- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS-Korsel Persingkat Latih...
AS-Korsel Persingkat Latihan Militer Gabungan
Kamis, 20 Agu 2026, 02:45 WIBSEOUL - Latihan perang tahunan antara Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) akan berakhir sekitar seminggu lebih cepat dari yang direncanakan, kata kedua negara pada Rabu (19/8). Latihan militer gabungan itu dipersingkat setelah Presiden AS, Donald Trump, memerintahkan agar latihan yang dianggap tidak pantas dan bermusuhan itu dikurangi skalanya.
Sebelumnya pada Minggu (16/8), Presiden Trump mengatakan bahwa ia telah memerintahkan Pentagon untuk mengurangi latihan tahunan Ulchi Freedom Shield (UFSD), sehari sebelum dimulai, dengan alasan hubungan baiknya dengan pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un.
Pada Rabu, media pemerintah Pyongyang mengkritik latihan militer tersebut sebagai ancaman yang paling langsung dan terbuka, tanpa menyebutkan perintah Trump. Beberapa jam kemudian, militer Seoul mengatakan latihan tersebut akan berakhir pada Jumat (21/8), bukan pada tanggal 27 Agustus seperti yang direncanakan semula.
"Kami telah memutuskan untuk menyesuaikan periode latihan UFS agar berlangsung dari tanggal 17 hingga 21," kata Kepala Staf Gabungan Korsel dalam sebuah pernyataan. âKeputusan itu dibuat atas saran dari pihak AS," imbuh mereka.
Pentagon mengatakan latihan yang dikurangi secara signifikan tersebut akan mempertahankan kesiapan penting dan tidak akan menyebabkan penurunan tujuan pelatihan AS.
Latihan-latihan ini sendiri dirancang untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan serangan dari Korut. Latihan tersebut awalnya akan digelar dalam dua fase: fase pertama, yang berfokus pada pertahanan terhadap potensi ancaman Korut, dijadwalkan berlangsung hingga Jumat; dan fase kedua, yang berfokus pada serangan balasan, dari tanggal 24 hingga 27 Agustus. Namun fase kedua kemudian dibatalkan.
Seorang pejabat militer Korsel mengatakan kepada AFP bahwa Seoul memandang keputusan itu sebagai tidak biasa.
Sementara Korut telah lama menyuarakan kemarahan atas latihan-latihan tersebut, menganggapnya sebagai gladi bersih untuk invasi. Komentar yang dikeluarkan oleh kantor berita KCNA pada Rabu mengatakan bahwa latihan itu menimbulkan ancaman paling langsung dan terbuka bagi Korut dan bagi keamanan regional.
Komentar itu tidak menyebutkan perintah Trump atau keinginannya untuk melanjutkan pembicaraan dengan Kim Jong-un, yang sebelumnya telah diisyaratkan bahwa ia sedang menjalin kontak dengannya.
Sengaja Menghindar
Hong Min, seorang peneliti senior di Institut Unifikasi Nasional Korea, mengatakan bahwa Pyongyang sengaja menghindari menyebut nama Trump.
âKorut tetap berpegang pada prinsip-prinsip umum seolah-olah sama sekali tidak menyadari komentar Trump,â kata dia kepada AFP. "Menunjukkan kesadaran dapat mengindikasikan adanya pemahaman bersama, tetapi berpura-pura tidak tahu menandakan bahwa masalah ini dapat menjadi poin tawar-menawar utama dalam pembicaraan di masa mendatang dengan Trump,â imbuh Hong.
Dalam pengumuman awalnya di platform Truth Social miliknya, Trump menggambarkan latihan militer tersebut sebagai tindakan yang tidak ramah terhadap negara yang telah menghormatinya dan Trump bersikeras bahwa ia membuat situasi menjadi jauh lebih aman melalui hubungannya dengan Kim Jong-un.
Trump sebelumnya bahkan telah berulang kali mengkritik aliansi AS yang telah lama terjalin, menimbulkan keraguan tentang komitmen Washington DC terhadap keamanan di Asia timur dan membuat khawatir para mitra regional.
Menteri Luar Negeri Korsel, Cho Hyun, mengatakan kepada anggota parlemen pada Rabu bahwa Seoul tidak diberitahu sebelumnya tentang rencana Trump untuk mempersingkat latihan militer gabungan.
"Baik pemerintah kita maupun pejabat pemerintah AS tidak mengetahui sebelumnya apa yang diungkapkan Presiden Trump melalui Truth Social," kata Menlu Cho.
Wall Street Journal yang mengutip keterangan pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan pada Selasa bahwa Trump mendesak para pembantunya untuk mengatur pertemuan dengan Kim Jong-un sesegera mungkin pada musim gugur ini.
"Mengurangi latihan militer dapat berdampak positif pada kemungkinan dialog AS-Korut," kata Park Won-gon, seorang profesor di Universitas Perempuan Ewha, kepada AFP.
"Penghentian latihan bersama selalu menjadi prasyarat bagi Korut untuk terlibat dalam dialog dengan AS," imbuh dia. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Tiongkok dan Russia Gelar Latihan Tembak di ZEE Jepang, Tokyo Siaga
-
Band Rock Power Metal Meriahkan Festival Tulungagung Distorsi 2026
-
BPBD Bangka Tengah Ingatkan Warga Waspadai Dampak Perubahan Iklim
-
Kemhan Sampaikan Duka Cita, Dua Peserta Program SPPI Meninggal Dunia Saat Latsarmil
-
Gebrakan Baru Donald Trump, Tuding Tiongkok Campur Tangan dalam Pemilu 2020
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.