Florikultura RI Tembus Korea, Potensi Transaksi Capai Rp17 Miliar

Kamis, 07 Mei 2026, 20:55 WIB

JAKARTA – Budidaya tanaman hias memiliki prospek ekonomi yang terus berkembang seiring meningkatnya tren penghijauan, dekorasi rumah, dan gaya hidup ramah lingkungan di masyarakat.

Selain memiliki nilai estetika, tanaman hias juga menjadi peluang usaha bernilai tambah tinggi karena permintaan pasar relatif stabil, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Ket. Foto: Salah satu pelaku usaha Indonesia mengikuti pameran International Horticulture Goyang Korea di Goyang, Korea Selatan pada 24-26 April 2026. — Sumber: ANTARA/HO-Kemendag

Dengan dukungan inovasi budidaya, pemasaran digital, dan pengembangan varietas unggul, sektor tanaman hias dinilai mampu membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat ekonomi pelaku usaha mikro dan komunitas pertanian urban.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Busan menyebut hasil budidaya tanaman hias (florikultura) Indonesia mencatatkan potensi transaksi 1,1 juta dolar AS atau setara Rp17,05 miliar pada pameran International Horticulture Goyang Korea di Goyang, Korea Selatan.

Potensi transaksi dihasilkan dari berbagai produk hasil budidaya petani Indonesia seperti bunga sedap malam, krisan atau seruni dan mawar, yang sekaligus menambah semerbak wangi musim semi di Korea Selatan tahun ini.

"Capaian potensi transaksi ini menunjukkan bahwa produk florikultura dari Indonesia mempunyai peluang yang cukup baik di Korea Selatan. Kami akan menindaklanjuti potensi ini," ujar Kepala ITPC Busan Husodo Kuncoro Yakti dalam keterangan di Jakarta, Kamis (7/5).

Paviliun Indonesia menghadirkan sebelas petani florikultura yang tergabung dalam Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO). Tanaman endemik Indonesia yang turut dipamerkan, antara lain, labisa, keladi atau telinga gajah, sri rejeki, serta tanaman budi daya menggunakan teknik kultur jaringan.

Selain memfasilitasi keikutsertaan di pameran, KBRI Seoul dan ITPC Busan juga mendampingi penjajakan bisnis (business matching) pelaku usaha Indonesia dan importir Korea Selatan untuk menggali peluang ekspor tanaman hias dan tanaman endemik Indonesia ke negeri Ginseng.

Selain anggota ASBINDO, business matching juga melibatkan perusahaan florikultura Indonesia, yaitu

peserta Horticulture Business Trip ke Korea Selatan oleh Perkumpulan Profesi Hortikultura Indonesia (PPHI).

Pada Januari-Maret 2026, total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan mencapai 4,27 miliar dolar AS. Nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan adalah sebesar 2,34 miliar dolar AS, sedangkan impor Indonesia dari Korea Selatan 1,93 miliar dolar AS. Indonesia mencatatkan surplus 411,70 juta dolar AS terhadap Korea Selatan.

Produk hortikultura, termasuk bunga potong dan tanaman, merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia ke Korea.

Pada 2025, tercatat impor Korea dari Indonesia sebesar 1,1 juta dolar AS. Potensi ekspor produk hortikultura Indonesia ke Korea Selatan pun kian terbuka seiring dengan meningkatnya minat masyarakat Korea terhadap tren gaya hidup berkebun (home-gardening).

Istilah "pet-plant" di Korea Selatan saat ini sangat populer. Masyarakat Korea Selatan melihat tanaman sebagai pendamping emosional.

Indonesia pun memiliki varietas bunga tropis dan tanaman hias yang eksotis yang sulit ditemukan di negara empat musim, menjadikannya pilihan utama bagi kolektor tanaman di Korea Selatan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.