• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Perjalanan Cahaya Manthova...

Perjalanan Cahaya Manthovani Membangun Creative Movement Berbasis Dampak Sosial

Sabtu, 23 Mei 2026, 16:02 WIB

Di tengah perkembangan industri kreatif Indonesia yang semakin dinamis, nama Cahaya Manthovani mulai dikenal sebagai sosok muda yang aktif menggabungkan kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dalam berbagai kegiatan yang digelutinya.

Perempuan berusia 26 tahun tersebut dipercaya memimpin sejumlah agenda nasional melalui perusahaan kreatif PT Navaswara Bhuwana Kencana. Tidak sekadar menghadirkan acara hiburan atau seremoni, Cahaya berupaya menjadikan setiap kegiatan sebagai ruang untuk menyampaikan pesan sosial, budaya, hingga pemberdayaan masyarakat.

Ket. Foto: Cahaya Manthovani bersama para penyandang disabilitas. Perjalanan Cahaya Manthovani di industri kreatif tidak hanya menghadirkan event berskala nasional, tetapi juga mendorong gerakan sosial, inklusivitas, dan pemberdayaan generasi muda Indonesia. — Sumber: Dok. Pribadi

“Semua berawal dari mengikuti alur hidup. Sebagai lulusan architectural design di Korea Selatan, yaitu negara yang sangat mendorong kreativitas, saya belajar banyak dari mereka. Dunia industri kreatif adalah awal mula saya menjejaki karier,” ujar Cahaya.

Lulusan Kyungsung University tersebut menuturkan bahwa ketertarikannya terhadap industri kreatif sudah tumbuh sejak lama. Sementara dunia event, menurutnya, hadir sebagai bagian dari perjalanan hidup yang berkembang seiring waktu.

“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan saya mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” tuturnya.

Sejumlah agenda nasional yang pernah dipimpinnya antara lain Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025, Inklusiland 2025, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026, hingga Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026.

Menurut Cahaya, sebuah event harus memiliki tujuan dan dampak yang jelas bagi masyarakat. Ia menilai kegiatan kreatif dapat menjadi medium untuk membangun kesadaran publik dengan pendekatan yang lebih menyenangkan dan mudah diterima.

“Ketika ingin membuat sebuah event, kita sendiri harus tahu betul tujuan utamanya itu apa. Efeknya apa? Apakah hanya berguna untuk sendiri atau bisa menginspirasi orang banyak?” ujarnya.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Suara Nusantara, sebuah festival storytelling yang mendorong peserta untuk membaca dan memahami cerita rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.

Ia mengatakan, program tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap kebiasaan masyarakat yang semakin sibuk dengan gawai dan kurang percaya diri dalam berkomunikasi maupun bersosialisasi.

“Nah, untuk menaikkan awareness dengan cara yang menyenangkan itu seperti apa sih? Salah satunya Suara Nusantara. Peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia,” ucap Cahaya.

“Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” lanjutnya.

Selain aktif di industri kreatif, Cahaya juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, khususnya yang berkaitan dengan isu inklusivitas dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia menginisiasi sejumlah program sosial untuk anak-anak disabilitas di Provinsi Banten.

Salah satu program yang mendapat perhatian ialah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus dan disabilitas di Banten. Program tersebut melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.

Cahaya juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland yang digelar dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional. Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga masyarakat umum.

Pengalaman internasional turut mewarnai perjalanan kariernya. Cahaya pernah bertugas sebagai CDM ASEAN Youth Paragames 2025 di Dubai. Dalam ajang tersebut, kontingen Indonesia berhasil meraih total 59 medali, terdiri atas 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.

Bagi Cahaya, keberhasilan sebuah program tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi. Ia menilai kerja sama lintas sektor menjadi fondasi penting untuk memperluas dampak sosial dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya membuka diri untuk belajar dan berkolaborasi dengan banyak pihak, terutama di tengah besarnya potensi sumber daya manusia Indonesia.

“Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi paling banyak di dunia. Beragam isinya, dan juga banyak sekali orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dengan berkolaborasi bersama,” katanya.

Di balik berbagai pencapaian tersebut, Cahaya mengakui dirinya kerap menghadapi tantangan karena penampilannya yang dianggap terlalu muda.

“Tantangan terbesar adalah first impression orang-orang terhadap saya. Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat sangat lebih muda dari umur saya, semua orang selalu mengira saya bocah SMP, SMA, atau kuliah,” papar Cahaya.

Namun, ia memilih menjadikan pandangan tersebut sebagai motivasi untuk membuktikan kualitas kerja dan komitmennya.

“Dengan berjalan waktu, mereka akan mengungkapkan intensi di belakang, dan saat itulah saya mulai memperlihatkan ketegasan, ketelitian, tegak lurus dan komitmen terhadap misi dan tujuan pekerjaan saya menuju kesuksesan,” tambahnya.

Konsistensinya di industri kreatif dan kegiatan sosial membawanya menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Puspa Nawasena dalam Anugerah Puspa Bangsa 2025 yang digelar Kompas TV serta penghargaan The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.

Di tengah kesibukannya memimpin berbagai proyek kreatif, Cahaya terus mendorong anak muda Indonesia untuk berani mengembangkan diri dan meningkatkan kapasitas pribadi.

“Harus sering belajar, sering berlatih skills apa pun yang diminati, sering membaca buku atau berita dan memahaminya,” lanjutnya.

Ia menilai membangun usaha dan menjadi entrepreneur membutuhkan proses panjang, konsistensi, serta ketekunan.

“Menjadi entrepreneur bukan sesuatu hal yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutup Cahaya.

Bagi banyak kalangan muda, Cahaya Manthovani kini dinilai menjadi representasi generasi baru pemimpin industri kreatif Indonesia yang adaptif, visioner, sekaligus memiliki kepedulian sosial yang kuat.

  • Industri Kreatif
  • Cahaya Manthovani
  • Inklusivitas
  • Creative Movement
  • Event Nasional
  • Anak Muda Inspiratif
  • Pemberdayaan Sosial
  • Suara Nusantara

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.