Pasar Global Dikuasai Kompetitor, RI Kalah Lincah

Kamis, 23 Apr 2026, 23:59 WIB

JAKARTA – Penetrasi pasar RI di pasar global lemah. Pelaku usaha Indonesia masih cenderung ke pasar-pasar yang sudah mapan atau tradisional, tidak terlalu berminat mencari pasar baru seperti yang dilakukan Tiongkok.

Itu pula yang membuat RI kalah bersaing dalam menarik investor luar. Ditambah kompleksitas persoalan di dalam negeri yang membuat Indonesia kalah dibanding Vientam dalam hal menarik ivestor asing.

Ket. Foto: Ilustrasi - Aktivitas bongkar muat kontainer di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra

Fenomena ini diungkapkan mantan Duta Besar Indonesia untuk Etiopia merangkap Republik Jibuti dan Uni Afrika di Addis Ababa Dr. (H.C.) Al Busyra Basnur.

Al Busyra yang saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok menuturkan hal itu menjadi salah satu kendala mengapai RI kurang penetratif di pasar global termasuk dalam menarik mosal dari luar negeri

"Imbasnya Indonesia kalah bersaing dengan negara lain dalam menarik perdagangan dan investasi asing,"ucapnya dalam diskusi di sela-sela Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh PT Jababeka Tbk dan Silk Road Group Ltd di Jakarta, Kamis (23/4).

RI terangnya minimnya promosi. Dia menyebut Indonesia hanya mengandalkan Trade Expo sebagai ajang promosi tahunan terbesar, sementara negara lain seperti Tiongkok gencar melakukan promosi tidak hanya di ibu kota, tetapi juga di berbagai daerah dan provinsi.

“Kalau kita lihat di negara-negara lain, termasuk Tiongkok, promosinya luar biasa. Dan itu tidak hanya di Beijing, tetapi juga di daerah-daerah, provinsi luar biasa, banyak,” ujarnya.

Kendala kedua datang dari pelaku usaha dalam negeri. Ia mengungkapkan, pengusaha Indonesia cenderung hanya mencari pasar yang sudah mapan dan enggan menjajaki pasar baru seperti Afrika.

“Saya dua kali membawa delegasi Afrika ke Serpong, BSD, untuk promosi kerja sama Indonesia-Afrika. Responnya (pengusaha RI) jujur saja, selama ini mendengar nama Afrika saja sudah lemas,” katanya.

Padahal, kata dia, Afrika memiliki 54 negara dengan potensi ekonomi besar. Dia membandingkan dengan Tiongkok yang justru menguasai sumber ekonomi, perdagangan, hingga infrastruktur di Afrika, bahkan memutihkan utang negara-negara miskin di benua tersebut.

“Kembali lagi, sekarang kalau kita bicara Afrika, China sangat menguasai,” tegasnya.

Masalah ketiga adalah regulasi yang sering berubah dan tidak jelas. Ia menyebut ketidakpastian aturan menjadi penghalang utama bagi investor asing yang ingin masuk ke Indonesia.

“Rule and regulations di Indonesia itu sering di-update. Kalau bahasa diplomasi di-update, bahasa ininya pikir jalannya berubah-ubah. Sekarang tambahannya ‘nggak jelas’,” ungkapnya.

Ia mencontohkan Vietnam yang kini menjadi primadona investasi asing karena regulasinya dianggap lebih jelas dan seksi bagi pelaku usaha.

“Orang akan melihat tempat lain. Lihat apa yang terjadi di Vietnam. Padahal baru kemarin kita sama-sama tahu Vietnam itu bagaimana, dan kapan dia membangun,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti kurangnya informasi yang lengkap dan terbarui mengenai peluang yang ada di Indonesia sebagai faktor penghambat lainnya.

Masih Menarik

Setyono Djuandi Darmono selaku founder and chairman PT Jababeka Tbk ketika ditanyai kenapa Silk Road Group Ltd, perusahaan multinasional masih tertarik datang ke Indonesia, menjelaskan RI memang masih memiliki daya tarik sendiri di pasar global.

Hal itu dipaparkannya merespon Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang kerap disebut salah satu tertinggi di ASEAN l. Menurutnya, membandingkan ICOR Indonesia dengan negara kecil seperti Singapura atau Thailand tidak sebanding.

“ICOR kita jangan dihitung untuk seluruh Indonesia. Enggak sebanding dong, ICOR 8 juta kilometer persegi dibanding ICOR 500-600 kilometer persegi. Ya pasti beda,” ujar Darmono.

Ia menjelaskan, Singapura hanya seluas 600 kilometer persegi, sementara Indonesia mencapai 8 juta kilometer persegi termasuk wilayah laut. Kondisi geografis yang terdiri dari ribuan pulau, keberagaman etnis, serta tantangan pendidikan membuat pembangunan Indonesia membutuhkan waktu dan pendekatan berbeda.

“Untuk itu membangun Indonesia kita mesti sabar. Karena terkunci banyak etnis, bedanya satu dengan lain, masalah pendidikan, pemahaman,” katanya.

Darmono mencontohkan pembangunan kawasan industri Cikarang sebagai solusi. Ia menyebut Cikarang dibangun dengan meniru keunggulan Singapura, yaitu kepastian hukum, keamanan, dan infrastruktur lengkap. Ketiga faktor itu ia sebut sebagai rumus dasar: certainty of law, security, and convenience.

“Cikarang mulai dari 500 hektar saja. ICOR-nya coba dihitung, lebih tinggi dari Singapura! 500 hektar kita jual dalam 3 tahun. Sekarang sudah 5.600 hektar dan mempengaruhi seluruh Bekasi, bahkan Indonesia,” jelasnya.

Kini kawasan itu berkembang mendekati 200 kilometer persegi, hampir setengah luas Jakarta. Darmono membandingkannya dengan Shenzhen yang berkembang cepat karena konsepnya serupa dengan Batam.

Ia menegaskan ICOR hanya satu dari banyak indeks. Indikator lain seperti peningkatan melek huruf dan jumlah universitas juga perlu dilihat.

“2% penduduk kita tahun ’45 yang bisa bahasa Indonesia, hari ini semua bisa. Itu pakai ICOR ngitungnya? Bukan ICOR. Jadi kita jangan terperosok cuma satu parameter,” tegasnya.

Darmono juga menekankan pentingnya kritik yang disertai solusi, bukan sekadar menyoroti kekurangan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.