Gunung Dukono Bukan Tempat Menantang Maut, Mendaki Bukanlah Soal Menaklukkan Alam, Namun Memahami Batas Manusia di Hadapan Alam
Minggu, 10 Mei 2026, 18:24 WIBMATARAM, NTB - Evakuasi paksa terhadap belasan pendaki, jatuhnya satu korban jiwa, serta dua pendaki lain yang masih dalam pencarian menjadi gambaran pahit dari erupsi Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Peristiwa itu menunjukkan besarnya ancaman bencana yang mengintai di kawasan gunung api aktif, terutama ketika aktivitas vulkanik meningkat sewaktu-waktu.
Padahal, Dukono bukan gunung yang meletus secara tiba-tiba tanpa memunculkan tanda alam terlebih dahulu sebagai peringatan awal sebelum terjadinya erupsi besar.
Sejak 11 Desember 2024, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah merekomendasikan agar manusia tidak melakukan aktivitas di dalam radius empat kilometer dari pusat vulkanik aktif kawah Malumpang Warirang.
Wisata pendakian pun ditutup sejak 17 April 2026, lantaran aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat pesat. Zona empat kilometer dari kawah menyimpan ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu vulkanik.
Kolom erupsi berintensitas tebal dengan ketinggian sepuluh kilometer di atas puncak Gunung Dukono merupakan hal lumrah yang kerap terjadi di gunung-gunung berapi aktif mengingat Indonesia secara geografis berada di wilayah cincin api dunia.
Sepanjang tahun 2025, Dukono yang memiliki ketinggian 1.355 meter di atas permukaan laut masuk ke dalam jajaran empat besar gunung paling aktif meletus setelah Gunung Semeru, Gunung Ibu, dan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Peringkat empat besar secara nasional menandakan gunung dengan status Level II atau Waspada tersebut bukan arena adrenalin untuk menantang maut, melainkan destinasi alam yang harus selalu dihormati dan diwaspadai oleh manusia.
Gunung Dukono juga menduduki klasifikasi Tipe A lantaran memiliki catatan sejarah letusan sejak tahun 1.600 hingga sekarang. Karakteristik letusan bersifat intermiten dan seringkali tidak disertai dengan gempa vulkanik dalam yang kuat.
Aktivitas mendaki gunung bukanlah soal menaklukkan alam, namun memahami batas manusia di hadapan alam. Keselamatan harus menjadi prioritas utama di atas ego petualangan.
Budaya FOMO
Pasca pandemi Covid-19 yang tidak lagi membatasi ruang gerak manusia untuk beraktivitas di luar rumah, intensitas pendakian ke Gunung Dukono meningkat signifikan akibat banyak video viral yang memperlihatkan detik-detik erupsi dari bibir kawah.
Kehadiran media sosial yang menampilkan cerita-cerita dramatis terkait pendakian gunung berapi aktif menimbulkan budaya takut ketinggalan atau fear or missing out (FOMO), sehingga menumbuhkan tren wisata pendakian ekstrem.
Budaya baru tersebut perlahan terbentuk dan semakin kuat berkat media sosial dengan menempatkan puncak gunung sebagai simbol pencapaian keberanian dan wibawa.
Foto mendaki hingga ke bibir kawah curam, video menyelamatkan diri dari kejaran awan panas, hingga narasi menyaksikan langsung fenomena alam langka letusan gunung berapi dari jarak dekat dipercaya sebagai katrol untuk menarik perhatian publik dan meningkatkan engagement media sosial.
Pada 21 November 2025, sebuah video viral di platform X memperlihatkan aksi seorang pendaki perempuan berbaju hitam yang menyaksikan erupsi secara langsung dari bibir kawah Gunung Dukono.
Tayangan berdurasi semenit itu dibubuhi tulisan 'Ibuku berdoa di rumah untuk keselamatanku, sementara aku....' sembari menampilkan perjuangannya berjalan merangkak melewati medan berpasir demi menuju puncak gunung api tipe kerucut tersebut.
Video-video serupa tentu saja ada banyak di berbagai platform media sosial lainnya. Fenomena itu jelas berbahaya karena terkesan menyepelekan erupsi gunung api.
Gumpalan abu vulkanik yang bergelombang menyerupai bulu domba dipandang sebagai sebuah kejadian langka nan eksotis, bukan lagi alarm bahaya yang harus dijauhi agar tidak terjebak dalam situasi mencekam antara hidup dan mati.
Inti narasi berbagai konten digital yang ditampilkan serupa terkait keinginan mendapatkan pengakuan publik bahwa mereka adalah orang-orang hebat yang rela bertaruh nyawa demi mendapatkan gambar eksklusif.
Wisatawan yang mendaki tidak semua memiliki wawasan luas tentang bahaya dan risiko letusan gunung api aktif. Mereka datang hanya dengan membawa semangat petualangan tanpa dibekali literasi kebencanaan vulkanologi.
Meski PVMBG telah menerbitkan peringatan zona merah dalam radius empat kilometer dari puncak kawah, namun tetap saja ada pendaki nakal yang menyelinap masuk secara diam-diam mengabaikan peringatan bahaya tersebut.
Erupsi tidak mengenal istilah negosiasi, tidak juga peduli ambisi pribadi, dan tidak melihat jumlah pengikut media sosial. Ketika gunung memuntahkan material abu vulkanik dan batu pijar, serta mengeluarkan gas beracun hingga memicu badai petir, maka di saat itulah pendaki berada dalam posisi sebagai makhluk paling lemah.
Pemahaman dasar mengenai zona bahaya, tanda-tanda aktivitas vulkanik, karakter erupsi, dan arah semburan awan panas dapat meningkatkan peluang selamat saat terjadi letusan.
Gunung api aktif adalah ruang hidup geologi âpembentuk permukaan Planet Bumi dan menopang kehidupanâ yang seketika dapat berubah mematikan hanya dalam hitungan menit.
Pembenahan tata kelola wisata
Dari sekitar 500 gunung api di Indonesia, ada sebanyak 127 yang berstatus gunung api aktif. Letusan gunung api merupakan realitas sehari-hari bagi negara Cincin Api yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif dunia, yakni Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia.
Erupsi Gunung Marapi di Sumatera Barat yang menewaskan 24 pendaki pada 3 Desember 2023, kemudian erupsi Gunung Dukono di Maluku Utara pada 8 Mei 2026 yang juga menewaskan pendaki memperlihatkan bahwa kita memiliki ingatan pendek terhadap bencana vulkanologi. Oleh karena itu, literasi kebencanaan vulkanologi perlu ditingkatkan agar tidak ada lagi pendaki yang mati konyol akibat ketidaktahuan terhadap bahaya erupsi.
Kebiasaan melupakan kengerian letusan gunung api perlu diatasi dengan cara merawat ingatan kolektif melalui ruang-ruang pendidikan dan upaya mitigasi yang intensif.
Tragedi Dukono adalah momentum evaluasi bersama untuk membenahi tata kelola wisata pendakian di Indonesia. Surat rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan acuan mutlak bagi keselamatan pendaki di kawasan gunung api aktif.
Jalur pendakian yang ditutup selama periode aktivitas magmatik dan vulkanik yang meningkat harus dipatuhi oleh semua orang dan tidak boleh ada tawar-menawar atas dasar kepentingan ekonomi lokal.
Alasan keamanan dan ekologis membuat paradigma wisata massal tidak cocok diterapkan dalam mengelola destinasi wisata gunung api aktif. Pendekatan ideal adalah wisata berkualitas dengan fokus terhadap minat khusus, pengalaman, dan keberlanjutan lingkungan serta budaya.
Sistem pengawasan pendaki harus lebih ketat menggunakan aplikasi pelacakan berbasis GPS guna memantau posisi pendaki secara real-time. Ketika pendaki terbukti menerobos zona berbahaya, maka beri sanksi tegas blacklist hingga denda.
Pemerintah tidak boleh ragu untuk membatasi aktivitas pendakian walau kebijakan itu berdampak serius terhadap angka kunjungan wisatawan dan mempengaruhi pendapatan daerah.
Berbagai destinasi alternatif harus dibangun agar pendaki tidak hanya berambisi mencapai puncak, tetapi juga menikmati suasana alam, budaya, maupun sosial yang melekat kuat dalam kehidupan penduduk lokal.
Tragedi 8 Mei 2026 harus menjadi titik balik pengelolaan wisata Gunung Dukono agar kelak tidak ada lagi korban jiwa akibat bencana erupsi. Kita pun perlu mengubah cara pandang terhadap wisata pendakian bahwa letusan bukanlah objek tontonan. Ant
- Gunung Dukono Erupsi
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Cuaca Buruk, Sejumlah Rumah di Situbondo Rusak Tertimpa Pohon Tumbang
-
Gerakan Bali Bersih Sampah
-
McLaren Awali Musim F1 2026 dengan Pendekatan Bertahan, Stella Akui Ferrari dan Mercedes Unggul
-
Perang Afghanistan - Pakistan: Video F-16 Angkatan Udara Pakistan Ditembak Jatuh dan Terbakar Diduga Hoaks
-
IHSG Hari Ini "Rebound" Mengikuti Pasar Global Dipicu Isyarat Trump Perang Hampir Berakhir
-
Gunung Dukono Terus Erupsi, Pencarian Tiga Pendaki Tetap Dilanjutkan Meski Terhambat
-
Indahnya Toleransi dalam Cap Go Meh, Singkawang Siapkan 100 Tong Sampah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.