Sinergi Bappenas-Airbus: Industri Kedirgantaraan Indonesia Diperkuat, Tak Sekedar Jadi Penonton
Rabu, 06 Mei 2026, 17:35 WIBJAKARTA â Industri kedirgantaraan memiliki efek berganda yang besar, termasuk penyerapan puluhan ribu tenaga kerja berkeahlian tinggi dan peningkatan daya saing global.
Sebagai negara kepulauan, konektivitas udara adalah kunci. Pengembangan industri ini memperkuat transportasi dan meningkatkan posisi strategis pertahanan nasional.
Karenanya, industri penerbangan merupakan salah satu sektor strategis yang diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan sebesar 8 persen.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas (PPN/ Bappenas) Rachmat Pambudy mengungkapkan Joint Declaration of Intent atau JDI antara Bappenas dengan produsen pesawat Airbus memperkuat pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan Indonesia.
"Dengan perlakuan dan perkuatan kapasitas industri kedirgantaraan Indonesia, kita tidak hanya menjadi pasar tetapi juga bagian dari rantai pasok dan nilai global," ujar Rachmat dalam penandatanganan JDI antara Kementerian PPN/ Bappenas dengan Airbus di Jakarta, Rabu (6/5).
Menurut dia, Kementerian PPN/Bappenas telah menyusun peta jalan industri kedirgantaraan dan untuk itu Bappenas terus berkomitmen mengawal pengembangan ekosistem industri kedirgantaraan.
Rachmat menjelaskan saat ini tingkat kunjungan masyarakat melakukan perjalanan udara di sekitar 0,4 perjalanan per kapita per tahun.
Namun sejalan dengan yang disampaikan Menteri Perindustrian, angka ini diproyeksikan meningkat secara signifikan hingga 1,4 perjalanan per kapita per tahun dalam dua dekade.
Sejalan dengan hal itu, trafik penumpang udara diperkirakan tumbuh rata-rata 7,4 persen per tahun yang akan mencapai sekitar 477 juta penumpang. Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan global yang berada di kisaran 3,6 persen.
"Untuk menjawab kebutuhan tersebut tentunya diperlukan ekspansi kapasitas armada udara yang saat ini jumlah armada aktif berada di kisaran 550 unit dan diproyeksikan akan meningkat lebih dari tiga kali lipat menjadi 1.900 unit pada tahun 2045, dan kemungkinan akan lebih besar lagi," kata Rachmat.
Pengembangan industri kedirgantaraan Indonesia harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya sebatas transaksi dan pemakaian pesawat, namun harus lebih luas lagi yaitu mencakup rantai pasok industri pesawat terbang.
Sebagai tindak lanjut dari Joint Declaration of Intent yang ditandatangani pada hari ini, ujar Rachmat, Airbus akan bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kolaborasi ini akan terintegrasi terus dengan Airbus dan didukung terus oleh kementerian/lembaga, BUMN, perguruan tinggi, swasta Indonesia sebagai pusat pertumbuhan kedirgantaraan di kawasan Asia Pasifik.
Rachmat berharap PTDI bisa menjadi tier 1 supplier bagi Airbus yang artinya PTDI bisa mulai membuat sayap utuh bagi pesawat Airbus atau bahkan pesawat yang nantinya akan membangun pabrik di Kertajati.
"Untuk itu diperlukan peningkatan standardisasi, kualitas layanan, efisiensi operasional, pemanfaatan teknologi, serta tidak kalah penting penguatan sumber daya manusianya. Dan ini terus didorong agar pertumbuhan industri kedirgantaraan tumbuh berkelanjutan," kata Rachmat.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemkot Makassar Siapkan KUR untuk PKL Terdampak Penertiban, Solusi Modal Usaha agar Tak Kembali Langgar Aturan
-
Retret Magelang, Ketua DPRD Kaltara Dorong Harmoni Nasional dan Daerah
-
Terbang Bersama Vietjet Berpeluang Menang Hadiah Utama Emas 38 gram
-
Ini Alasan Mengapa Gerbong Perempuan KRL Ditempatkan di Ujung Rangkaian?
-
MGBKI Desak Audit Independen Kasus Dokter Magang Meninggal Dunia sat Dirawat di RSMH Palembang
-
Lanud Sultan Hasanuddin Gelar Apel Halalbihalal Idul Fitri 1447 H/2026
-
Bagaimana CIA Membantu Temukan Ko Pilot F-15 AS yang Bersembunyi di Celah-celah Pegunungan Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.