Trump Tegaskan Komitmennya untuk Kunjungi Tiongkok

Senin, 04 Mei 2026, 01:05 WIB

HONG KONG - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menegaskan komitmennya untuk mengunjungi Tiongkok sesuai jadwal pada bulan ini meskipun terjadi kebuntuan dalam negosiasi dengan Iran.

“Kami akan melakukan perjalanan ke Tiongkok dalam waktu dekat. Dan saya rasa itu akan menjadi acara yang luar biasa,” kata Trump akhir pekan lalu.

Ket. Foto: Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. — Sumber: istimewa

Trump awalnya berencana mengunjungi Beijing pada akhir Maret, tetapi menunda perjalanan tersebut hingga 14 dan 15 Mei setelah memulai perang melawan Iran.

Para analis Tiongkok mengatakan bahwa kunjungan tersebut akan sangat penting bagi kedua negara untuk mengelola risiko dalam menghadapi meningkatnya ketidakpastian di seluruh dunia.

Iran telah menyampaikan proposal baru untuk putaran kedua perundingan perdamaian dengan AS kepada para mediator Pakistan, menurut kantor berita resmi Republik Islam Iran (IRNA), yang tidak memberikan rincian rencana tersebut.

Namun demikian, Trump mengaku “tidak puas” dengan tawaran itu, tanpa menyebutkan kekurangan-kekurangannya secara spesifik.

“Kita lihat saja apa yang terjadi. Iran ingin membuat kesepakatan karena pada dasarnya mereka tidak memiliki kekuatan militer lagi,” katanya.

Sementara itu, Trump juga memperluas sanksi terhadap Kuba untuk menargetkan perusahaan asing dan lembaga keuangan yang dianggap mendukung pemerintah di Havana, dan berisiko semakin memperburuk hubungan dengan Eropa dengan mengumumkan bahwa ia akan menarik 5.000 tentara AS dari Jerman.

Keputusan terakhir tersebut menyusul komentar Kanselir Friedrich Merz bahwa AS sedang “dipermalukan” oleh kepemimpinan Iran dan bahwa Washington kekurangan strategi.

Manajemen Risiko

Seorang profesor masalah internasional yang berbasis di Shanghai, Shen Dingli, mengatakan kunjungan Trump ke Beijing terutama berkaitan dengan manajemen risiko.

“Washington ingin menghindari pemutusan hubungan sepenuhnya dari rantai pasokan strategis, seperti logam tanah jarang untuk saat ini, dan juga ingin Tiongkok tidak mempersenjatai Iran. Bagi Tiongkok, fokusnya adalah pada isu Taiwan,” kata Shen.

Sementara Ma Bo, seorang profesor madya di sekolah studi internasional di Universitas Nanjing, mengatakan bahwa pertimbangan utama bagi Trump adalah untuk menstabilkan hubungan dengan Tiongkok.

“Tanpa jalan keluar yang jelas dari konflik Russia-Ukraina atau perang di Iran, Washington tidak mampu membuka front ketidakstabilan baru di Selat Taiwan atau Laut Tiongkok Selatan,” kata Ma.

Ma menambahkan bahwa gesekan perdagangan dan teknologi antara kedua kekuatan tersebut telah mencapai status normal, dengan penyesuaian rantai pasokan AS yang tidak hanya menargetkan Tiongkok saja.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.