Pensiun dari Sepak Bola, Aaron Ramsey Hadapi Tantangan Baru di London Marathon

Minggu, 26 Apr 2026, 06:00 WIB

LONDON — Ikon sepak bola Wales, Aaron Ramsey, mungkin telah resmi gantung sepatu awal bulan ini, namun semangatnya untuk berkompetisi belum padam. Pada hari Minggu (26/4), mantan gelandang Arsenal dan Juventus itu akan kembali “bertanding”, kali ini di lintasan lari London Marathon, demi tujuan mulia.

Di usia 35 tahun, Ramsey akan ambil bagian dalam ajang maraton bergengsi tersebut untuk menggalang dana bagi organisasi amal It's Never You, yang didirikan oleh sahabatnya, Ceri dan Frances Menai-Davis.

Ket. Foto: Aaron Ramsey. — Sumber: AFP

Organisasi tersebut lahir dari tragedi mendalam. Putra mereka, Hugh, meninggal dunia pada usia enam tahun akibat kanker langka, rhabdomyosarcoma, pada 18 September 2021. Kedekatan emosional Ramsey dengan keluarga ini menjadi alasan kuat di balik partisipasinya.

“Sebagai sebuah kegiatan amal, ini sangat dekat dengan hati saya,” ujar Ramsey kepada BBC Wales. “Saya mengenal Ceri dan Fran serta keluarga mereka. Saya juga mengenal Hugh dengan sangat baik. Anak sulung saya, Sonny, seusia dengannya dan mereka sering bermain bersama.”

Ramsey, yang mencatat 86 caps bersama tim nasional Wales dan menjadi bagian penting skuad yang menembus semifinal Piala Eropa 2016, mengaku terinspirasi oleh keteguhan keluarga Menai-Davis.

“Saya tidak bisa membayangkan apa yang mereka alami, tetapi mereka benar-benar menjadi inspirasi bagi saya, keluarga saya, dan banyak orang lainnya,” lanjutnya.

Dalam maraton ini, Ramsey akan berlari berdampingan dengan Ceri, yang telah melakukan berbagai aksi simbolis untuk mengenang putranya. Ceri akan membawa sepatu milik Hugh, yang dikenakan saat pertama kali dirawat di rumah sakit, di pundaknya sepanjang lomba. Ia juga akan menuliskan nama 500 anak yang tengah berjuang melawan penyakit serius di punggungnya.

“Mereka telah melakukan pekerjaan luar biasa sejauh ini, dan saya tahu ini baru permulaan,” kata Ramsey. “Melihat tekad dan semangat mereka untuk membuat perbedaan atas nama Hugh sangat menginspirasi.”

Setelah pensiun dari sepak bola profesional, Ramsey merasa memiliki lebih banyak waktu untuk terlibat dalam kegiatan sosial seperti ini.

“Sekarang saya sudah pensiun, saya punya lebih banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal seperti ini,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan berlatih untuk maraton bukan perkara mudah bagi mantan pesepak bola tersebut.

“Latihannya cukup berat, terutama saat hujan turun, kondisi basah dan berangin. Terkadang terasa sangat sepi,” katanya. “Tapi anehnya, saya justru menikmatinya, seperti kembali merasakan perjuangan dari nol.”

Bagi Ceri, setiap langkah dalam maraton adalah simbol cinta dan kehilangan. Ia sebelumnya juga pernah berlari di Paris dengan membawa sepatu Hugh, bahkan sempat membawa ransel seberat 22 kilogram, setara dengan berat tubuh Hugh saat meninggal, sebagai gambaran betapa beratnya beban duka seorang orang tua.

“Di London nanti, Hugh akan bersama saya. Kami akan melewati garis finis bersama,” ucap Ceri penuh haru.

Kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa di balik dunia olahraga, terdapat kekuatan kemanusiaan yang mampu menggerakkan perubahan dan harapan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.