Rupiah Melemah, Ancaman Inflasi Mulai Membayangi
Jumat, 15 Mei 2026, 06:05 WIBStabilitas Keuangan - Rupiah Sepanjang 2026 Melemah 4,20% atau di Atas 2025 sebesar 3,96%
Tanpa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat, tekanan nilai tukar berisiko memicu inflasi lebih luas dan memperbesar ketidakpastian ekonomi di tengah dinamika global yang masih fluktuatif.
JAKARTA â Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menimbulÂkan tekanan terhadap harga barang dan biaya produksi, terutama pada sektor yang meÂmiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, energi, maupun barang modal. Meski dampaknya belum terÂlihat signifikan dalam data inÂflasi saat ini, tekanan tersebut berpotensi muncul secara berÂtahap melalui kenaikan biaÂya distribusi dan penyesuaian harga di tingkat konsumen.Â
Situasi ini perlu diwaspadai karena pelemahan kurs yang berkepanjangan dapat menguÂrangi daya beli masyarakat dan menekan aktivitas konsumsi domestik yang selama ini menÂjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Karenanya, sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting agar stabilitas ekonomi tetap terÂjaga. Kebijakan moneter diperÂlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ekspektasi paÂsar, sementara kebijakan fiskal berperan menjaga daya beli masyarakat melalui pengendaÂlian harga pangan, subsidi yang tepat sasaran, serta penguatan sektor produksi domestik.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet melihat peleÂmahan rupiah sudah mulai memberikan tekanan harga, meski belum signifikan dan terlihat di angka inflasi. âMesÂkipun, inflasi saat ini masih reÂlatif rendah, tekanan di lapangÂan mulai terasa, terutama dari kenaikan biaya impor, energi, dan distribusi,â kata Yusuf seÂperti dikutip dari Antara, Rabu (13/5).
Yusuf menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa karena struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada impor pangan, BBM, baÂhan baku industri, dan barang modal. Dampaknya memang tidak langsung terlihat pada inÂflasi, tetapi akan muncul bertaÂhap jika nilai tukar terus meleÂmah dalam waktu lama.
âTekanan terbesar diperÂkirakan berasal dari kenaikÂan harga pangan impor, biaÂya energi dan transportasi, serta meningkatnya ongkos produksi industri yang masih memakai bahan baku impor,â ujarnya.
Menurut dia, intervensi Bank Indonesia (BI) penting untuk menjaga stabilitas ruÂpiah dan mencegah kepanikan pasar, namun tidak bisa dilakuÂkan sendirian tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Karena itu, diperlukan sinkronisasi keÂbijakan fiskal dan moneter, terÂmasuk memperkuat pasokan devisa, menjaga disiplin fiskal, mengurangi ketergantungan impor energi dan pangan, serta memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perÂdagangan internasional agar tekanan terhadap dollar AS daÂpat berkurang.
Persoalan Struktural
Seperti diketahui, kurs ruÂpiah terhadap dollar AS sepanÂjang tahun ini melemah 705 poin atau sekitar 4,20 persen. Nilai tukar rupiah pada peÂnutupan perdagangan, Jumat (13/5), berada di level 17.476 rupiah per dolar AS, jauh di atas catatan pada akhir 2025 di level 16.771 rupiah per dolÂlar AS.
Bahkan, pelemahan rupiah saat ini melampaui catatan koreksi selama setahun penuh pada 2025 sebesar 639 poin atau 3,96 persen. Selain itu, kurs rupiah saat ini melampaui target daÂlam APBN 2026 sebesar 16.500 rupiah per dollar AS.Â
Pengamat Kebijakan Publik dari Fitra, Badiul Hadi menilai pelemahan rupiah saat ini tiÂdak sekadar dipengaruhi sentiÂmen pasar jangka pendek, teÂtapi mencerminkan persoalan struktural dalam perekonoÂmian nasional. KetergantunÂgan terhadap arus modal asing dan impor bahan baku memÂbuat ekonomi Indonesia renÂtan terhadap gejolak global, terutama ketika dolar AS meÂnguat dan biaya impor meningkat.
âKondisi ini juga meÂmicu risiko imported inÂflation yang dapat memÂberi tekanan pada harga barang di dalam negeri,â katanya kepada Koran Jakarta, Kamis (14/5).
Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS) membuat BI harus menÂjaga daya tarik instrumen doÂmestik agar arus modal asing tidak keluar lebih besar. Situasi tersebut menyebabkan ruang kebijakan moneter menjadi leÂbih terbatas karena BI dituntut menjaga stabilitas rupiah sekaÂligus menopang pertumbuhan ekonomi.
Badiul mengakui kenaikan BI Rate mungkin efektif menaÂhan depresiasi rupiah.
Permata Institute for EcoÂnomic Research (PIER), lemÂbaga riset ekonomi di bawah Permata Bank, memproyeksiÂkan BI berpeluang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate ke level 5 persen pada semester I 2026. âKita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada. Jadi kita proyekÂsi kemungkinan akan ada keÂnaikan 25 persen (basis) poin di semester pertama,â kata Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di JaÂkarta, Selasa (12/5).Â
Berita Terkait:
-
Toleransi Antarumat Beragama Kediri Diperkuat lewat Edukasi
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.