- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tekanan Global Dorong Iran...
Tekanan Global Dorong Iran Kembali ke Diplomasi
Rabu, 06 Mei 2026, 01:00 WIBTEHERAN â Sejumlah pemimpin dunia pada Selasa (5/5), meningkatkan tekanan terhadap Iran agar kembali ke jalur diplomasi guna mengakhiri konflik di Timur Tengah, menyusul runtuhnya gencatan senjata dan meningkatnya ketegangan di kawasan.
Eskalasi terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat terlibat baku tembak di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran, yang menjadi insiden pertama sejak gencatan senjata diumumkan hampir sebulan lalu.
Jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Iran menegaskan tidak akan menyerahkan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Seperti dikutip dari AFP, Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Teheran kembali berunding dan berhenti âmenyandera kawasan dan duniaâ. Seruan serupa juga disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Arab Saudi turut menyerukan deeskalasi dan penyelesaian melalui jalur politik.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa konflik tidak memiliki solusi militer. âAS harus berhati-hati agar tidak diseret kembali ke rawa oleh para simpatisan. Begitu juga seharusnya UEA. Project Freedom adalah Project Deadlock,â ujarnya.
Eskalasi Berbahaya
Di lapangan, ketegangan terus meningkat. Uni Emirat Arab menyebut serangan Iran sebagai âeskalasi berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterimaâ setelah instalasi energi di Fujairah menjadi target dan melukai tiga warga.
Sementara itu, Amerika Serikat mengklaim telah menenggelamkan sejumlah kapal kecil Iran. Namun, Teheran membantah klaim tersebut dan menuduh Washington menyebabkan korban sipil.
Seorang pejabat militer Iran menyatakan, âApa yang terjadi adalah produk dari petualangan militer AS untuk membuat lorong bagi kapal untuk secara ilegal melewati Selat Hormuz. Militer AS harus bertanggung jawab atas hal itu.â
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan operasi âProject Freedomâ untuk mengawal kapal keluar dari Teluk sebagai misi kemanusiaan. Namun, implementasinya masih belum jelas dan dinilai berpotensi memperbesar risiko konfrontasi langsung.
Ketegangan di Selat Hormuz berdampak signifikan pada pasar global. Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 5 persen, memperburuk tekanan ekonomi akibat kenaikan biaya energi.
Konflik juga meluas ke wilayah lain. Di Lebanon, bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali terjadi, menambah kompleksitas situasi keamanan kawasan.
Dengan meningkatnya eskalasi di berbagai titik, para pemimpin dunia menilai jalur diplomasi menjadi satu-satunya opsi realistis untuk mencegah konflik yang lebih luas serta menjaga stabilitas energi dan ekonomi global.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Harga Minyak Anjlok Tajam setelah Trump Sebut Perang Melawan Iran akan Segera Berakhir
-
Kapal Perang Australia Terobos Selat Taiwan, Militer Tiongkok Pasang Status Siaga
-
WFH Wajib Didukung Infrastruktur Teknologi Memadai Agar Pelayanan Publik Optimal
-
Russia Pasang Badan Soal Iran, Kremlin Siap Tampung Uranium Demi Redam Ketegangan Global
-
Krisis Timur Tengah Tunda Laga Liga Champions Asia
-
Cianjur Jaga Warisan Beras Pandanwangi, Bibit Unggul Ditanam di Lahan 5 Hektare
-
Insiden Bus Transjakarta, DPRD Nilai Pengawasan Berbasis Teknologi Perlu Dioptimalkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.