BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
Senin, 27 Apr 2026, 20:20 WIBDENPASAR â Transaksi sistem pembayaran digital berbasis kode batang seperti Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) lintas negara mencerminkan langkah konkret integrasi keuangan regional yang semakin dalam.
Skema ini memungkinkan pengguna melakukan pembayaran di luar negeri dengan memindai kode QR, sementara proses konversi mata uang dan penyelesaian transaksi dilakukan secara real time melalui kerja sama antarotoritas sistem pembayaran.
Dari sisi ekonomi, ekspansi QRIS lintas negara berpotensi menekan biaya transaksi, meningkatkan efisiensi, dan memperluas inklusi keuangan, khususnya bagi pelaku UMKM dan sektor pariwisata.
Namun, di balik peluang tersebut, terdapat tantangan yang perlu diantisipasi, seperti harmonisasi regulasi, keamanan data, serta stabilitas nilai tukar yang dapat memengaruhi nilai transaksi.
Dengan demikian, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada koordinasi lintas negara yang solid dan penguatan infrastruktur digital yang andal.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mencatat transaksi sistem pembayaran digital berbasis kode bar (QRIS) lintas negara di Bali pada 2025 menembus Rp36 miliar atau melonjak 229 persen dibandingkan 2024 mencapai sekitar Rp10,9 miliar.
âEkosistem digital di Bali didorong program perluasan akseptasi digital,â kata Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Senin (27/4).
Ia mencatat volume transaksi QRIS lintas negara mencapai 148.717 kali transaksi selama 2025 atau tumbuh 224 persen.
Bank sentral mencatat baik secara nasional dan di Bali, wisatawan asal Malaysia menjadi pengguna paling banyak untuk transaksi QRIS.
Selain Malaysia, transaksi QRIS lintas negara juga sudah bisa dilakukan di Singapura, Thailand, Jepang dan kini menyasar Korea Selatan.
Transaksi digital itu semakin menjadi referensi setelah banyak bermunculan pelaku usaha yang menggunakan sistem pembayaran QRIS.
Berdasarkan data hingga Februari 2026, total gerai usaha yang menggunakan QRIS di Bali mencapai 1,1 juta dan pengguna yang memanfaatkan itu mencapai 1,15 juta orang konsumen.
Adapun sebagian besar atau 58,76 persen QRIS digunakan pelaku usaha mikro, sisanya usaha kecil 30,35 persen, usaha menengah 7,54 persen dan usaha besar ada 2,95 persen.
Pelaku usaha di Denpasar masih yang paling banyak memanfaatkan QRIS yakni 434 ribu gerai usaha atau 40 persen, kemudian Kabupaten Badung tersebar di 290 ribu gerai usaha atau 26 persen dan Gianyar ada 114 ribu gerai usaha.
Sedangkan kabupaten lainnya terbilang rendah yakni kisaran di bawah tujuh persen hingga dua persen.
Selain QRIS, Erwin berharap pemanfaatan transaksi digital diperluas melalui penerapan tiket elektronik di daerah tujuan wisata, perluasan penerimaan retribusi/pajak melalui digitalisasi dan peningkatan realisasi belanja pemerintah menggunakan kartu kredit Indonesia.
- Bank Indonesia (BI)
- QRIS Cross Border
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Harga BBM di Inggris Melonjak, SPBU Alami Gangguan Pasokan
-
Libur Paskah, Penumpang Kereta dari Jakarta Capai 30 Ribu Orang
-
Harga Telur Bergejolak, Satgas Saber Pangan Jabar Turun Tangan Kendalikan Harga
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Hari Film Nasional: JYFF 2026 Perkuat Peran Generasi Muda dalam Industri Kreatif Jakarta
-
Arus mudik sepeda motor di Pantura
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.