• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Psikolog: Korban Kecelakaa...

Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!

Rabu, 29 Apr 2026, 09:46 WIB

JAKARTA - Trauma psikologis akibat kecelakaan kereta api berisiko berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), terutama pada korban yang mengalami langsung peristiwa tersebut.

Ratih mengatakan pengalaman kecelakaan yang melibatkan luka serius dan situasi yang mengancam nyawa dapat meninggalkan dampak emosional yang kuat bagi korban.

Ket. Foto: Presiden Prabowo Subianto menjenguk korban kecelakaan tabrakan kereta api (KA) jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang dirawat di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). — Sumber: BPMI Setpres

“Trauma kecelakaan berpotensi sangat besar untuk berkembang menjadi PTSD, terutama jika korban mengalami langsung kejadian, terluka, dan berada dalam situasi yang dekat dengan maut,” kata Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Selasa (28/4).

Ia menjelaskan, kecelakaan sering kali terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan, sehingga memicu guncangan psikologis yang intens. Kondisi ini dapat menimbulkan pengalaman kilas balik atau flashback terhadap kejadian yang dialami.

Menurut Psikolog yang tergabung dalam Tim Ahli Kelompok Kerja Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI itu, korban bisa terus mengingat kembali peristiwa tersebut secara berulang, seolah-olah kejadian itu terjadi kembali. Hal ini dapat berlangsung dalam jangka waktu cukup lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Pengalaman melihat kematian atau kehilangan secara tragis di depan mata juga memberikan tekanan emosional yang sangat kuat,” ujarnya.

Ratih menambahkan, jika gejala trauma berlangsung lebih dari satu bulan, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi PTSD dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Ia menegaskan bahwa trauma tidak memandang jenis kelamin maupun peran gender. Setiap individu yang mengalami peristiwa traumatis memiliki risiko yang sama untuk mengalami gangguan psikologis.

Namun, ia mengingatkan bahwa faktor sosial, ekonomi, dan budaya dapat memengaruhi tingkat keparahan trauma serta memperlambat proses pemulihan.

“Konteks sosial dan tekanan yang dihadapi individu bisa memperparah kondisi, sehingga pemulihan menjadi lebih lama,” kata dia.

Kecelakaan kereta api di wilayah Bekasi Timur sebelumnya menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Peristiwa tersebut juga menyisakan dampak psikologis bagi para penyintas yang mengalami langsung kejadian tersebut.

Ratih menekankan pentingnya penanganan trauma secara tepat agar kondisi korban tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius dan berkepanjangan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.