Jejak Energi Baru: ESDM Cek Sampel BBM Berbasis Sampah
Jumat, 22 Mei 2026, 18:55 WIBJAKARTA â Uji sampel penghasil BBM dari sampah menunjukkan bahwa pengolahan limbah tidak lagi sekadar soal kebersihan lingkungan, tetapi mulai bergerak menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.
Teknologi ini membuka peluang mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus menekan volume sampah yang terus meningkat di perkotaan.
Namun, keberhasilan program semacam ini tetap bergantung pada konsistensi kualitas bahan bakar yang dihasilkan, efisiensi biaya produksi, serta kesiapan infrastruktur pengolahan dalam skala besar.
Jika mampu melewati tahap uji dan komersialisasi secara berkelanjutan, pengolahan sampah menjadi BBM dapat berkembang menjadi solusi ganda bagi krisis energi dan persoalan lingkungan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji sampel bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang terbuat dari sampah yang bersumber dari 12 lokasi.
âSaat sekarang, saya sedang mengambil sampling di 12 lokasi untuk yang tempat-tempat yang sudah menghasilkan BBMT (bahan bakar minyak terbarukan) dengan skema pirolisis,â ujar Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika ditemui di sela-sela IPA Convex, Tangerang, Banten, Kamis (22/5).
Eniya menyampaikan pihaknya akan melakukan pemeriksaan ulang ihwal spesifikasi Cetane Number (CN) atau angka Setana terhadap solar yang dihasilkan dari sampah tersebut.
Dia menjelaskan angka CN yang tinggi berarti bahan bakar lebih mudah terbakar dan menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna, bertenaga, dan efisien.
âBegitu ada yang nyerahin bilang CN-nya 53, ternyata di pengujian kami (CN-nya) 19. Nah, ini yang perlu saya klarifikasi,â ujar Eniya.
Ia menyatakan Kementerian ESDM akan menguji sampel-sampel tersebut di Lemigas atau Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi. Hingga saat ini, proses pengujian tersebut masih berlangsung.
Kemudian, Eniya menyampaikan apabila proses pengujian sudah selesai, Kementerian ESDM akan mengidentifikasi dan memetakan jenis solar berdasarkan spesifikasi yang diperoleh.
âJadi nanti per tempat, per lokasi, kami tentukan apakah dia CN 48, CN 51, atau lainnya. Itu kami kumpulkan, kami identifikasi dulu,â kata Eniya.
Nantinya, kata dia, para penghasil solar dari sampah yang sesuai dengan spesifikasi Kementerian ESDM akan masuk ke Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) khusus sampah menjadi energi (waste to energy) yang diampu oleh Kementerian ESDM.
Dengan demikian, mereka sudah mendapatkan izin untuk berjualan. âJadi, bukan lagi ilegal. Jadi bisa menjual antarbisnis. Gitu,â kata dia.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan akan mengolah timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Zulhas mengatakan pengolahan sampah menjadi BBM merupakan bagian dari transformasi besar pengelolaan sampah. Sebelumnya, tutur dia, pemerintah fokus pada pengolahan sampah menjadi listrik.
Kini, pemerintah mendorong timbunan sampah menjadi BBM dengan skema pirolisis atau proses penguraian bahan organik melalui pemanasan suhu tinggi.
Zulhas mengungkapkan terdapat enam lokasi yang dibidik untuk proyek sampah menjadi BBM.
"Ada enam (lokasi). Ada di Bantargebang, ada di Bandung, ada di Bali," ucap Zulhas.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ajak Wisatawan di Bromo Terapkan Gerakan Bawa Turun Sampahmu
-
Musim Tanah Liat Mulai Memanas
-
Emas Antam pada Senin Ini Turun Rp44.000 Menjadi Rp2,840 Juta/Gr
-
Ditemukan Juga di Tambang Batu Bara
-
Sekjen PBB Sambut Baik Gencatan Senjata Lebanon-Israel, Dukung Upaya Damai
-
Sempat Tertunda, Proyek Blok Tuna Hidup Lagi! Perusahaan Rusia Siap Gaspol Juni 2026
-
Inggris Loloskan RUU Larangan Membeli Rokok untuk Warga Kelahiran Tahun 2009 Ke Atas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.