Russia Serang Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik, 4 Orang Tewas
📅 Senin, 25 Mei 2026, 05:30 WIB | Oleh: Tim PenulisKYIV - Russia melancarkan serangan besar-besaran ke Kyiv yang menewaskan sedikitnya empat orang, menurut otoritas Ukraina pada Minggu (24/5). Dalam salah satu gelombang serangan terbesar selama lebih dari empat tahun perang, Moskow juga menggunakan rudal hipersonik Oreshnik yang mampu membawa hulu ledak nuklir.
Ledakan keras terdengar berkali-kali di ibu kota Ukraina sejak dini hari, menurut laporan jurnalis AFP. Warga berbondong-bondong berlindung di stasiun bawah tanah untuk menghindari serangan udara.
Saat pagi tiba, petugas penyelamat terlihat memadamkan kebakaran dan menyisir puing-puing bangunan yang rusak berat, termasuk rumah, pusat perbelanjaan, museum, teater, sekolah, dan universitas.
Sebelumnya, Presiden Russia Vladimir Putin mengancam akan melakukan pembalasan setelah serangan Ukraina di wilayah timur Ukraina yang diduduki Russia menewaskan 21 orang di sebuah sekolah kejuruan.
Seorang warga Kyiv berusia 21 tahun, Sofia Melnychenko, mengatakan dirinya mengira aman berada di stasiun metro. Namun situasi berubah mencekam setelah ledakan terus terjadi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Lalu ada tiga ledakan keras, dan setelah ledakan keempat langit-langit metro mulai runtuh,” katanya kepada AFP.
“Situasinya benar-benar kacau. Anak-anak mulai berteriak, orang-orang panik,” ujarnya.
“Itu malam yang sangat menakutkan.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Angkatan Udara Ukraina menyebut serangan tersebut melibatkan 600 drone dan 90 rudal. Dari jumlah itu, sebanyak 549 drone dan 55 rudal berhasil dicegat.
Eropa Sebut Russia Putus Asa
Kyiv saat ini menghadapi kekurangan serius rudal pertahanan udara setelah meningkatnya permintaan rudal Patriot buatan Amerika Serikat akibat konflik Israel-Iran.
Para pemimpin Eropa menilai serangan besar-besaran itu menunjukkan kepanikan dan keputusasaan Russia.
“Teror terhadap warga sipil bukanlah kekuatan, melainkan keputusasaan,” tulis Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen di platform X.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut serangan tersebut sebagai “jalan buntu perang agresi Russia”, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut penggunaan rudal Oreshnik sebagai “eskalasi yang ceroboh”.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mendesak sekutu Barat mengambil langkah nyata untuk memperkuat pertahanan udara negaranya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!