Hong Kong Salip Swiss dalam Pengelolaan Kekayaan Lintas Negara
📅 Jumat, 05 Jun 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiZurich – Hong Kong resmi mengambil alih posisi Swiss sebagai pusat pengelolaan kekayaan lintas batas (cross-border wealth management) terbesar di dunia pada 2025. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group (BCG), aset lintas batas yang dikelola di Hong Kong mencapai 2,95 triliun dollar AS, sedikit melampaui Swiss yang mengelola 2,946 triliun dollar AS.
Pencapaian ini menandai pergeseran penting dalam peta industri pengelolaan kekayaan global yang selama beberapa dekade didominasi Swiss. Kenaikan Hong Kong didorong oleh derasnya arus modal dari Tiongkok daratan, meningkatnya aktivitas penawaran umum perdana (IPO), serta penguatan pasar saham yang menarik minat investor internasional.
Dilansir dari AFP, laporan Kekayaan Global BCG 2026 mencatat lebih dari 60 persen dana eksternal yang masuk ke Hong Kong berasal dari Tiongkok daratan. Kondisi tersebut semakin memperkuat peran Hong Kong sebagai gerbang utama Tiongkok menuju pasar keuangan global.
Sekretaris Keuangan Hong Kong, Paul Chan, menilai perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi faktor penting yang mendukung pertumbuhan industri pengelolaan aset dan kekayaan di wilayah tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara itu, ekonom senior Natixis Corporate and Investment Banking, Gary Ng, mengatakan ketidakpastian hubungan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi salah satu alasan utama banyak investor memilih menempatkan aset mereka di Hong Kong.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ketidakpastian seputar ketegangan AS-Tiongkok adalah alasan utama mereka memindahkan modal dan mengelola kekayaan di Hong Kong," katanya.
Meski demikian, arus modal lintas batas tersebut juga menghadapi tantangan baru. Pemerintah Tiongkok mulai memperketat pengawasan terhadap investasi ke luar negeri. Pada Mei lalu, regulator pasar Tiongkok meluncurkan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan pialang yang menangani transaksi lintas batas. Langkah itu merupakan bagian dari pengawasan yang lebih luas terhadap arus investasi keluar dari daratan Tiongkok.
Selain itu, pemerintah Tiongkok juga mengumumkan regulasi baru yang mulai berlaku pada Juli 2026. Aturan tersebut bertujuan membatasi investasi luar negeri dan kerja sama dengan entitas asing yang berpotensi memindahkan teknologi, layanan, atau data yang dianggap sensitif ke luar negeri tanpa izin pemerintah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Otoritas Tiongkok menegaskan bahwa investor yang melakukan kegiatan investasi luar negeri tidak boleh membahayakan keamanan nasional maupun merugikan kepentingan negara.
Menurut Gary Ng, kebijakan tersebut dapat menjadi tantangan bagi upaya internasionalisasi mata uang yuan. Ia menilai apabila Beijing ingin mempercepat penggunaan yuan di tingkat global, maka diperlukan kebijakan yang lebih terbuka terhadap pergerakan modal lintas negara.
Swiss Tetap Tenang
Meski kehilangan posisi puncak, industri perbankan Swiss tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Asosiasi Perbankan Swiss menilai keberhasilan Hong Kong merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi dan kekayaan yang sangat kuat di Asia, khususnya Tiongkok.
Asosiasi tersebut menegaskan bahwa bank-bank Swiss tetap memiliki posisi yang kuat karena berhasil memperluas bisnis pengelolaan kekayaan di berbagai pasar Asia yang berkembang pesat.
Menurut asosiasi itu, tantangan utama Swiss saat ini bukan hanya mempertahankan posisi dalam persaingan global, tetapi juga menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan daya saing industri perbankan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!