Kemenperin Dorong IKM Garap Hilirisasi Buah Tropis, Bidik Pasar Ekspor Produk Olahan
Senin, 11 Mei 2026, 22:56 WIBJAKARTA â Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat hilirisasi industri nasional dengan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM). Salah satu fokusnya adalah IKM pangan berbasis buah tropis khas Indonesia. Langkah ini untuk mengolah bahan baku domestik jadi produk bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia punya kekayaan buah tropis dengan potensi besar jadi produk olahan modern yang kompetitif di pasar global.
âIndonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya lebih banyak pelaku industri, khususnya IKM di berbagai sentra penghasil buah, untuk mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan yang lebih beragam, bernilai tambah, dan disukai pasar,â ujar Agus di Jakarta, Senin (11/5).
Agus menyebut Indonesia sebagai salah satu produsen buah tropis terbesar dunia. Komoditas seperti pisang, durian, jeruk, mangga, nanas, dan manggis punya peluang besar dikembangkan jadi produk olahan untuk mengerek nilai ekonomi dan memperluas pasar ekspor.
âSudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia. Pengembangan industri pengolahan buah akan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi petani maupun pelaku industri pengolahan pangan,â katanya.
Ia menambahkan, hilirisasi buah tropis sejalan dengan penguatan ketahanan pangan, perluasan lapangan kerja, serta peningkatan kontribusi manufaktur ke perekonomian.
Merujuk Buku Statistik Hortikultura 2024 BPS, produksi pisang nasional 2024 mencapai 9,26 juta ton. Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat jadi sentra terbesar. Ekspor pisang segar 2024 naik 10,1% jadi US$10,52 juta dari US$9,5 juta pada 2023. Volumenya naik dari 24,8 ribu ton jadi 26,24 ribu ton, dengan tujuan utama Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Produksi mangga nasional 2024 tercatat 3,3 juta ton. Ekspor mangga segar dan olahan mencapai US$1,75 juta ke Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Sementara produksi nanas 2,74 juta ton dengan nilai ekspor buah segar dan olahan US$316,1 juta ke AS, Tiongkok, dan Belanda.
Untuk meningkatkan peran IKM, Kemenperin lewat Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) menjalankan pembinaan dan pendampingan bagi IKM olahan pangan berbasis buah tropis.
Dirjen IKMA Reni Yanita menilai industri olahan buah prospektif seiring naiknya kesadaran konsumsi pangan sehat dan tren natural food. âIndustri olahan buah ini punya prospek yang bagus di tengah isu ketahanan pangan dan semakin besarnya kesadaran masyarakat terhadap olahan pangan sehat,â kata Reni, Selasa (5/5).
Reni menyebut IKM pangan berkontribusi besar ke struktur industri nasional. Dari 4.445.070 unit usaha industri di Indonesia, 4.435.542 unit adalah IKM dan 46,63% bergerak di sektor pangan.
Ditjen IKMA melakukan pendampingan mulai peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, penguatan kemasan, peningkatan standar keamanan pangan internasional, hingga perluasan pasar lewat pameran dan temu bisnis.
Hadapi kendala
Reni mengakui hilirisasi buah tropis masih terkendala stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, serta branding dan pemasaran. âPeluang pasar terbuka lebar, oleh sebab itu Kemenperin terus mendampingi IKM olahan buah agar bisa memenuhi standar jumlah dan kualitas pasokan, memiliki sertifikasi HACCP, dan mampu berinovasi dengan teknologi yang lebih modern agar produknya mampu bersaing di pasar domestik maupun global,â ujarnya.
Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris menambahkan, tantangan lain adalah menjaga kualitas bahan baku saat distribusi dan logistik. Hal itu bisa diatasi dengan teknologi pengolahan dan penyimpanan modern.
âKita juga terus mendorong diversifikasi produk agar IKM mampu menghasilkan berbagai produk turunan seperti buah kaleng, selai, buah kering, hingga bahan campuran untuk industri kosmetik,â kata Afrizal.
Ditjen IKMA juga mendorong IKM memanfaatkan Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Salah satu binaan, CV Sahabat Pangan, sudah mengakses pembiayaan Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi serta penambahan mesin vacuum frying dan smart cold storage. âDengan revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin baru tersebut, IKM tentunya menjadi lebih percaya diri dan siap memenuhi permintaan pasar ekspor,â tutup Afrizal.
- Kementerian Perindustrian
- Hilirisasi
- Industri Kecil Menengah (IKM)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kemenperin perkuat daya saing IKM
-
Kemenperin: Asesor Kompetensi Kunci Transformasi Manufaktur yang Adaptif
-
Perkuat Ekosistem, Kemenperin Libatkan IKM Komponen Masuk Rantai Pasok Kendaraan Listrik
-
Jaga Keberlanjutan, Kemenperin Dorong Rumah Sakit Patuhi Standar Lingkungan
-
Bungkus Produk Asal-asalan? Menperin: IKM Bisa Kalah Saing Kalau Kemasan Nggak Naik Kelas
-
Dirjen Ikma Kementerian Perindustrian RI Kunjungi Ikm Binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra di Bogor
-
Lawan Serbuan Impor! Kemenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja Rp300 M di Subang, 40% Buat Ekspor
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.