Sekutu-sekutu AS di Teluk dan Asia Meminta Kemudahan Pertukaran Mata Uang untuk Atasi Dampak Perang Iran

Kamis, 23 Apr 2026, 20:55 WIB

WASHINGTON DC – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent pada Rabu (22/4), mengatakan bahwa sejumlah sekutu di kawasan Teluk dan Asia telah meminta jalur pertukaran mata uang dari Amerika Serikat untuk membantu mengatasi guncangan energi dan dampak lain dari perang di Timur Tengah.

Bessent mengatakan kepada para senator AS bahwa baik AS maupun Uni Emirat Arab akan mendapat manfaat dari usulan jalur pertukaran mata uang yang menurut Presiden Donald Trump pada tanggal 21 April sedang dipertimbangkannya.

Ket. Foto: Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent — Sumber: Antara

Dia tidak menyebutkan nama negara-negara yang mengajukan permintaan tersebut, tetapi mengatakan dalam sidang anggaran sub-komite Alokasi Senat AS bahwa fasilitas semacam itu akan membantu menstabilkan pasar keuangan di tengah gejolak akibat perang Iran.

“Dan jalur pertukaran mata uang, baik dari Federal Reserve maupun Departemen Keuangan, bertujuan untuk menjaga ketertiban di pasar pendanaan dolar dan mencegah penjualan aset AS secara tidak teratur,” kata Bessent.

“Jadi, jalur pertukaran mata uang ini akan menguntungkan baik UEA maupun AS, dan seperti yang saya katakan, banyak negara lain, termasuk beberapa sekutu Asia kita, juga telah memintanya.”

Pada bulan Oktober, Departemen Keuangan AS memberikan Argentina pinjaman swap mata uang sebesar 20 miliar dolar AS untuk membantu menstabilkan peso negara tersebut selama periode pemilihan yang penuh gejolak yang membantu memperkuat posisi partai Presiden Javier Milei.

Pinjaman swap tersebut, yang didukung oleh Dana Stabilisasi Nilai Tukar sebesar 219 miliar dolar AS  milik Departemen Keuangan, memberi Argentina jaring pengaman berupa dolar yang dapat digunakan bank sentral untuk membantu menopang nilai peso dan mencegah devaluasi menjelang pemilu. Pinjaman tersebut telah dilunasi.

Permintaan Minyak Russia

Bessent juga mengatakan bahwa ia memperpanjang keringanan sanksi terhadap minyak Rusia yang diangkut melalui laut selama 30 hari lagi setelah adanya permintaan dari sejumlah negara yang paling rentan terhadap kekurangan minyak dari Selat Hormuz yang tertutup.

Permintaan tersebut muncul selama pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia pekan lalu, katanya.

Tindakan tersebut membatalkan komentar sebelumnya pekan lalu bahwa ia tidak akan memperbarui pengecualian sanksi yang akan berakhir. Pengecualian terpisah yang memungkinkan negara-negara untuk membeli minyak Iran yang terdampar di laut berakhir pada 19 April.

Bessent mengatakan bahwa perkiraan yang menyebutkan Iran telah memperoleh lebih dari 14 miliar dolar AS  dari bantuan tersebut adalah "mitos", tetapi ia tidak memberikan angka alternatif.

Menurutnya, kedua pengecualian tersebut memungkinkan Departemen Keuangan untuk memasok pasar dengan sekitar 250 juta barel minyak yang disimpan dalam kapal tanker, sehingga membantu menurunkan harga.

Perekonomian Asia khususnya telah berjuang mengatasi kekurangan pasokan minyak fisik dari kawasan Teluk sejak awal Maret, setelah AS dan Israel melancarkan serangan.

Dia mengatakan bahwa untuk harga minyak acuan sebesar 100 dolar AS  per barel, “jika kita tidak melakukan pelonggaran sanksi itu, harganya mungkin berada di angka 150” . SB/ST

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.