AS-Iran Hampir Capai Kesepakatan, tapi Belum Ada Persetujuan dari Trump

Jumat, 29 Mei 2026, 10:45 WIB

WASHINGTON - Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan mengenai kerangka perpanjangan gencatan senjata pada hari Kamis (27/5), tetapi Presiden Donald Trump belum menyetujui perjanjian apa pun, kata para pejabat AS.

Sumber-sumber AS sebelumnya mengatakan kepada AFP bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman (MOU) untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.

Ket. Foto: AS dan Iran saling tuduh melanggar gencatan senjata April setelah terjadi baku tembak — Sumber: Al Monitor

Namun Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Trump -- yang tampak bungkam sepanjang hari -- belum menandatangani perjanjian tersebut. Tidak ada reaksi langsung dari Iran.

"Sulit untuk mengatakan secara pasti kapan atau apakah Presiden akan menandatangani MOU tersebut," kata Vance, yang memainkan peran kunci dalam negosiasi tersebut, kepada wartawan. 

"Kami masih berdiskusi bolak-balik mengenai beberapa poin bahasa. Kami telah mencapai banyak kemajuan di sini." 

Vance mengatakan Iran bernegosiasi "setidaknya sejauh ini dengan itikad baik" dan kedua belah pihak ingin membuka kembali Selat Hormuz -- tetapi masih ada perbedaan pendapat mengenai persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.

"Semoga kita terus membuat kemajuan dan presiden akan berada dalam posisi di mana dia dapat mendukung kesepakatan tersebut, tetapi jelas itu masih TBD," yang berarti masih harus ditentukan, tambahnya.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan "kita mungkin memiliki potensi untuk mencapai kesepakatan di sini" tetapi mengatakan beberapa garis merah Trump masih belum terpenuhi.

"Dia tidak akan menerima kesepakatan yang buruk. Dia akan membuat kesepakatan yang hebat untuk rakyat Amerika," kata Bessent dalam sebuah pengarahan di Gedung Putih.

Sumber-sumber AS sebelumnya telah mengkonfirmasi laporan dari kantor berita Axios bahwa MOU tersebut akan membuka Selat Hormuz tetapi membiarkan program nuklir Iran belum terselesaikan, pembicaraan lebih lanjut akan menyusul mengenai masalah tersebut.

Axios melaporkan, kesepakatan 60 hari itu akan menyatakan bahwa pengiriman melalui Selat Hormuz tidak akan dibatasi, tanpa bea atau gangguan, dan Iran harus menyingkirkan semua ranjau dalam waktu 30 hari.

Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, tetapi hanya sebanding dengan seberapa banyak pengiriman komersial dipulihkan, kata AS.

Memorandum tersebut juga akan berisi komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir, kata Axios. Di antara isu pertama yang akan dibahas adalah bagaimana cara membuang persediaan uranium yang diperkaya milik Iran.

Trump mengatakan dalam rapat kabinet pada hari Rabu bahwa dia "belum puas" dengan tawaran Iran dan memperingatkan bahwa dia dapat "menyelesaikannya" secara militer. 

Trump berulang kali menegaskan, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir berdasarkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari. Gencatan senjata yang rapuh telah berlaku sejak 7 April.

Washington dan Teheran sama-sama saling tuding melanggar gencatan senjata pada Kamis pagi setelah terjadi baku tembak.

Namun, Menteri Keuangan Bessent menegaskan bahwa gencatan senjata tetap berlaku.

"Presiden Trump selalu lebih menyukai kesepakatan damai, jadi semua yang telah kita lakukan sejauh ini bersifat defensif, dan saat ini itulah yang akan terus kita lakukan," tambahnya.

  • Perundingan AS-Iran

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.