Sistem SPMB Surabaya Siap, ITS Sebut AI Berpotensi Cek Dokumen Palsu
📅 Selasa, 02 Jun 2026, 14:50 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Kepala Laboratorium Algoritma dan Pemrograman ITS Surabaya, Dwi Sunaryono, memastikan sistem teknologi yang digunakan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) telah disiapkan untuk mendukung proses seleksi yang transparan dan akuntabel. Ia juga mengungkapkan potensi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi keaslian dokumen yang diunggah peserta.
Menurut Dwi, sistem pengunggahan dokumen pada SPMB memiliki batas jumlah berkas yang dapat diunggah oleh peserta. Karena itu, calon peserta yang memiliki banyak sertifikat atau dokumen pendukung disarankan memilih dokumen dengan nilai atau prestasi tertinggi agar peluang seleksi lebih optimal.
Dokumen yang diunggah peserta harus menggunakan format PDF dan selanjutnya akan diperiksa langsung oleh verifikator yang telah dibagi berdasarkan sekolah tujuan. Berdasarkan pengalaman pelaksanaan tahun sebelumnya, setiap sekolah menangani sekitar 300 berkas yang diverifikasi oleh sejumlah operator yang bertugas melakukan pemeriksaan administrasi.
"Insyaallah aman. Saat pendaftaran berlangsung, terutama tahap dua yang memerlukan unggah dokumen, biasanya kami scale up ke posisi yang nyaman bagi masyarakat," ujar Dwi.
Ia menjelaskan sistem SPMB telah dilengkapi fitur peningkatan kapasitas otomatis atau scale up yang memungkinkan server menyesuaikan diri ketika terjadi lonjakan akses pengguna. Hingga saat ini, hampir 90 ribu PIN telah berhasil diterbitkan dan menjadi indikator kesiapan infrastruktur menghadapi tahapan seleksi berikutnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain kesiapan server, Dwi menegaskan sistem SPMB dirancang agar seluruh proses berjalan secara transparan dan real time. Setiap data yang masuk akan langsung diproses dalam sistem perankingan dan hasilnya didistribusikan ke seluruh server sehingga tidak membuka ruang bagi intervensi atau manipulasi data oleh panitia.
"Maka harus dilihat dulu, itu masuk reguler atau sebaran. Karena ada perbedaan. Tidak seluruhnya diadu berdasarkan nilai tertinggi," jelasnya.
Dwi menerangkan pada jalur domisili terdapat tiga kategori ranking yang ditampilkan secara bersamaan, yakni ranking reguler, sebaran, dan kuota satu persen. Kondisi tersebut kerap menimbulkan kebingungan ketika peserta dengan nilai lebih rendah terlihat diterima karena berasal dari jalur seleksi yang berbeda.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada jalur reguler, penentuan kelulusan didasarkan pada nilai akhir yang berasal dari komposisi 60 persen nilai rapor dan 40 persen Tes Kemampuan Akademik (TKA). Apabila terdapat nilai akhir yang sama, seleksi dilanjutkan dengan mempertimbangkan jarak domisili, usia peserta, hingga waktu pendaftaran.
Sementara itu, pada jalur sebaran, peserta yang tidak lolos di jalur reguler masih berkesempatan mengikuti seleksi berdasarkan wilayah kelurahan asal. Karena persaingan hanya terjadi di tingkat kelurahan dengan kuota terbatas, nilai peserta yang lolos pada jalur ini bisa lebih rendah dibandingkan peserta yang diterima melalui jalur reguler.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!