Buka Perspektif Baru Ruang Hidup Berkelanjutan, Lixil Bangun Kolaborasi Lintas Disiplin di ARCH:ID 2026
📅 Selasa, 28 Apr 2026, 13:14 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA — Perusahaan solusi air dan hunian global, Lixil, menegaskan komitmennya sebagai penggerak kolaborasi lintas disiplin untuk menciptakan ruang hidup yang lebih baik dan berkelanjutan. Melalui berbagai inisiatif, Lixil memposisikan diri sebagai mitra strategis bagi arsitek, developer, desainer interior, hingga peneliti, dengan membuka ruang pertukaran wawasan dan sinergi agar ekosistem industri bisa saling mendukung dan berkembang.
Marketing Director Lixil Water Technology Indonesia Arfindi Batubara mengatakan, kualitas ruang hidup saat ini tidak bisa lagi dibangun secara terpisah. Diperlukan integrasi antara desain, riset, inovasi teknologi, serta pemahaman mendalam terhadap isu keberlanjutan dan dampak sosial.
“Kolaborasi adalah kunci dan standar baru untuk membentuk kualitas ruang hidup yang lebih baik. Lanskap arsitektur masa kini harus mampu memberikan kontribusi yang lebih luas, mulai dari kelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat, hingga kemajuan pembangunan nasional. Melalui sinergi kita dapat menghadirkan solusi yang lebih adaptif. Inilah komitmen yang terus Lixil dorong bersama ekosistem industri dalam visi dan misi making better homes a reality for everyone, everywhere,” ujar Arfindi di Jakarta, Selasa (28/4).
Paviliun OASE
Komitmen tersebut diwujudkan Lixil lewat Paviliun “OASE: Architecture in the Water Cycle” di ajang ARCH:ID 2026. Paviliun ini menjadi manifestasi nyata ketika arsitektur, data lingkungan dan sosial, narasi visual, hingga desain lanskap bersatu dan saling terhubung. Kolaborasi strategis bersama Mamostudio, Labtek Apung, Sciencewerk, dan Larchstudio sejak tahap inisiasi sukses mentransformasi OASE menjadi ruang eksplorasi yang mendalam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Founder Mamostudio Adi Purnomo menjelaskan, paviliun ini lahir dari intensi sederhana namun kuat: merespons isu air dan ruang hidup lewat pendekatan terbuka dan partisipatif. Kolaborasi ini bermula dari pertemuan awal dengan Lixil, di mana visi berbagai pihak langsung sejalan. OASE kemudian menjadi katalisator yang membawa diskusi soal air dan arsitektur ke ranah yang lebih luas.
“Saya memiliki perhatian panjang pada persoalan air dan kaitannya dengan arsitektur. Saat pertama kali mempresentasikan ide di hadapan Lixil saya pikir mungkin tidak akan berlanjut, namun ternyata langsung disetujui. Kami mencoba mendedikasikan paviliun ini sebagai titik yang semacam oase, memberi ruang hijau ke ruang publik yang lebih besar. Itu kenapa kita bikin namanya jadi OASE, yang kebetulan kata oase berkaitan juga dengan air,” ungkap Adi.
Adi mengapresiasi keterbukaan Lixil yang tidak memanfaatkan ARCH:ID sekadar untuk memindahkan showroom, melainkan menyediakan wadah berbagi gagasan. “Mereka tidak memakai kesempatan ini hanya untuk memindahkan showroom ke sini, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa saling sharing. Lixil memfasilitasi ruang dan menawarkan konsep untuk dipikirkan bersama. Core dari paviliun ini sebenarnya adalah penelitian. Ruang ini hanya sebuah representasi dari perhatian kita terhadap satu isu tertentu yang sedang dihadapi di kota kita,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Riset Sanitasi Batavia
Riset yang diintegrasikan dalam paviliun OASE dikembangkan secara lintas disiplin. Researcher Labtek Apung Novita Anggraini memaparkan, penelitian ini melibatkan keahlian dari ilmu kimia, ilmu lingkungan, sejarah, arkeologi, hingga teknik lingkungan dan perencanaan kota. Melalui dukungan Lixil, riset mengenai sejarah sanitasi dan perkembangan peradaban kota yang sebelumnya memiliki akses terbatas kini dapat direfleksikan kepada publik secara lebih luas.
Novita menjelaskan, pada masa pendudukan VOC, Batavia sempat menghadapi krisis serius berupa banjir dan wabah penyakit akibat ketergantungan masyarakat pada sungai dan kanal yang menjadi pusat aktivitas domestik hingga bisnis. Kondisi itu begitu krusial hingga mendorong para insinyur Eropa merancang ulang tata kota, berpindah dari Old Batavia menuju New Batavia yang kini menjadi pusat kota Jakarta.
“Dari situ kita bisa melihat bahwa persoalan sanitasi dapat mempengaruhi tatanan sosial masyarakat. Sejarah ketergantungan terhadap air dan sanitasi sudah terlihat sejak dulu dalam perjalanan sebuah kota. Riset ini telah dimulai sejak 2015 dan sebelumnya telah dipresentasikan dalam konferensi internasional di Singapura dan Jerman, namun akses publik di Indonesia masih sangat terbatas. Ketika bertemu dengan Lixil ini seperti oase. Sebuah riset bertemu dengan ekosistemnya. Semoga paviliun ini menjadi ruang bagi pengunjung untuk merefleksikan perjalanan kita sebagai sebuah peradaban yang terus merespons perkembangan zaman,” ujarnya.
Komitmen Global
Kesehatan dan sanitasi global merupakan salah satu dari tiga pilar strategis Lixil dalam menjawab isu-isu mendesak dunia. Di tengah masih adanya 3,4 miliar orang di dunia yang belum memiliki akses sanitasi layak, Lixil telah berhasil mencapai target 2026 dengan meningkatkan akses sanitasi bagi 103 juta orang. Capaian ini berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat, sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi signifikan secara global. Lixil mencatat setiap USD1 investasi dalam sanitasi dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga USD5.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!