Tak Cukup Dilestarikan, Kemenekraf Dorong Budaya Jadi Aset Ekonomi Bernilai Tinggi

Kamis, 23 Jul 2026, 09:50 WIB

JAKARTA – Kekayaan budaya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kekayaan intelektual (intellectual property/IP) bernilai ekonomi.

Melalui pengelolaan yang inovatif, warisan budaya dapat diolah menjadi produk kreatif, destinasi wisata, hingga karya digital yang mampu meningkatkan daya saing daerah.

Ket. Foto: Ilustrasi - Tampak depan Museum Nasional Indonesia. — Sumber: ANTARA/Chairul Rohman

Pendekatan ini tidak hanya menjaga kelestarian budaya, tetapi juga menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat pengembangan pelaku kreatif melahirkan kekayaan intelektual (intellectual property/ IP) lokal berbasis budaya Indonesia lewat kolaborasi strategis dengan menggandeng Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Adobe yang mendorong monetisasi.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dari talenta-talenta muda kreatif. Namun, potensi tersebut masih menghadapi tantangan dalam aspek monetisasi dan pemahaman industri terhadap nilai ekonomi sebuah karya kreatif.

"Talenta muda kreatif adalah aset terbesar kita. Namun, pada saat yang bersamaan, ada gap dalam hal monetisasi karena banyak di industri kita yang belum paham bagaimana menghargai ekonomi kreatif. Kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan dengan baik, terutama untuk menghasilkan setidaknya satu atau dua champion yang berhasil,” kata Irene dalam keterangan yang diterima, Kamis (23/7).

Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian Ekraf, Indosat, dan Adobe tengah menyiapkan sebuah program yang menghubungkan kreator dengan akses teknologi, pelatihan, jejaring profesional, hingga peluang kolaborasi.

Program itu juga akan menghadirkan komunitas kreator sebagai ruang untuk saling berbagi pengalaman, berkolaborasi, sekaligus membuka peluang ekonomi dari karya yang dihasilkan.

Salah satu agenda yang disiapkan adalah Museum Tour di Museum Nasional yang akan diikuti sekitar 100 kreator terpilih, termasuk para kreator IP lokal. Berbeda dari kunjungan museum pada umumnya, kegiatan ini dirancang sebagai ruang eksplorasi budaya Indonesia untuk melahirkan ide-ide kreatif yang nantinya dikembangkan dalam sebuah creative challenge.

Menurut Irene, pendekatan tersebut sejalan dengan visi Kementerian Ekraf yang menempatkan budaya sebagai fondasi utama pengembangan ekonomi kreatif nasional.

"Kebudayaan adalah source material dari ekonomi kreatif. Tanpa kebudayaan, tidak akan ada kreasi-kreasi baru. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan warisan budaya tersebut relevan dan diterima oleh generasi masa kini," katanya.

Selain mendorong lahirnya karya-karya kreatif baru, program ini juga diarahkan agar para kreator memahami strategi membangun intellectual property yang bernilai ekonomi, memiliki daya saing internasional, serta mampu menjangkau pasar global melalui pemanfaatan teknologi digital.

Senior Vice President Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, Ovidia Nomia, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas akses teknologi bagi para pelaku industri kreatif Indonesia.

"Kreativitas adalah salah satu kekuatan terbesar Indonesia. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan para kreator memiliki akses terhadap teknologi dan ekosistem yang memungkinkan mereka mengembangkan karya, menciptakan nilai ekonomi, serta menjangkau pasar global," ujarnya.

Kolaborasi ini menjadi bagian dari sinergi program ECHOES (Ekraf Creates Harmony on Education Sector) milik Kementerian Ekraf dengan GENSi (Generasi Terkoneksi) yang diinisiasi Indosat. Program tersebut dirancang untuk membekali generasi muda dengan keterampilan digital sekaligus memperluas akses terhadap teknologi kreatif.

Melalui inisiatif ini, peserta tidak hanya memperoleh pelatihan dan pendampingan, tetapi juga kesempatan membangun jejaring, mengembangkan intellectual property, memahami strategi monetisasi, hingga membuka akses terhadap pasar yang lebih luas.

Kementerian Ekraf berharap kolaborasi lintas sektor ini mampu melahirkan lebih banyak kreator Indonesia yang mampu mengangkat kekayaan budaya menjadi produk kreatif bernilai tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif di tingkat global.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.