Greenland Jadi Sorotan, Perusahaan Energi AS Turunkan Peralatan Eksplorasi

Rabu, 12 Agu 2026, 06:30 WIB

KOPENHAGEN – Perusahaan eksplorasi energi asal Amerika Serikat memicu kecaman setelah menurunkan peralatan pengeboran tanpa izin di pesisir timur Greenland, wilayah otonom Denmark yang menjadi incaran Presiden AS Donald Trump.

Perusahaan yang berbasis di Texas, Greenland Energy, menegaskan bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan ambisi teritorial Trump atas Greenland. Perusahaan menyatakan bahwa penurunan peralatan tersebut pada Juli di Nunap Qeqqa, yang juga dikenal sebagai Jameson Land, hanyalah langkah awal menuju kegiatan eksplorasi.

Ket. Foto: Perusahaan Greenland Energy yang berbasis di Texas—yang ketuanya, Larry Swets, disebut memiliki kedekatan dengan Presiden AS Donald Trump—menurunkan peralatan pengeboran tanpa izin di pesisir timur Greenland, wilayah otonom Denmark yang menjadi incaran Trump. — Sumber: AFP

Greenland Energy tidak menanggapi permintaan komentar dari AFP. Namun, kepada media Denmark pada Juli, perusahaan mengatakan pihaknya meyakini izin untuk menurunkan dan menyimpan peralatan—yang sebelumnya berada di wilayah lain di Greenland—hanya diperlukan jika kegiatan tersebut dilakukan di dalam area yang tercakup dalam izin eksplorasi minyak.

"Itu adalah kesalahan dari pihak kami, sebuah kesalahan yang tidak akan terulang," kata Direktur Pelaksana Greenland Energy Roderick McIllree kepada lembaga penyiaran publik Denmark DR pada akhir Juli.

Peralatan tersebut kini disimpan di sebuah hanggar di Bandara Nerlerit Inaat, dekat Desa Ittoqqortoormiit, permukiman terdekat dengan wilayah yang tercakup dalam izin eksplorasi.

Pemerintah Greenland telah memberikan "peringatan keras" kepada perusahaan tersebut. Dalam pernyataan pada Juli, pemerintah menegaskan bahwa seluruh pengaturan logistik di masa mendatang harus diberitahukan dan mendapatkan persetujuan dari otoritas sumber daya mineral sebelum dilaksanakan.

Ketua Greenland Energy Larry Swets disebut memiliki kedekatan dengan Trump.

Di tengah keinginan Trump untuk menguasai pulau Arktik yang luas tersebut, kemungkinan adanya perusahaan energi asal AS yang melakukan kegiatan eksplorasi di Greenland menimbulkan kekhawatiran.

"Ada perasaan samar mengenai adanya hubungan dengan Trump," kata Ulrik Pram Gad, peneliti di Danish Institute for International Studies, kepada AFP.

Kekhawatiran meningkat

"Hal ini menimbulkan kecemasan dan ketegangan, terlebih karena dengan Trump, Anda bisa mengharapkan apa saja," tambahnya.

Profesor Universitas Aalborg sekaligus pakar Arktik Anne Merrild mengatakan tindakan menurunkan peralatan tanpa izin tersebut justru dapat memperburuk hubungan perusahaan dengan pemerintah Greenland.

"Dengan penurunan peralatan tanpa izin ini, perusahaan benar-benar tidak memperbaiki peluang mereka di mata pemerintah Greenland," kata Merrild.

Pada 2021, pemerintah Greenland yang mengelola sumber daya alam pulau tersebut menetapkan moratorium terhadap kegiatan eksplorasi dan ekstraksi minyak di seluruh wilayah Arktik itu.

Kebijakan tersebut diberlakukan ketika Greenland menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin besar.

Namun, izin eksplorasi yang menjadi dasar kegiatan Greenland Energy telah diterbitkan sebelumnya, yakni pada 2015 dan 2018. Karena itu, izin tersebut masih tetap berlaku.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.