sebagai momen ketika batas antara alam gaib dan dunia manusia menjadi tipis. Malam tersebut diyakini sebagai saat turunnya arwah leluhur untuk memberikan perlindungan dan berkah. Oleh karena itu, masyarakat Jawa mengisi malam ini dengan berbagai bentuk laku spiritual seperti tirakat, doa bersama, ziarah kubur, serta selametan sebagai bentuk rasa syukur dan introspeksi diri.

Kegiatan ini dilakukan baik secara individu maupun kelompok, dengan tujuan utama mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan jiwa, serta memohon keselamatan bagi diri sendiri dan keluarga. Tradisi ini menjadi wujud sinergi antara ajaran Islam dengan budaya lokal Jawa yang mengedepankan harmoni dan spiritualitas.

Salah satu warisan penting Sultan Agung adalah kebiasaan melakukan ziarah kubur setiap Jumat Legi, yang dilakukan bersama kegiatan keagamaan seperti pengajian dan haul. Ketika tanggal 1 Suro jatuh pada hari Jumat Legi—seperti tahun ini—malam tersebut diyakini menjadi lebih keramat dari biasanya.

Pada momentum tersebut, masyarakat Jawa lebih berhati-hati dan memilih tidak melakukan aktivitas duniawi yang bersifat hura-hura, melainkan mengisinya dengan kegiatan keagamaan dan spiritual.

Perayaan malam Satu Suro tidak lahir dari kekosongan budaya, tetapi merupakan hasil proses panjang yang menyatukan dua sistem keyakinan, yaitu Islam dan kejawen. Melalui pendekatan bijak Sultan Agung Hanyokrokusumo, tradisi ini menjadi simbol harmoni dan persatuan, sekaligus pengingat akan pentingnya spiritualitas dalam menjalani kehidupan.

Malam Satu Suro menjadi contoh konkret bagaimana masyarakat Jawa mampu menjaga warisan budaya tanpa meninggalkan nilai-nilai agama. Tradisi ini terus dipelihara hingga kini, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kultural masyarakat Jawa yang religius, introspektif, dan penuh kearifan lokal.

Meskipun beberapa larangan bersifat mitologis, malam 1 Suro tetap menjadi pengingat penting akan perlunya instrospeksi, kedekatan dengan Tuhan, serta penghargaan terhadap kearifan lokal yang membentuk identitas masyarakat Jawa. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.