Magang Nasional Disorot: Kepastian Kerja dan Skema Uang Saku Jadi Perhatian Utama
Jumat, 01 Mei 2026, 13:15 WIBJakarta â Keberlanjutan dan kepastian kerja bagi peserta Program Magang Nasional dinilai perlu mendapat perhatian serius melalui kolaborasi yang lebih erat dengan dunia industri.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan pentingnya penyusunan grand design program magang yang selaras dengan arah kebijakan industri dan pengembangan sektor usaha.
âGrand design dari program magang harus disesuaikan dengan kebijakan industri atau pengembangan bisnis di sektor yang relevan. Itu menjadi sangat penting,â ujar Faisal di Jakarta, Jumat (1/5).
Ia menambahkan, keselarasan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman kerja bagi peserta, tetapi juga membuka peluang kepastian karier setelah program selesai.
âDiperlukan dialog dan koordinasi dengan industri agar program magang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan arah prioritas ke depan,â katanya.
Senada, Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai perusahaan perlu memberikan kejelasan peluang kerja bagi peserta magang, terutama setelah menjalani program minimal enam bulan.
âKita mendorong adanya kepastian karier peserta magang yang diperjelas. Itu yang paling penting,â ujar Nailul.
Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 11.949 peserta telah menyelesaikan Program Magang Nasional Tahap I. Saat ini, Kemnaker masih mengumpulkan data terkait jumlah peserta yang direkrut oleh perusahaan mitra.
Data sementara menunjukkan sekitar 20â30 persen peserta telah direkrut oleh perusahaan tempat mereka menjalani magang.
Uang Saku
Di sisi lain, Nailul juga menilai wacana pembagian uang saku antara pemerintah dan perusahaan merupakan langkah yang wajar. Menurutnya, pada tahap awal program, seluruh biaya ditanggung pemerintah, sementara perusahaan turut memperoleh manfaat produktivitas dari peserta magang.
âSudah sewajarnya ada pembagian porsi uang saku kepada perusahaan yang menikmati kontribusi tenaga kerja tersebut. Output produksi meningkat tanpa biaya tambahan,â jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dari sisi tata kelola, perusahaan seharusnya turut berkontribusi karena telah memperoleh keuntungan dari program tersebut.
Pendapat serupa disampaikan Faisal, yang menilai rencana pembagian kontribusi tersebut perlu dibahas secara matang melalui dialog antara pemerintah dan pelaku industri.
âApalagi jika industri juga akan dibebani sebagian honor peserta, maka perlu koordinasi yang kuat,â kata Faisal.
Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pihaknya tengah mengkaji skema pembagian uang saku antara pemerintah dan perusahaan mitra.
âKita sedang mengkaji untuk melibatkan perusahaan lebih aktif, termasuk usulan adanya kontribusi dari perusahaan terhadap uang saku, meski tidak dominan,â ujar Yassierli.
Ia menjelaskan, langkah ini didasarkan pada adanya pembinaan intensif dari perusahaan kepada peserta magang. Selain itu, pemerintah juga ingin memastikan adanya komitmen perusahaan sejak awal, termasuk dalam pemberian sertifikat kompetensi di akhir program.
âKomitmen itu akan lebih baik jika sejak awal perusahaan juga berkontribusi dan memiliki kewajiban memberikan sertifikat kompetensi,â katanya.
- Program Magang Nasional
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Di Tengah Lonjakan Plastik, UMKM Pilih Tahan Harga
-
Ramai Banget! 131.715 Wisatawan Kunjungi Pasaman Barat Saat Lebaran
-
Pembukaan Lastramil Komcad ASN Kementerian
-
14 Pabrik Mobil Listrik Beroperasi! Kapasitas Produksi EV RI Tembus 400 Ribu Unit
-
MBG Tak Terganggu Efisiensi Anggaran
-
Chelsea dan AC Milan Tarung di GBK! Jangan Lupa Catat Tanggalnya
-
Pameran bursa kerja dan konsultasi karier di Semarang
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.