482 Zona Masuk Kategori Kemarau Lebih Kering
Kamis, 11 Jun 2026, 03:07 WIBJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memetakan sebanyak 482 Zona Musim (Zom) di Indonesia atau mencakup 56,18 persen luas daratan nasional diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal atau jauh lebih kering.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers Perkembangan Musim Kemarau Indonesia 2026 di Jakarta, Rabu (10/6), menjabarkan bahwa wilayah terdampak tersebut mendominasi hampir seluruh sentra populasi dan pertanian utama di bagian selatan khatulistiwa.
âWilayah yang diprediksi mengalami sifat musim kemarau di bawah normal, yaitu sebagian Sumatera, keseluruhan Pulau Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian besar Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua,â kata dia.
Ardhasena menjelaskan bahwa karakteristik iklim di ratusan zona musim tersebut umumnya dipengaruhi oleh pola monsunal yang memiliki satu puncak musim hujan dan satu lembah musim kemarau yang sangat kontras.
Berdasarkan hasil pemutakhiran data BMKG sampai dengan akhir Mei 2026, perluasan wilayah kekeringan dimulai pada 200 zona musim (11,83 persen daratan), yang teridentifikasi lewat warna kecokelatan pada peta sebaran iklim nasional.
Pergerakan zona kering tersebut diproyeksikan melonjak drastis pada bulan Juni ini dengan memasuki 198 zona musim baru atau setara 31,6 persen luas daratan, mencakup wilayah DKI Jakarta bagian selatan hingga sebagian besar Pulau Kalimantan.
Memasuki bulan Juli, pergerakan kemarau akan kembali merambah 66 zona musim lainnya yang meliputi Jambi bagian barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, hingga Maluku Utara.
Sebaliknya, BMKG mendeteksi adanya anomali lokal akibat efek topografi yang luas di tujuh zona musim (0,68 persen daratan) yang justru bersifat atas normal atau lebih basah, yakni di Bengkulu, Gorontalo bagian utara dan selatan, serta sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ardhasena menyebutkan pembagian zona musim ini didasarkan pada perhitungan referensi periode normal curah hujan jangka panjang antara tahun 1991 hingga 2020 untuk menjamin akurasi data Âwilayah.
Oleh karena itu, BMKG meminta para pengambil kebijakan di tingkat daerah untuk mencermati peta kerawanan zona musim ini sebagai basis data utama dalam menyusun rencana kedaruratan yang spesifik di wilayah masing-masing.
Mitigasi Iklim
BMKG memastikan seluruh infrastruktur mereka yang mencakup 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) atau stasiun meteorologi dan klimatologi di tiap provinsi terbuka penuh untuk melayani koordinasi dan pendampingan mitigasi iklim bagi pemerintah daerah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa ratusan stasiun tersebut disiagakan untuk menjawab kebutuhan data cuaca yang sangat spesifik dari tiap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), termasuk gabungan kelompok tani (Gapoktan). âBagi BPBD dapat berdiskusi, berkoordinasi langsung dengan 191 UPT atau stasiun-stasiun BMKG yang tersebar di seluruh Indonesia. Di setiap provinsi itu BMKG hadir di sana,â kata dia.
Faisal menjelaskan bahwa BMKG kini berkomitmen kuat untuk menggeser peran institusi yang tidak sekadar menjadi penyedia dokumen prediksi iklim di hulu, melainkan turun langsung mengawal program adaptasi dan mitigasi di tingkat tapak.
Melalui ratusan stasiun daerah tersebut, BMKG berupaya semaksimal mungkin memberikan pendampingan teknis kepada jajaran Pemerintah Daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hingga instansi penanggulangan bencana agar siap menghadapi kekeringan secara detail.
Pendampingan intensif dari stasiun BMKG di daerah ini dinilai krusial untuk membantu sektor riil masyarakat, khususnya para petani agar dapat merumuskan langkah taktis akibat mundurnya jadwal masa tanam pertama sebagai dampak kemarau panjang.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena mengungkapkan bahwa prediksi musim di Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi akibat pengaruh interaksi tiga faktor laut berskala besar serta karakteristik geografis lokal yang unik.
Dijabarkannya, tiga faktor laut besar tersebut meliputi kondisi suhu muka laut perairan nusantara, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia, serta El Nino dan La Nina di Samudera ÂPasifik.
âSuhu muka laut perairan Indonesia mempengaruhi karakter musim satu dua bulan ke depan. Lalu Samudera ÂHindia dengan IOD memiliki pengaruh terhadap curah hujan khususnya bagian barat, serta ÂSamudera Pasifik dengan El Nino dan La Nina yang mempengaruhi curah hujan dalam skala inter-tahunan,â Âkata dia.
Dia menjelaskan bahwa faktor tersebut menjadi jauh lebih rumit ketika berinteraksi dengan kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan serta memiliki banyak bentangan pegunungan di bagian tengah pulau.
Kondisi topografi tersebut menciptakan banyak anomali iklim lokal yang sangat spesifik, seperti wilayah pesisir barat Sumatera yang curah hujannya terpengaruh oleh Bukit Barisan sehingga memiliki karakteristik yang bertolak belakang dengan wilayah di sisi timurnya seperti Riau dan Jambi.
Menurut dia, tantangan terbesar bagi BMKG dalam meningkatkan ketepatan prediksi musim saat ini adalah mengalkulasi bagaimana berbagai macam faktor global dan lokal tersebut saling mempengaruhi dengan tenggat waktu dampak yang berbeda-beda di wilayah tropis. Ant/S-2
- perubahan iklim
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pelajaran Grooming dari Sebuah Catatan Broken Strings
-
Pemkab Kudus Memastikan Tidak Naikkan PBB meskipun NJOP Disesuaikan Harga Pasar
-
Penugasan Misi Perdamaian Dunia Bukan Hanya Menjaga Citra TNI Tetapi Juga Harumnya Negara Indonesia
-
Bundesliga Jerman: Bayern Tahan Imbang Leverkusen 1-1 Meski Bermain dengan Sembilan Orang
-
Skema War Tiket Haji Dinilai Bukan Solusi, Mempercepat Antrean Lebih Mendesak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.