Waspada, Status Eliminasi Malaria Tanjungpinang Terancam, Kasus Kembali Meledak Sejak 2024
📅 Jumat, 01 Mei 2026, 19:45 WIB | Oleh: AlfredTANJUNGPINANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, meningkatkan status kewaspadaan menyusul tren peningkatan kasus malaria yang kembali muncul dalam tiga tahun terakhir. Setelah berhasil mempertahankan status eliminasi malaria sejak tahun 2014, Ibu Kota Provinsi Kepri ini mulai mencatat fluktuasi kasus yang cukup signifikan, di mana terdapat 129 kasus pada 2024, 59 kasus pada 2025, dan hingga April 2026 telah ditemukan 29 kasus baru.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tanjungpinang, Sri Handono, menyatakan bahwa kondisi lingkungan serta tingginya migrasi pekerja dari luar daerah menjadi faktor pemicu utama kembalinya penyakit tersebut di tengah masyarakat.
"Tahun 2024 ada 129 kasus malaria di Tanjungpinang, lalu 2025 ada 59 kasus, dan 2026 sampai April sudah ada 29 kasus," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tanjungpinang Sri Handono dihubungi, Jumat.
Handono menyebutkan, dari total 18 kelurahan di Kota Tanjungpinang, masing-masing punya karakteristik berbeda dan tingkat risiko penularan malaria.
Namun, menurutnya, ada dua kelurahan yang paling rawan, atau berisiko tinggi malaria, yaitu Kampung Bugis dan Senggarang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dua kawasan ini termasuk daerah reseptif, yakni wilayah yang memiliki kepadatan vektor (nyamuk Anopheles) tinggi, faktor lingkungan, serta iklim yang mendukung penularan malaria.
"Salah satunya, banyak terdapat kolam pascatambang dengan air payau, sehingga menjadi tempat yang paling disenangi nyamuk Anopheles, dan berpotensi menimbulkan malaria," ujarnya.
Selain faktor lingkungan, kata dia, manusia juga berpengaruh terhadap penularan malaria.
Menurutnya sebagai Ibu Kota Provinsi Kepri, migrasi manusia di Tanjungpinang relatif cepat. Ketika ada pekerja datang dari daerah yang belum bebas malaria, maka ia berpotensi menularkan penyakit tersebut.
Handono menyampaikan, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian terus dijalankan agar jangan sampai perkembangan kasus malaria di Tanjungpinang menjadi tidak terkendali.
Beberapa upaya yang telah dilakukan Dinkes Tanjungpinang, di antaranya menaburkan ikan pemakan jentik di kolam-kolam bekas galian guna mengendalikan perkembangan nyamuk.
Kemudian, menggunakan larvasida aktif untuk mengganggu pertumbuhan nyamuk agar lahir tidak normal dan bereproduksi.
Berikutnya, melakukan survei migrasi terhadap pekerja dari luar daerah melalui pemeriksaan kesehatan, terutama dari daerah belum bebas malaria.
Selain itu, dalam melakukan pengendalian peningkatan kasus malaria, diagnosis dan pengobatan menjadi langkah yang paling penting.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!