Ketenangan Warga Ponelo Kepulauan Saat Ada Peringatan Dini Tsunami

Senin, 08 Jun 2026, 15:52 WIB

Gorontalo Utara -- Warga Kecamatan Ponelo Kepulauan Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo memilih dalam kondisi tenang menghadapi peringatan dini tsunami pascagempa Magnitudo 7,7 dan 6,0, Senin.

"Pascagempa kondisi air laut pasang surut hingga saat ini. Setiap beberapa menit air nampak naik dan turun namun tenang dan tidak bergelombang," kata Warga Ponelo Kepulauan Rasman Olii.

Ket. Foto: Air laut pasang surut terjadi setiap tiga menit di Kecamatan Ponelo Kepulauan, Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, pasca peringatan dini potensi tsunami, Senin (8/6). — Sumber: ANTARA/HO-Rasman Olii (Peringatan Dini Tsunami

Menurutnya sudah lebih dari 10 kali kondisi itu terjadi dan masih terus terjadi hingga keterangan diberikan.

"Tidak ada kepanikan warga namun banyak warga memantau kondisi pasang surut air mengingat informasi tentang warga panik mengungsi dari Kecamatan Kwandang tersampaikan hingga ke pulau ini," katanya.

Rasman mengatakan rata-rata warga di pulau tersebut tidak akan menuju darat jika suasana laut bergelombang dan angin kencang.

Pantauan ANTARA, warga di Desa Katialada, Desa Moluo, Desa Titidu Kecamatan Kwandang banyak yang memilih mengungsi di tempat-tempat tinggi seperti di puncak Dambalo.

Sebagian besar memilih mengungsi dengan berbekal tas berisi pakaian, ada pula yang memilih berdiam di rumah.

"Kami memilih melakukan evakuasi mandiri ke puncak Dambalo, sebab air laut terlihat jelas dari tempat ini," kata Yoni Tanaiyo warga Desa Katialada.

Pemadaman listrik terjadi dan angin kencang terjadi di wilayah tersebut.

Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo Dr. Andri Wijaya Bidang mengatakan hingga kini status peringatan tsunami belum dicabut.

Pihaknya masih terus menerima informasi warga khususnya dari Gorontalo Utara terkait situasi terkini pascagempa.

"Masih status siaga dan PD 3. Kami berharap warga tenang menghadapi situasi ini," katanya.

Prediksi BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi tektonik magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina, Senin pagi pukul 06.37 WIB diakibatkan oleh aktivitas subduksi lempeng.

"Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas subduksi lempeng," kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, dalam rilis yang dibagikan dalam grup percakapan 'BMKG dan Stakeholders' pada pukul 08.18 WITA di Manado, Senin.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Gempa bumi ini dirasakan di Kota Morotai, Halmahera Utara dengan skala intensitas IV MMI (pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi).

Kemudian di Kabupaten Gorontalo Utara dengan skala intensitas III-IV MMI (pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi).

Selanjutnya, di Batang dua, Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Manado, Minahasa, Palu, Bitung, Boltim, Halmahera Tengah dengan skala intensitas III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu).

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi tsunami dengan status siaga di Kabupaten Minahasa, Bolaang Mongondow, Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Buol, Kepulauan Sangihe, Gorontalo, Kepulauan Talaud, Kepulauan Minahasa, Toli-toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, Kota Bitung.

Sementara status waspada di Kota Tidore, Bulungan, Nunukan, Halmahera, Kota Tarakan, Halmahera Utara, Kutai Timur, Minahasa Selatan, Kota Bontang, dan Berau.

Terkait potensi tersebut, BMKG mengeluarkan rekomendasi bagi masyarakat di daerah berstatus siaga untuk segera menjauhi pantai menuju tempat yang lebih tinggi, sementara warga di wilayah berstatus waspada diimbau menjauhi pantai serta tepian sungai.

Hingga pukul 07.11 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya dua kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M 6,7 dan M 5,9.

BMKG juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan memastikan informasi resmi hanya bersumber dari lembaga tersebut melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi.

Pada Senin 08 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB wilayah Pantai Selatan Mindanao, Filipina diguncang gempa tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 7,7.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5,80° LU ; 125,14° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara pada kedalaman 47 kilometer.

  • Peringatan Dini Tsunami

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.