- Home
-
- Luar Negeri
-
- Mantan PM Tailan, Thaksin ...
Mantan PM Tailan, Thaksin Shinawatra, Dibebaskan dari Penjara
Selasa, 12 Mei 2026, 00:10 WIBBANGKOK â Mantan perdana menteri Tailan, Thaksin Shinawatra, dibebaskan lebih awal dari penjara pada hari Senin (11/5), meningkatkan prospek kembalinya tokoh politik berpengaruh ini ke sorotan publik.
Taipan telekomunikasi berusia 76 tahun itu menjalani hukuman delapan bulan dari hukuman penjara satu tahun karena korupsi dan akan diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik selama masa percobaan hingga September.
Thaksin memeluk anggota keluarganya di luar penjara Bangkok tempat ratusan pendukung yang mengenakan kemeja merah khas mereka berkumpul, beberapa di antaranya meneriakkan "Kami mencintai Thaksin!", seperti yang disaksikan oleh seorang jurnalis AFP.
âThaksin mungkin akan absen selama beberapa bulan, tetapi dia tidak akan meninggalkan politik," kata Janthana Chaidej yang berusia 70 tahun, yang mengambil cuti sehari dari pekerjaannya sebagai juru masak restoran untuk menunjukkan dukungannya.
Tokoh politik senior itu memiliki kasus pidana lain yang masih tertunda terhadapnya, yang dapat menghalanginya untuk menyampaikan pidato-pidato yang membangkitkan semangat dan mengambil risiko penuntutan lebih lanjut, kata para analis.
"Saya berhibernasi selama delapan bulan," kata Thaksin kepada wartawan dari jendela belakang mobilnya di luar rumahnya di ibu kota, menambahkan bahwa ia merasa "lega" setelah dibebaskan.
Mantan perdana menteri itu dipasangi alat pemantau elektronik di kantor pengawasan masa percobaan Bangkok pada Senin pagi, dan tidak akan diizinkan bepergian ke luar ibu kota tanpa izin, kata departemen pemasyarakatan dalam sebuah pernyataan.
Departemen pemasyarakatan bulan lalu mengumumkan bahwa Thaksin akan dibebaskan bersyarat karena usianya dan fakta bahwa ia hanya memiliki waktu kurang dari satu tahun untuk menjalani hukumannya.
Mesin politik Thaksin selama dua dekade terakhir telah menjadi saingan utama elite promiliter dan prokerajaan Tailan, yang memandang citra populisnya sebagai ancaman terhadap tatanan sosial tradisional.
Partai Pheu Thai miliknya dan pendahulunya telah menjadi partai politik paling sukses di negara itu pada abad ke-21, dengan keluarga Shinawatra menghasilkan empat perdana menteri dan mendapatkan dukungan luas dari pemilih pedesaan.
Namun, Pheu Thai mengalami hasil pemilu terburuk sepanjang sejarahnya pada bulan Februari, merosot ke posisi ketiga dan menimbulkan pertanyaan tentang masa depan dinasti Thaksin.
Namun, masuknya Pheu Thai ke dalam koalisi pemerintahan perdana menteri konservatif Anutin Charnvirakul telah membuka kemungkinan kembalinya ia ke kancah politik.
âBagi para pendukung setianya, pembebasan Thaksin akan memperkuat Pheu Thai dalam jangka pendek karena orang-orang akan merasa bahwa pemilik Pheu Thai telah kembali," ucap dosen ilmu politik bernama Wanwichit Boonprong.
Namun musuh lama Thaksin yaitu kaum konservatif, akan bersatu mendukung Anutin, yang memiliki apa yang tidak dimiliki Thaksin yaitu kepercayaan dari para elite. Sementara kaum konservatif anti-Thaksin ingin melihatnya menjauh dari politik," imbuh Wanwichit. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Pemkab Flores Timur Menyatakan Festival Bale Nagi Berdampak Baik bagi Ekonomi
-
Harga Bawang Merah Antarpulau di Jayapura Capai Rp75.000 Per Kg
-
DPRD DKI Minta Penanganan Banjir dan Sampah Jakarta Jadi Prioritas RKPD 2027
-
Era Baru AI: Chatbot Mulai Dipenuhi Iklan Digital
-
Daftar Tanggal dengan Tiket Kereta Lebaran yang Masih Banyak, Cocok untuk Arus Balik!
-
Tiongkok Peringatkan Risiko Paparan PFAS dari Konsumsi Ikan Laut
-
Di Tengah Krisis Global, IEA Ajak Dunia Lebih Efisien Pakai Energi Biar Lebih Tahan Banting
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.