AS Memulai Latihan Perang Terbesar di Filipina

Selasa, 21 Apr 2026, 02:15 WIB

MANILA - Ribuan tentara Amerika Serikat (AS) dan Filipina, yang untuk pertama kalinya bergabung dengan kontingen pasukan Jepang dalam jumlah signifikan, pada Senin (20/4) memulai latihan militer tahunan di tengah terjadinya konflik di Timur Tengah.

Latihan perang ini akan menampilkan latihan tembak langsung di bagian utara Filipina yang menghadap Selat Taiwan, serta di sebuah provinsi di lepas Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang disengketakan, tempat Filipina dan Tiongkok telah terlibat dalam konfrontasi berulang kali.

Ket. Foto: Sejumlah anggota marinir AS bersiap untuk melaksanakan latihan perang di pangkalan AL di Kota San Antonio, Provinsi Zambales, Filipina, pada April tahun lalu. Pada Senin (20/4), AS dan Filipina memulai latihan militer tahunan Balikatan yang disebut-sebut sebagai latihan gabungan terbesar sepanjang sejarah. — Sumber: AFP/Ted ALJIBE

Dalam salah satu latihan, militer Jepang, yang menyumbangkan sekitar 1.400 personel, akan menggunakan misil jelajah Tipe 88 untuk menenggelamkan kapal penyapu ranjau era Perang Dunia II di lepas pantai utara Pulau Luzon.

Lebih dari 17.000 tentara, penerbang dan pelaut, ikut serta dalam latihan Balikatan selama 19 hari yang juga melibatkan kontingen pasukan dari Australia, New Zealand, Prancis, dan Kanada.

Latihan Balikatan berlangsung ketika Iran dan AS, bersama dengan Israel, mendekati akhir gencatan senjata dua pekan yang menghentikan perang Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan mendadak AS-Israel terhadap Iran.

"Terlepas dari tantangan di tempat lain di dunia, fokus AS pada Indo-Pasifik dan komitmen teguh kami kepada Filipina tetap tak tergoyahkan," kata Letnan Jenderal AS, Christian Wortman, pada upacara pembukaan pada Senin.

Tanpa memberikan angka pasti, Wortman, komandan Pasukan Ekspedisi Marinir AS, kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa sekitar 10.000 personel AS akan berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Kepala militer Filipina, Jenderal Romeo Brawner, menambahkan bahwa kepala Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Samuel Paparo, telah meyakinkannya pada saat pecahnya perang bahwa latihan gabungan Balikatan tahun ini akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah.

Di antara senjata canggih yang diperkirakan akan digunakan adalah sistem misil Typhon buatan AS yang telah berada di kepulauan tersebut sejak pasukan AS yang berkunjung meninggalkannya di sana pada tahun 2024, yang memicu kemarahan dari Beijing.

Meskipun militer AS dan Filipina bersikeras bahwa tidak akan ada latihan yang berlangsung di dekat Taiwan, latihan pertahanan pantai dijadwalkan akan dilakukan di gugusan Pulau Batanes paling utara Filipina, kurang dari 200 kilometer dari pantai selatan Taiwan.

Kecaman Beijing

Sementara itu Tiongkok telah mengecam latihan gabungan tersebut dengan mengatakan bahwa AS, Jepang dan Filipina, telah bermain api.

"Yang paling dibutuhkan kawasan Asia-Pasifik adalah perdamaian dan ketenangan, dan yang paling tidak dibutuhkan adalah masuknya kekuatan eksternal untuk menabur perpecahan dan konfrontasi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam sebuah konferensi pers.

Guo pun mengatakan bahwa kerja sama militer antar negara tidak boleh merusak saling pengertian dan kepercayaan di antara negara-negara di kawasan, mengganggu perdamaian dan stabilitas regional, diarahkan terhadap pihak ketiga, atau merugikan kepentingan mereka.

"Kami ingin mengingatkan negara-negara terkait bahwa mengikat diri mereka sendiri secara membabi buta atas nama keamanan hanya akan sama dengan bermain api, yang pada akhirnya akan berbalik menyerang mereka sendiri," imbuh dia.

Pada November lalu, Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, memperingatkan bahwa mengingat kedekatan negaranya dengan Taiwan, maka jika terjadi perang atas Taiwan akan menyeret Filipina dengan paksa ke dalam konflik.

Presiden Marcos Jr diketahui telah membangun hubungan keamanan dengan negara-negara Barat untuk mencegah Tiongkok. Selama dua tahun terakhir, Manila juga telah menandatangani perjanjian kunjungan pasukan atau perjanjian serupa dengan New Zealand, Kanada, dan Prancis untuk memfasilitasi terlaksananya latihan militer gabungan. AFP/I-1

  • balikatan

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.