Bongkar Strategi Kemenperin: Cetak Wirausaha Baru dari Kantong Kemiskinan Ekstrem

Senin, 27 Apr 2026, 19:02 WIB

JAKARTA— Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat penumbuhan wirausaha industri baru dengan memperkuat sektor industri kecil dan menengah (IKM). Fokusnya diarahkan ke masyarakat miskin dan miskin ekstrem, sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.

Sebagai wujud nyata, Kemenperin menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pangan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 14–16 April 2026. Program ini menitikberatkan pada penguatan manajerial, pengembangan produk, serta perluasan akses pasar bagi pelaku IKM.

Ket. Foto: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Reni Yanita (kanan) meninjau IKM Pangan Olahan Jamur Tiram di Kawasan Transmigrasi Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan beberapa waktu lalu — Sumber: Antara

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemerintah terus memperkuat program pembinaan, fasilitasi, dan pendampingan teknis agar IKM siap menghadapi pasar yang makin kompetitif. Sinergi lintas kementerian juga diperkuat untuk membangun ekosistem industri yang berkelanjutan, berdaya saing, sekaligus mencetak wirausaha baru dari kelompok rentan.

“Pemerintah berkomitmen memastikan setiap program penumbuhan wirausaha baru industri berjalan tepat sasaran melalui pemanfaatan data yang akurat dan terintegrasi, sehingga mampu mendorong lahirnya wirausaha baru yang mandiri, khususnya bagi masyarakat miskin dan miskin ekstrem,” kata Menperin di Jakarta, Senin (27/4).

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyebut Bimtek ini menjadi tahap penting untuk menjamin keberlanjutan usaha wirausaha baru. “Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga mengembangkan usahanya secara berkelanjutan sehingga memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Reni.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan IKM mendominasi 99,79% dari total sekitar 4,4 juta unit usaha industri di Indonesia. Sektor ini menyerap 65,52% dari total 20,26 juta tenaga kerja industri nasional. Kontribusi IKM terhadap output industri mencapai 21,01% dan menyumbang 3,56% terhadap Produk Domestik Bruto nasional.

“Data tersebut menunjukkan bahwa sektor IKM merupakan tulang punggung bagi industri nasional yang memiliki peran penting dalam penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan,” tambah Reni.

Menurut Reni, penguatan wirausaha industri kecil adalah bagian integral dari pembangunan industri nasional yang inklusif dan berkelanjutan. IKM punya peran strategis memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendukung pengentasan kemiskinan. Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku IKM jadi kunci agar mereka mandiri dan berdaya saing.

Sekretaris Ditjen IKMA Yedi Sabaryadi menyampaikan, Bimtek selama tiga hari itu diikuti 25 peserta. Materi yang diberikan meliputi praktik pembukuan sederhana, pemahaman kekayaan intelektual, pengembangan desain merek dan kemasan, serta pelatihan digital marketing yang mencakup pembuatan akun e-commerce dan konten promosi.

Peserta juga mendapat pendampingan dari tenaga ahli dan instruktur berpengalaman di bidang kewirausahaan serta teknis industri kecil. Kemenperin turut memberi dukungan fasilitas berupa starter kit, sertifikat, dan bantuan operasional untuk mendukung keberlanjutan usaha.

Melalui kegiatan ini, Kemenperin berharap pelaku wirausaha industri kecil olahan pangan di Sleman bisa tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri, berdaya saing, dan memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.