Prancis Open 2026 Dibayangi Gelombang Panas dan Ancaman Dehidrasi

Rabu, 27 Mei 2026, 08:02 WIB

PARIS, PRANCIS — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa Barat turut mengubah suasana Prancis Open 2026 menjadi ujian fisik bagi pemain, penonton, hingga staf penyelenggara di Roland Garros.

Suhu di Paris kembali menembus 34 derajat Celsius pada hari Selasa (26/5) waktu setempat setelah Prancis mencatat rekor temperatur tertinggi untuk bulan Mei sehari sebelumnya. Badan meteorologi Prancis, Meteo France, menyebut kondisi tersebut sebagai gelombang panas yang datang lebih awal dan berlangsung cukup panjang.

Ket. Foto: Aryna Sabalenka. — Sumber: AFP

“Ya, memang sangat panas,” ujar petenis tuan rumah Arthur Rinderknech setelah menang pada pertandingan Senin. “Kami tidak terbiasa dengan suhu seperti ini di Paris saat Roland Garros.”

Cuaca ekstrem itu memaksa banyak orang mencari berbagai cara untuk bertahan. Petugas medis Roland Garros menangani sekitar 25 orang pada Senin dan sekitar 15 orang lainnya hingga Selasa sore akibat dampak suhu tinggi.

“Kami sebenarnya memperkirakan situasinya akan lebih buruk,” kata kepala petugas keselamatan turnamen, Michel Franco Durand.

Pada babak awal Roland Garros, pertandingan dimulai sejak pukul 11 pagi dan banyak lapangan luar tidak memiliki pelindung dari sinar matahari langsung.

Di Court 14, pasangan penonton asal Kanada, Corinne dan Ray, memilih berdiri saat menyaksikan pertandingan antara Iva Jovic melawan Alexandra Eala.

“Kursinya terlalu panas,” kata Corinne. “Kami tidak terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi siapa juga yang terbiasa?”

Sementara itu, Mike Lipschutz dari Florida justru merasa nyaman. “Rasanya seperti di rumah,” katanya sambil tertawa.

Namun rekannya asal New York mengaku kesulitan menghadapi panas.

“Saya panik. Saya memakai handuk di kepala, topi, bahkan berlindung di balik lampu,” ujarnya.

Banyak penonton memilih berteduh sambil terus mengonsumsi air dingin untuk menghindari dehidrasi.

Noah, penonton asal Charleston, mengatakan kondisi kali ini jauh lebih panas dibanding biasanya di Paris. “Ini brutal. Saya melihat beberapa orang tampak sangat kelelahan,” katanya.

Cuaca panas juga menjadi tantangan besar bagi para pemain. Petenis Norwegia Casper Ruud mengaku hampir mengalami gejala heat stroke saat menjalani pertandingan lima set melawan Roman Safiullin.

“Di set keempat saya merasa sangat pusing dan kelelahan, seperti zombie saat berjalan,” kata Ruud.

Sebaliknya, sejumlah petenis Amerika justru merasa diuntungkan oleh kondisi tersebut karena terbiasa berlatih di cuaca panas Florida.

Ben Shelton mengatakan panas ekstrem dapat menjadi keuntungan bagi para pemain asal Amerika Serikat.

“Kami semua tinggal di Florida, jadi faktor fisik karena panas menjadi tidak terlalu berat,” ujar Shelton. “Cuaca panas jelas akan membantu kami.”

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka bahkan sempat mengingatkan penonton untuk menjaga kondisi tubuh setelah memenangkan pertandingan putaran pertama.

“Jangan lupa tetap terhidrasi,” katanya kepada para penonton di Court Philippe Chatrier.

Di balik panas menyengat, sejumlah pedagang justru menikmati lonjakan penjualan.

Flo Rannou, penjaga stan tabir surya resmi Roland Garros, mengaku sempat kesulitan berjualan saat babak kualifikasi berlangsung di tengah hujan dan cuaca dingin pekan lalu.

“Tiga hari pertama sangat sulit. Tidak ada yang membutuhkan sunscreen,” katanya. “Namun ketika cuaca berubah menjadi sangat panas, penjualan langsung melonjak.”

Hal serupa terjadi di stan es krim dekat Court Suzanne Lenglen. Seorang pegawai bernama Alia mengatakan antrean pembeli begitu panjang hingga ia tidak meninggalkan kasir selama sembilan jam.

Bahkan pada Minggu lalu, mereka sempat kehabisan stok es krim. “Pada hari Minggu kami benar-benar kehabisan es krim,” ujarnya.

Penyelenggara kini menambah jumlah titik air minum gratis setelah melihat antrean panjang di area pengisian air.

Meski demikian, tidak semua penonton memilih bertahan seharian di tengah suhu ekstrem.

“Kami hanya akan berada di sini beberapa jam hari ini,” kata Risa Lipschutz.

Sementara Corinne asal Kanada mengaku mungkin tidak akan menonton seharian penuh lagi pada pertandingan berikutnya demi menghindari cuaca panas Paris yang tak biasa itu.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.