Janice dan Alexandra, Kebanggaan Asia Tenggara di Panggung Roland Garros

Rabu, 20 Mei 2026, 08:28 WIB

PARIS - Dua petenis muda Asia Tenggara, Alexandra Eala dan Janice Tjen, sedang menulis sejarah baru di panggung tenis dunia. Meski menempuh jalan berbeda menuju level elite, keduanya dipersatukan oleh satu hal: membawa kebanggaan Asia Tenggara ke arena grand slam Roland Garros.

Bagi kawasan yang selama ini jarang diperhitungkan dalam peta tenis dunia, kemunculan Alexandra dan Janice menjadi simbol perubahan. Mereka bukan sekadar petenis dengan ranking tinggi, tetapi wajah baru tenis Asia Tenggara yang mulai mendapat perhatian dunia.

Ket. Foto: Alexandra Eala dan Janice Tjen. — Sumber: AFP

Pada bulan Januari lalu, Alexandra yang akan berusia 21 tahun sehari sebelum Roland Garros dimulai, mencatat sejarah sebagai petenis Filipina pertama yang menembus 50 besar dunia. Kini, ia bertengger di peringkat ke-38 WTA.

Sementara itu, Janice yang genap berusia 24 tahun pada Mei ini, sukses menjadi petenis putri Indonesia dengan ranking tertinggi sejak era Yayuk Basuki. Ketika menembus 40 besar dunia pada Februari lalu, Janice mengakhiri penantian panjang tenis putri Indonesia sejak Yayuk pernah mencapai 20 besar dunia pada tahun 1997 dan 1998.

Meski Filipina dan Indonesia dipisahkan lebih dari 1.500 kilometer lautan, keduanya memiliki kedekatan budaya yang kuat. Kehadiran Alexandra dan Janice, baik di lapangan maupun di tribun penonton, bahkan melahirkan julukan “SEASters”, simbol persaudaraan Asia Tenggara di dunia tenis.

Popularitas Alexandra meningkat pesat sepanjang musim ini. Dukungan diaspora Filipina selalu terlihat di setiap turnamen yang ia jalani.

“Awal musim ini menjadi momen ketika saya benar-benar sadar bahwa orang-orang datang khusus untuk menonton saya bermain. Mereka membeli tiket dan meluangkan waktu mereka. Rasanya luar biasa,” ujar Alexandra kepada Served.

Petenis kidal itu mengaku sempat sulit menerima besarnya perhatian publik yang datang begitu cepat.

“Awalnya saya menyangkal dan berpikir saya belum benar-benar terkenal. Tetapi setiap pekan mereka terus datang mendukung saya. Akhirnya saya sadar bahwa ini adalah sesuatu yang harus diterima dan disyukuri,” katanya.

Atmosfer dukungan terhadap Alexandra bahkan menarik perhatian para rivalnya. Petenis Amerika Serikat, Amanda Anisimova, memuji besarnya dukungan yang dimiliki Alexandra.

“Saya suka bagaimana dia memiliki basis penggemar yang luar biasa. Atmosfer di tribun benar-benar hebat,” kata Anisimova saat turnamen di Dubai.

Meski menikmati popularitasnya, Alexandra berusaha menjaga keseimbangan antara ekspektasi publik dan kebutuhan pribadinya sebagai atlet profesional.

“Saya ingin membalas semua dukungan yang diberikan kepada saya, tetapi kewajiban pertama saya adalah kepada diri sendiri. Saya mencoba menemukan cara paling sehat menghadapi semua ini karena banyak hal bisa saja berjalan salah. Semua tentang menjaga keseimbangan,” ujar Alexandra kepada Punto de Break.

Di sisi lain, Janice juga mulai menjadi magnet baru tenis Indonesia. Membela negara dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, petenis peringkat 41 dunia itu mengaku bangga membawa nama Indonesia ke level tertinggi.

“Saya tidak terlalu memikirkan tekanan itu. Saya tahu selama terus bekerja keras dan memberikan yang terbaik, Indonesia selalu mendukung saya. Itu sesuatu yang membuat saya bangga,” ujar Janice menjelang laga Billie Jean King Cup di New Delhi, April lalu.

Kebangkitan tenis putri Asia Tenggara tidak hanya berhenti pada Alexandra dan Janice. Dua petenis Thailand, Lanlana Tararudee dan Mananchaya Sawangkaew, juga mulai mendekati 100 besar dunia.

Alexandra mengaku bangga menjadi bagian dari generasi baru tenis Asia Tenggara tersebut.

“Saya sangat bangga menjadi bagian dari kelompok ini. Kami tumbuh bersama sejak kecil,” ujarnya.

“Asia Tenggara punya daya tarik tersendiri. Humor kami mirip dan ada banyak kesamaan budaya. Ada rasa bangga yang sama terhadap kawasan kami.”

Perjalanan Alexandra menuju level elite dimulai sejak usia 12 tahun ketika ia meninggalkan Filipina untuk bergabung dengan Rafael Nadal Academy di Mallorca, Spanyol. Pada 2022, ia menjuarai nomor tunggal putri junior US Open.

Musim lalu, setelah menembus 50 besar dunia, Alexandra juga menjadi petenis pertama yang berlatih bersama Rafael Nadal setelah sang legenda pensiun.

“Rasanya luar biasa. Itu pertama kalinya saya berlatih dengan Rafa dan saya sangat gugup. Latihannya juga sangat berat secara fisik. Bisa mengatakan pernah hitting bersama Rafa adalah sesuatu yang gila,” kata Alexandra kepada The National.

Sebagai petenis kidal seperti Nadal, Alexandra mulai menunjukkan mentalitas pantang menyerah khas idolanya. Setelah memenangi laga tiga set yang melelahkan melawan Magdalena Frech di Italian Open awal bulan ini, ia berkata di Tennis Channel: “Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya belum cukup lelah.”

Meski demikian, Alexandra mengakui dirinya masih berusaha membangun hubungan dengan lapangan tanah liat, permukaan yang identik dengan Nadal dan Roland Garros.

“Saya masih membangun chemistry dengan clay. Ini musim pertama saya benar-benar bermain di turnamen level tinggi,” katanya di Roma.

Berbeda dengan Alexandra, perjalanan Janice berkembang lewat sistem olahraga kampus di Amerika Serikat. Ia sempat menimba ilmu di University of Oregon sebelum melanjutkan tiga tahun di Pepperdine University di Malibu.

Pengalaman Janice di lapangan tanah liat juga masih minim. Ia bahkan baru memainkan pertandingan level tur profesional di lapangan tanah liat pada April lalu.

“Saya mencoba menjalani semuanya selangkah demi selangkah,” ujar Janice kepada situs resmi Roland Garros.

Janice juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah mempertimbangkan meninggalkan tenis profesional karena beratnya tuntutan hidup sebagai atlet.

“Tenis menuntut banyak hal. Anda harus bepergian hampir setiap minggu sepanjang hidup dan itu sangat berat bagi saya. Saya sebenarnya tidak terlalu suka bepergian dan lama jauh dari rumah,” kata Janice kepada Times of India.

“Saya sempat ingin berhenti. Tetapi banyak orang baik di sekitar saya yang terus meyakinkan agar saya memberi kesempatan sekali lagi.”

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.