- Home
-
- Luar Negeri
-
- The Fed Diprediksi Tahan S...
The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga di Tengah Dampak Perang Iran
Kamis, 30 Apr 2026, 01:00 WIBWASHINGTON DC â Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), membuka pertemuan dua harinya pada Selasa (28/4) di tengah ketidakpastian global, dengan perkiraan para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Langkah ini diambil seiring meningkatnya dampak perang melawan Iran terhadap harga energi dan rantai pasokan yang mulai terasa di seluruh perekonomian terbesar dunia.
Dilansir dari AFP, pertemuan kali ini dipandang krusial karena berpotensi menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Selama setahun terakhir, masa jabatannya kerap diwarnai tekanan politik, termasuk kritik tajam dari Presiden AS Donald Trump terkait arah kebijakan moneter.
Pada Jumat, Departemen Kehakiman AS mengumumkan penghentian sementara penyelidikan kriminal terhadap Powell yang berkaitan dengan pembengkakan biaya proyek renovasi gedung The Fed. Isu ini sebelumnya menjadi sorotan dan memicu spekulasi adanya tekanan terhadap independensi bank sentral. Powell sendiri menyebut penyelidikan tersebut sebagai bentuk tekanan yang berpotensi memengaruhi kebijakan suku bunga.
Dalam pertemuan ini, para pejabat The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut akan memperpanjang kebijakan penahanan suku bunga yang telah berlangsung sejak awal tahun, di tengah pertimbangan antara menekan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Hasil pertemuan dijadwalkan diumumkan pada Rabu (29/4).
Sebagai bank sentral, The Fed memiliki mandat ganda, yakni menjaga inflasi di sekitar target jangka panjang dua persen serta memastikan tingkat lapangan kerja maksimal. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, inflasi di AS masih berada di atas target tersebut.
Setelah melonjak tajam selama pandemi Covid-19, harga-harga belum sepenuhnya stabil. Konsumen masih menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi. Pada Maret, inflasi konsumen tercatat meningkat menjadi 3,3 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Ketegangan meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari. Konflik tersebut memicu respons dari Iran yang kemudian berdampak pada jalur distribusi energi global.
Iran dilaporkan memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di jalur tersebut menyebabkan lonjakan harga energi dan memperburuk ketidakpastian pasokan global.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan The Fed. Mereka menilai kenaikan harga energi berpotensi memicu efek berantai terhadap inflasi secara keseluruhan, sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi akibat meningkatnya biaya produksi bagi dunia usaha.
Indeks Kepercayaan
Sementara itu, data terbaru dari Conference Board menunjukkan tingkat kepercayaan konsumen di AS masih berada dalam tekanan. Masyarakat cenderung berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka karena khawatir terhadap dampak perang terhadap kondisi keuangan pribadi. Ekspektasi inflasi juga masih tinggi, sementara indeks kepercayaan mendekati titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Di tengah kondisi tersebut, sebagian besar pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mengambil sikap wait and see dengan mempertahankan suku bunga. Bank sentral dinilai masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi apakah tekanan inflasi akan berlanjut atau justru mereda.
Meski keputusan suku bunga diperkirakan tidak akan mengejutkan, perhatian utama akan tertuju pada konferensi pers Jerome Powell setelah pengumuman kebijakan. Pernyataan Powell dinilai akan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter ke depan, termasuk kemungkinan penyesuaian suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, dinamika kepemimpinan The Fed juga menjadi sorotan. Masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir pada Mei, dan Presiden Trump telah menominasikan Kevin Warsh sebagai penggantinya. Namun, proses pengesahan Warsh sempat menghadapi hambatan politik.
Hambatan itu mulai mereda setelah Departemen Kehakiman menghentikan sementara penyelidikan terhadap Powell. Senator Partai Republik Thom Tillis, yang sebelumnya menunda pencalonan Warsh, menyatakan akan mendukung proses pengesahan itu. n
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Athletic dan Sociedad Berebut Tiket Final Copa del Rey
-
PLN UP3 Wamena Sebut Kapasitas Listrik 8 MW Mampu Layani 5 Kabupaten
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
Harga Terbaru Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Rabu (04/2) Siang Ini
-
Jelang Hari Besar Keagamaan, Bupati Mimika Ajak Warga Perkuat Toleransi
-
BPS: Angka Kemiskinan Jakarta Turun ke 4,03%, Terendah Sejak Pandemi
-
Kemacetan di Selat Hormuz Bahayakan Kelompok Rentan Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.