Inggris Luncurkan Storm Fighter, 'Wingman' Mematikan untuk Jet Tempur Generasi Keenam

Rabu, 22 Jul 2026, 00:04 WIB

LONDON – Inggris resmi membuka babak baru dalam pengembangan kekuatan udara dengan meluncurkan program Storm Fighter, pesawat tempur kolaboratif tanpa awak atau Collaborative Combat Aircraft (CCA) yang akan bertempur berdampingan dengan jet tempur berawak milik Royal Air Force (RAF).

Dari Militarnyi, pengumuman tersebut disampaikan Menteri Kesiapan Pertahanan dan Industri Inggris, Luke Pollard, dalam konferensi Global Air and Space Chiefs pada Selasa, 21 Juli 2026.

Ket. Foto: Storm Fighter diproyeksikan mampu menjalankan berbagai misi berisiko tinggi. Mulai dari peperangan elektronik untuk melumpuhkan radar lawan, misi udara-ke-udara, serangan udara-ke-darat, intelijen, pengawasan, pengintaian, hingga menjadi umpan untuk mengalihkan serangan musuh demi melindungi pesawat tempur berawak. — Sumber: Istimewa

Storm Fighter dirancang sebagai "rekan tempur" bagi armada pesawat tempur modern RAF, mulai dari Eurofighter Typhoon, F-35B Lightning II, F-35A yang akan datang, hingga jet tempur generasi keenam Tempest yang saat ini dikembangkan melalui program Global Combat Air Programme (GCAP).

Berbeda dengan drone konvensional, Storm Fighter diproyeksikan mampu menjalankan berbagai misi berisiko tinggi. Mulai dari peperangan elektronik untuk melumpuhkan radar lawan, misi udara-ke-udara, serangan udara-ke-darat, intelijen, pengawasan, pengintaian, hingga menjadi umpan untuk mengalihkan serangan musuh demi melindungi pesawat tempur berawak.

Pemerintah Inggris telah mengalokasikan 300 juta pound sterling atau sekitar Rp6,6 triliun untuk memulai pengembangan Storm Fighter melalui Defence Investment Plan yang diumumkan awal Juli 2026.

Program ini juga memanfaatkan pengalaman dari StormShroud, sistem drone peperangan elektronik yang telah diperkenalkan RAF sebelumnya. Sistem tersebut menggabungkan drone dengan pesawat Eurofighter Typhoon dan F-35B untuk mengganggu serta menekan sistem radar pertahanan udara musuh.

Menurut Luke Pollard, kehadiran Storm Fighter akan membawa RAF memasuki era baru peperangan udara.

> "Storm Fighter akan menjadikan Royal Air Force sebagai angkatan udara generasi keenam pertama di Eropa," kata Pollard.

Sebagai fondasi teknologi, Inggris juga menjalankan Project Vanquish, proyek yang menargetkan demonstrasi pesawat kolaboratif otonom pada akhir 2027. Platform ini bahkan dirancang mampu lepas landas dan mendarat di kapal induk kelas Queen Elizabeth, memperluas kemampuan operasi RAF dan Angkatan Laut Inggris.

Meski persyaratan resmi program belum dirilis, sejumlah raksasa industri pertahanan telah menyatakan minat untuk menggarap Storm Fighter. BAE Systems dan Boeing menjadi dua nama yang paling menonjol dalam persaingan tersebut.

Jika berjalan sesuai rencana, Storm Fighter akan menjadi salah satu elemen penting dalam konsep peperangan udara masa depan, di mana drone cerdas dan pesawat tempur berawak bekerja sebagai satu kesatuan untuk menghadapi ancaman di medan tempur modern.

  • Drone Tempur Siluman

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.