Keuangan Tetap Sehat di Tengah Ketidakpastian? Pengamat Anjurkan Solusi Ini
Rabu, 03 Jun 2026, 14:40 WIBDENPASAR â Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian, kemampuan mengelola keuangan dengan bijak menjadi semakin penting.
Berhemat bukan berarti membatasi diri secara berlebihan, melainkan lebih cermat dalam menentukan prioritas pengeluaran dan menyisihkan dana untuk kebutuhan masa depan.
Dengan perencanaan keuangan yang baik, masyarakat dapat lebih siap menghadapi kenaikan harga, perubahan pendapatan, maupun kebutuhan tak terduga.
Kebiasaan sederhana seperti mencatat pengeluaran, mengurangi belanja impulsif, dan membangun dana darurat dapat menjadi langkah kecil yang memberi dampak besar bagi ketahanan finansial jangka panjang.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Bali, Prof Dr Ida Bagus Raka Suardana menganjurkan masyarakat untuk mengelola keuangan dan mengurangi gaya hidup konsumtif menyikapi pelemahan mata uang rupiah.
âSebagai masyarakat biasa, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif,â kata Raka Suardana di Denpasar, Rabu (3/6).
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Undiknas itu menambahkan ketika rupiah melemah, harga barang impor biasanya naik lebih cepat dibanding pendapatan masyarakat.
Oleh karena itu, imbuh dia, masyarakat perlu mengurangi gaya hidup konsumtif, terutama membeli barang-barang impor yang tidak terlalu penting.
Kemudian perlu mengutamakan produk lokal menjadi langkah sederhana namun penting untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat UMKM dalam negeri.
Selain itu, masyarakat juga perlu mulai membangun ketahanan keuangan keluarga.
Ia juga menekankan pentingnya alokasi sejumlah dana darurat dan pengelolaan pengeluaran saat kondisi ekonomi bergejolak.
âDalam situasi rupiah melemah, masyarakat sebaiknya memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga saat ini rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat,â ucapnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah membawa dampak lain yaitu membuka peluang ekonomi baru yakni produk lokal dan sektor pariwisata menjadi lebih kompetitif karena biaya di Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing.
Untuk itu, kata dia, masyarakat dapat memanfaatkan kondisi itu dengan memperkuat usaha berbasis lokal, ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, hingga jasa digital.
âDi Bali misalnya, ketika wisatawan asing meningkat akibat nilai tukar yang menguntungkan, UMKM lokal ikut merasakan dampak positif melalui peningkatan penjualan dan perputaran ekonomi rakyat,â ucapnya.
Ia pun mengharapkan masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi pelemahan rupiah karena justru dapat memperburuk kondisi ekonomi melalui perilaku konsumtif dan spekulatif.
âYang dibutuhkan adalah sikap adaptif, hemat, produktif, serta meningkatkan keterampilan agar mampu bertahan di tengah perubahan ekonomi global,â imbuh Raka Suardana.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Momentum City Tekanan Besar bagi Arsenal
-
Jaga Pasokan, Pemerintah Harus Stabilkan Harga Cabai
-
Rupiah Nyaris Jebol Rp18.000 per Dollar AS Ini Biang Keroknya
-
Ratusan Aparat dan Pengusaha Belajar Kelola Keuangan Tanpa Ketergantungan Utang
-
Keuntungan dari Lemahnya Rupiah, Jangan-Jangan Ini Memang Strategi Ekonomi RI
-
Program Aksi Bersih Pantai di Kawasan Pesisir Desa Sumberjaya,
-
Rebutan Takhta Grup B Piala Dunia 2026: Intip Susunan Skuad Ngeri Swiss vs Kanada
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.