Sepanjang 2026, Rupiah Melemah 6,62 Persen di Tengah Badai Global
Jumat, 29 Mei 2026, 17:57 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah lebih dari 6 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal yang mendominasi pergerakan pasar valuta asing.
Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve menjadi faktor utama, karena ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka lebih lama mendorong penguatan dolar AS dan mempersempit ruang apresiasi mata uang negara berkembang.
Selain itu, gejolak harga komoditas global turut memperburuk sentimen, terutama karena volatilitas yang memengaruhi neraca perdagangan dan arus devisa.
Kombinasi faktor tersebut membuat rupiah lebih rentan terhadap arus modal keluar, meskipun fundamental domestik masih relatif stabil.
Seperti diketahui, kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang tahun ini melemah 1.110 poin atau sekitar 6,62 persen dari level pada akhir tahun lalu di posisi Rp16.771 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan, Jumat (29/5), nilai tukar rupiah melemah 35 poin atau 0,20 persen dari Selasa (26/5), jadi Rp17.881 per dolar AS. Angka ini menjadi rekor terburuk dan melampaui target pemerintah di level Rp16.500 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini disebabkan harga minyak yang sangat fluktuatif.
âHarga minyak tetap sangat fluktuatif dalam beberapa sesi terakhir karena pasar bereaksi terhadap berita utama yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata,â katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Untuk diketahui, sentimen pasar sempat membaik pasca muncul laporan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai draf kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, sementara negosiasi terus berlanjut mengenai program nuklir Iran dan isu-isu keamanan regional.
Prospek gencatan senjata ini mengurangi kekhawatiran atas kekurangan pasokan langsung dan mendukung harapan bahwa aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz dapat secara bertahap kembali normal. Namun, lalu lintas melalui jalur air strategis tersebut tetap jauh di bawah tingkat sebelum konflik, sehingga premi risiko geopolitik tetap berdampak ke pasar minyak.
Sentimen lain berasal dari data-data ekonomi AS seperti inflasi dan pertumbuhan yang tak sesuai perkiraan turut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Adapun dari domestik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga di level tinggi memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
âInvestor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (seperti obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik,â ujar Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.883 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.789 per dolar AS.
- rupiah melemah
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Klaim Swasembada Pangan, Faktanya Indonesia Impor 3,5 Juta Ton Tiap Tahun
-
Darurat Pinjol Ilegal! OJK Blokir 953 Pindar dalam Tiga Bulan
-
Bekasi Gelar Lomba Menu MBG, Dorong Inovasi Gizi untuk Tekan Stunting
-
Harga Emas Pegadaian Hari Ini, Selasa (7/4), UBS, Antam, Galeri24 Kompak Turun
-
Pemkab Lebak Minta Masyarakat Kasepuhan Tingkatkan Produksi Pangan
-
Anwar Ibrahim Ungkap Diplomasi dengan Iran, Kapal Minyak Malaysia Lolos Selat Hormuz
-
Gubernur Bobby Nasution Targetkan Modal Inti Bank Sumut Tembus Rp6 Triliun untuk Masuk Kategori KBMI 2
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.