Selamat Tinggal Pakan Konvensional: Profesor UNAND Temukan Solusi Peternakan Hemat Biaya

Senin, 27 Apr 2026, 17:40 WIB

KOTA PADANG - Pakar eksplorasi pakan dari Universitas Andalas (UNAND), Prof. Montesqrit, menegaskan bahwa optimalisasi sumber daya lokal menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem peternakan yang efisien dan berkelanjutan di tengah melonjaknya harga pakan konvensional. 

Dalam pemaparannya di Padang, Senin (27/4), ia mengungkapkan bahwa berbagai bahan lokal yang melimpah di Indonesia—mulai dari dedak padi hingga limbah maggot—memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pakan berkualitas tinggi. Inovasi ini tidak hanya bertujuan menekan biaya produksi bagi peternak, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk ternak melalui pemanfaatan teknologi pakan yang adaptif terhadap karakteristik sumber daya dalam negeri.

Ket. Foto: Pakar bidang ilmu eksplorasi pakan dari Universitas Andalas (UNAND) Sumatera Barat Prof Montesqrit (tengah) usai pengukuhan guru besar di Padang. — Sumber: ANTARA/Muhammad Zulfikar

"Sumber daya lokal yang melimpah di Indonesia dapat dioptimalkan untuk menghasilkan pakan yang tidak hanya efisien dan ekonomis, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas produk ternak serta mendukung keberlanjutan sistem peternakan," kata dia di Padang, Senin. 

Ia mengatakan dunia peternakan membutuhkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada produksi, melainkan juga pada efisiensi pemanfaatan sumber daya serta peningkatan nilai tambah bahan lokal.

Hal tersebut, ujar dia, tidak terlepas dari pembangunan peternakan yang terus menghadapi tantangan efisiensi dan keberlanjutan karena  kebutuhan terhadap ternak terus meningkat. Sementara, di sisi lain ketersediaan bahan pakan konvensional semakin terbatas dan mahal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, eksplorasi pakan menjadi salah satu hal yang relevan sebab bahan-bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat dikaji ulang potensinya, baik sebagai sumber nutrien, bahan aditif, maupun sebagai komponen teknologi pakan. 

"Eksplorasi pakan juga memberi ruang bagi pengembangan inovasi yang sesuai dengan karakteristik sumber daya lokal Indonesia," kata dia. 

Ia  telah melakukan sejumlah eksplorasi pakan di antaranya pengembangan teknologi mikroenkapsulasi minyak ikan menggunakan bahan penyalut alternatif berbasis bahan pakan lokal yakni tepung daging dan tulang, dedak padi, dedak gandum, bungkil kedelai serta bungkil kelapa untuk menggantikan bahan penyalut komersial yang mahal seperti isolat protein kedelai, gelatin, gum arab dan maltodekstrin tanpa mengorbankan kualitas produk. 

"Hasil penelitian menunjukkan formulasi tertentu mampu menghasilkan mikrokapsul minyak ikan dengan efisiensi enkapsulasi yang baik," jelas dia.

Produk itu telah diaplikasikan dalam ransum ayam petelur, puyuh petelur serta ayam pedaging dengan hasil berupa peningkatan kandungan asam lemak omega-3, EPA dan DHA pada produk ternak. 

Selain itu, ia juga telah mengeksplorasi tanaman herbal sebagai bahan tambahan alami pakan ternak pada unggas di antaranya daun mimba, daun mindi, daun jambu biji, daun salam, daun sirsak, kunyit enkapsulasi, daun belimbing wuluh, daun afrika, kulit manggis, daun kersen, daun kelor, kulit bawang merah dan kulit bawang putih. 

Terakhir, terdapat pula eksplorasi maggot black soldier fly sebagai sumber protein, minyak dan kitosan sebagai pakan ternak alternatif di mana produk akhir berupa tepung maggot telah diaplikasikan pada unggas. 

"Sementara fraksi minyak dan kitosannya juga tengah dikembangkan," tambahnya.

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.