RI Harus Aktif Melobi AS Guna Peroleh Skema Tarif yang Menguntungkan

Selasa, 09 Jun 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Besaran tarif impor untuk Indonesia yang diusulkan oleh United States Trade Representative (USTR) Amerika Serikat (AS) masih bersifat dinamis dan belum ditetapkan secara final. Sebab itu, Pemerintah Indonesia harus terus melakukan komunikasi dan pendekatan dengan pemerintah AS untuk memperoleh skema tarif yang lebih menguntungkan bagi produk ekspor nasional.

Sebagai informasi, kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) sebelumnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Sebagai penggantinya, pemerintah AS memberlakukan tarif umum sebesar 10 persen terhadap seluruh negara selama 150 hari yang berakhir pada 24 Juli 2026.

Ket. Foto: Hubungan dagang AS -Indo — Sumber: istimewa

Setelah masa tersebut berakhir, pemerintah AS menyiapkan kebijakan baru melalui investigasi berdasarkan Section 301 Undang-Undang Perdagangan AS Tahun 1974 yang berkaitan dengan isu kerja paksa (forced labor) dan kapasitas manufaktur.

Lebih lanjut, USTR pada 2 Juni 2026 telah menerbitkan hasil awal investigasi tersebut yang mengusulkan tarif impor sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap 60 negara yang menjadi objek investigasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 14 negara yakni Indonesia, Kanada, Ekuador, Uni Eropa, Meksiko, Pakistan, Argentina, Bangladesh, Kamboja, El Savador, Guatemala, Malaysia, Taiwan, dan Inggris diusulkan dikenakan tarif 10 persen. Sementara 46 negara lainnya dikenakan tarif 12,5 persen.

Pemerintah sendiri sebagaimana disampaikan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso memproyeksikan tarif tambahan yang akan dikenakan AS terhadap produk Indonesia mencapai 18 persen pada akhir proses investigasi dagang Section 301 Trade Act of 1974.

Gerus Daya Saing

Menanggapi hal itu, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, I Nengah Muliarta mengatakan kebijakan tarif itu pada dasarnya menciptakan tekanan tambahan bagi komoditas ekspor pertanian spesifik dan produk perikanan andalan Indonesia yang menyasar pasar AS seperti kopi premium, kakao, tuna, dan udang.

Tarif tersebut jelasnya secara langsung menggerus daya saing harga produk Indonesia di pasar internasional jika dibandingkan dengan negara pesaing yang memiliki kesepakatan dagang khusus.

“Jika pemerintah tidak mengambil langkah proteksi yang memadai, pasar dalam negeri berisiko dibanjiri oleh produk pangan impor murah yang pada akhirnya akan menekan eksistensi petani lokal,”papar Muliarta.

Menghadapi berakhirnya kebijakan tarif umum tersebut, maka ketidakpastian baru katanya justru membentang di depan mata karena pelaku usaha pertanian domestik dihadapkan pada situasi yang spekulatif mengenai langkah apa yang akan diambil oleh United States Trade Representative berikutnya.

Oleh karena itu, pemerintah tidak boleh lagi mengandalkan respons jangka pendek yang bersifat reaktif seperti operasi pasar atau impor darurat untuk menstabilkan harga.

Diperlukan sebuah transformasi kebijakan yang mengintegrasikan aspek fiskal, moneter, dan pembenahan sektor riil pertanian secara menyeluruh.

Langkah diplomasi perdagangan secara bilateral harus diperkuat secara agresif dengan menekankan bahwa produk pertanian Indonesia bersifat komplementer atau saling melengkapi kebutuhan industri di Amerika Serikat, bukan sebagai ancaman substitusi bagi petani mereka.

Secara paralel, upaya diversifikasi pasar ekspor ke kawasan non-tradisional seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan harus ditingkatkan secara masif untuk mengurangi ketergantungan akut pada pasar tunggal.

  • Tarif Perdagangan

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Paus Leo XIV Desak Dunia Lawan Kemiskinan dan Ketimpangan

PDIP Jatim Bidik Kursi Gubernur pada Pemilu 2029

"Silent Hill: Townfall" Eksklusif Konsol PS5 Minimal Enam Bulan

Resmi Digarap Disney! National Treasure 3 Masuk Pengembangan, Nicolas Cage Siap Kembali?

Fitur Baru ChatGPT di iOS: Bisa Akses Foto Terbaru Tanpa Buka Galeri

Gempa M 5,9 Guncang Jepang Dekat Tokyo: 37 Orang Terluka, Kereta Sempat Lumpuh!

Perang Dagang AS-Kanada Memanas: Mark Carney Siapkan Bea Masuk Produk Washington

Xabi Alonso Yakin Cole Palmer Tampil Menawan Bersama Chelsea Jelang Laga Lawan Fulham

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.