Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sejarah Keberagaman Ibu Kota Sejak Kolonial

📅 Rabu, 22 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sejarah Keberagaman Ibu Kota Sejak Kolonial Doc: ANTARA/HO-Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.
Ket. Salah satu adegan dalam Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 berjudul “Kembang Turangga Jati” yang diadakan Sabtu (18/4)

JAKARTA – Ibu Kota Jakarta sudah terkenal lama sejak era kolonial untuk sisi keberagaman. Maka bagi Pemerintah Provinsi Jakarta, kebudayaan Sunda merupakan salah satu unsur penting dalam keberagaman budaya Jakarta.

Sejarah panjang perjalanan masyarakat dari Jawa Barat ke Batavia sejak masa kolonial telah membawa kebudayaan Sunda ke Jakarta. “Masyarakat Sunda datang untuk bekerja dan menetap. Mereka membawa bahasa, tradisi, dan kesenian. Kemudian, budaya Sunda tumbuh dan beradaptasi dengan budaya Betawi,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, Selasa.

Menurut Miftah, sejarah panjang dan keberlanjutan yang selalu terjaga, membuat budaya Sunda di Jakarta terus hidup, tumbuh, dan berkembang sebagai bagian budaya Kota Jakarta hingga saat ini. Sebagai kota dengan lebih dari 11 juta penduduk dari berbagai daerah, lanjut dia, Jakarta menjadi tempat bertemunya beragam budaya dan kesenian yang dibawa oleh para pendatang.

Hal ini membuat berbagai bentuk kesenian tumbuh dan berkembang di Jakarta, salah satunya dari Sunda. Karena itu, Gedung Kesenian Miss Tjitjih hadir dan terus dikelola dengan baik untuk mewakili masyarakat urban Sunda agar terus berkarya dan menghidupkan ekosistem berkesenian di Jakarta.

Adapun penamaan Gedung Kesenian Miss Tjitjih diambil dari nama seorang pemain teater asal Kota Sumedang, Jawa Barat bernama Nyi Tjitjih. Saat berusia 18 tahun, dia bergabung dengan Grup Opera Valencia, kelompok sandiwara keliling asal Jawa Timur pimpinan Sayyed Aboebakar Bafaqih.

Group Opera Valencia yang kemudian berubah nama menjadi Sandiwara Miss Tjitjih kemudian hijrah ke Jakarta tahun 1928. Kemudian, pada tahun 1951, Sandiwara Miss Tjitjih mendapat tempat di Jalan Kramat Raya Nomor 43 Jakarta Pusat.

Di masa itu, kelompok teater itu mencapai puncak keemasan. Hampir setiap hari Sandiwara Miss Tjitjih melakukan pementasan dan menarik minat penonton dari berbagai daerah di luar Jakarta.

Sepeninggal Miss Tjitjih dan Sayyed, kelompok teater ini sempat berpindah tempat. Harun Bafaqih, satu-satunya anak Abu Bakar Bafaqih yang mempunyai jiwa seni memutuskan untuk meneruskan jejak ayahnya.

Dia memulai kembali Sandiwara Miss Tjitjih dengan membangun sebuah tempat di Jalan Stasiun Angke, Nomor 2 Jakarta Barat. Namun, pada tahun 1987, tempat itu tergusur. Setelah kelompok itu membentuk yayasan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928, Pemerintah Provinsi Jakarta membangun Gedung Kesenian Miss Tjitjih di daerah Cempaka Baru - Kemayoran, Jakarta Pusat. Ini sebagai tempat pertunjukan rutin Sandiwara Miss Tjitjih 1928.

Kini, gedung tersebut berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi Jakarta. Selain digunakan untuk tempat pementasan Sandiwara Miss Tjitjih 1928, Gedung Kesenian Miss Tjitjih juga kerap digunakan untuk latihan teater dan kegiatan seni budaya lainnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.