Dari Cermin Cembung Jadi Ladang Cuan, Kreativitas Pemuda Sampit Curi Perhatian
Kamis, 14 Mei 2026, 17:35 WIBSAMPIT â Di tengah ramainya tren convex mirror selfie di media sosial, seorang pemuda di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, justru melihat peluang yang lebih dari sekadar gaya berfoto kekinian.
Dengan membawa cermin cembung dan kamera sederhana, ia berkeliling ke titik-titik keramaian untuk menawarkan jasa foto unik yang kini digemari banyak orang.
Pantulan khas dari cermin cembung menghadirkan hasil foto yang estetik dan berbeda, membuat banyak anak muda hingga keluarga penasaran untuk mencobanya.
Dari taman kota, area car free day, hingga pusat keramaian malam, jasa foto ini perlahan menjadi hiburan sekaligus peluang ekonomi kreatif baru.
Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana tren media sosial bisa diubah menjadi sumber penghasilan melalui kreativitas dan kejelian membaca minat pasar.
Di tangan anak muda kreatif, sesuatu yang awalnya hanya viral di internet mampu berkembang menjadi usaha sederhana yang mendatangkan cuan.
âTerinspirasi dari media sosial. Saya mencoba hal-hal yang viral dan belum ada di Sampit,â kata Jakaria di Sampit, Kamis (14/5).
Ia mengaku mulai menawarkan jasa convex mirror selfie sejak beberapa hari terakhir dengan menyasar lokasi ramai, seperti Taman Kota Sampit saat Car Free Day, kawasan wisata Terowongan Nur Mentaya pada sore hingga malam hari, hingga berbagai lokasi kegiatan masyarakat lainnya.
Ia menawarkan jasa foto menggunakan convex mirror dengan tarif Rp5 ribu per sesi. Dalam satu sesi yang berdurasi tiga menit, pengunjung dapat berfoto sepuasnya menggunakan kamera atau smartphone pribadi.
âBahkan kalau kondisi sepi, pengunjung boleh berfoto sepuasnya tanpa dibatasi waktu,â imbuhnya.
Konsep tersebut menarik perhatian masyarakat, khususnya kalangan muda yang ingin mengikuti tren konten kreatif di media sosial tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Bentuk cermin cembung menghasilkan efek foto unik dan estetik sehingga cocok digunakan untuk kebutuhan unggahan media sosial.
Menurut Jakaria, respons masyarakat sejauh ini cukup baik dan antusiasme pengunjung terbilang ramai, terutama saat berada di lokasi yang banyak didatangi warga pada akhir pekan maupun malam hari.
âAlhamdulillah respons masyarakat cukup positif, cukup ramai yang menggunakan jasa ini,â ujarnya.
Jakaria juga mengungkapkan usaha itu saat ini masih menjadi pekerjaan sampingan karena dirinya tetap memprioritaskan pekerjaan utama di sebuah pusat perbelanjaan di Sampit.
Sistem kerja bergilir atau shift di pusat perbelanjaan memberinya kesempatan untuk menjalankan usaha tersebut di luar jam kerja.
Ia juga membeberkan, modal awal usaha tersebut tidak terlalu besar, yakni sekitar Rp400 ribu lebih. Dana itu digunakan untuk membeli cermin cembung secara daring dengan harga sekitar Rp200 ribu, sementara kebutuhan lain seperti pilox, cetak stiker, dan tiang penyangga dibeli di Sampit.
Fenomena ini memperlihatkan perkembangan media sosial tidak selalu berdampak negatif apabila dimanfaatkan secara bijak dan produktif.
Tren yang muncul di platform digital dapat menjadi peluang usaha kreatif bagi generasi muda, selama digunakan untuk kegiatan positif dan tidak sekadar mengejar sensasi semata.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jasamarga Transjawa Tol Masih Berlakukan Diskon Tarif Tol 20 Persen
-
BPBD Cianjur: Ratusan Rumah Mulai Dibersihkan Pascabanjir
-
BNPB: Kebakaran Hutan Terjadi di Aceh, Riau dan Kalteng Meski Masih Musim Hujan
-
Guru Madrasah dan Harapan PPPK, Bukan Sekadar Status tapi Pengakuan Negara Atas Pengabdian Panjang
-
Personel TNI Mulai Amankan Kejaksaan di Jateng dan DIY, Jumlah Personel Disesuaikan Kondisi Tiap Daerah
-
Baznas DKI Targetkan Himpun Dana ZIS Rp450 Miliar pada 2026
-
Kawasan Teluk Bergejolak: Drone Iran Sasar Kapal Tanker Kuwait
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.